Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Durasi tidur, rekomendasi, polemik dan solusinya

Sabtu, 13 Juli 2019 oleh Administrator

Durasi tidur, rekomendasi, polemik dan solusinya

oleh Sumarno Adi Subrata*

 

The American Academy of Sleep Medicine (AASM) dan Sleep Research Society (SRS) memberikan rekomendasi durasi tidur dalam sehari bagi orang dewasa (18 tahun – 64 tahun) adalah minimal 7 – 9 jam per hari (Watson et al., 2015). The National Sleep Foundation (NSF) memberikan penjelasan yang sama, namun dengan penambahan bahwa rekomendasi tidur 7 – 8 jam perhari adalah untuk warga senior atau lansia ( > 65 tahun) (Hirshkowitz et al., 2015).

 

Namun, apakah rekomendasi di atas adalah bersifat mutlak? sehingga mereka yang berada dalam rentang umur tersebut harus memenuhinya?

 

Sebuah penelitian terbaru menyanggah bahwa:

There is no magic number for all in terms of the ideal sleep amount to obtain each night. Sleep duration recommendations are meant for public health guidance but need to be individualized to each patient in the clinic. Sleep needs are determined by a complex set of factors, including our genetic makeup, environmental and behavioral factors” (Chaput, Dutil & Sampasa-Kanyinga, 2018)

 

Terjemahan:

Tidak ada angka ajaib untuk jumlah waktu tidur yang ideal dalam setiap malam. Rekomendasi lama waktu tidur ditujukan hanya untuk panduan kesehatan secara umum, yang masih perlu dispesifikkan bagi setiap orang. Kebutuhan tidur ditentukan oleh beberapa faktor di antaranya genetik, lingkungan dan perilaku.

 

Maksudnya, tidak ada rekomendasi khusus terkait durasi tidur dalam sehari. Adapun anjuran tidur dalam jumlah tertentu sebagaimana yang direkomendasikan AASM, SRS, dan NSF adalah panduan umum, yang tentunya masih perlu dispesifikkan lagi. Karena menentukan atau memberikan anjuran durasi tidur per hari bagi masing-masing orang membutuhkan beberapa pertimbangan khusus yaitu genetik, lingkungan dan varian perilaku atau aktifitas sehari-sehari.

 

Kemudian, bagi mereka yang memiliki pekerjaan tidak dalam bentuk shift (misalnya rentang kerja dari jam 8 pagi – 4 sore), maka masih dapat mengusahakan untuk tidur dalam waktu minimal 7 jam per malam, meski juga tidak bisa selalu dapat diterapkan setiap hari. Karena mengimplementasikan hal tersebut bukanlah sesuatu yang mudah, apalagi jika memiliki kebiasaan nglembur kerjaan dan lain sebagainya. Urusan tidur termasuk hal natural yang tidak bisa dipaksakan, maksudnya kalau belum ngantuk ya kita ngga akan pernah bisa tidur. Jadi, ngantuk adalah syarat untuk bisa tidur. Sementara itu di lain sisi, untuk mendapatkan “ngantuk” butuh syarat lagi, misalnya dalam konteks fisiologi normal, kita perlu merasa lelah atau capek terlebih dahulu sepanjang hari.

 

Permasalahan akan semakin kompleks bagi mereka yang memiliki pekerjaan yang bersifat shift, misalnya pekerja pabrik, pegawai Rumah Sakit, staff keamanan atau satpam. Mereka akan mengalami kesulitan untuk memenuhi rekomendasi tidur minimal 7 jam per malam. Meski mereka dapat “membayar hutang tidur” di pagi harinya, namun kualitas tidurnya akan sangat berbeda dari tidur malam. Berkaitan dengan hal tersebut, terdapat artikel menarik dari NSF tentang, “Mana yang lebih utama antara kuantitas tidur dan kualitas tidur?”

 

https://www.sleep.org/articles/quality-quantity-matters-sleep/

 

Namun, apabila dalam sebuah kondisi mengharuskan kita untuk tidur < 7 jam per malam, apalagi jika ada tuntutan pekerjaan atau tugas kuliah (bagi mahasiswa, misalnya), maka disarankan untuk mengimbanginya dengan menerapkan healthy lifestyle untuk mencegah berbagai gangguan kesehatan jangka panjang yang dapat ditimbulkan karena kurang tidur. Misalnya, diabetes, hipertensi, penyakit jantung, stroke, depresi, gangguan imunitas dan gangguan mempersepsikan nyeri (Watson et al., 2015).

 

Healthy lifestyle” yang dimaksud adalah rutin olah raga, mengkonsumsi makanan yang bergizi tinggi, menjaga berat badan agar tetap ideal, serta memiliki kemampuan yang baik dalam me-manajemen atmosfer pikiran sehingga akan tidak mudah ter-pressure dari berbagai stimulasi sekitar yang tidak nyaman.

 

Kesimpulannya, apabila kita dapat mengikuti rekomendasi AASM, SRS, dan NSF di atas yang berkaitan durasi tidur adalah sangat baik. Namun jika tidak atau belum bisa, maka dapat diimbangi dengan menerapkan healthy lifestyle sebagaimana yang telah disampaikan.

 

Menggapai hidup sehat, terkadang diawali dari seberapa kualitas tidur kita dalam setiap hari”.

 

 

Referensi:

Chaput, J. P., Dutil, C., & Sampasa-Kanyinga, H. (2018). Sleeping hours: What is the ideal number and how does age impact this?. Nature and Science of Sleep10, 421–430.

 

Hirshkowitz, M., Whiton, K., Albert, S. M., Alessi, C., Bruni, O., DonCarlos, L., . . . Ware, J. C. (2015). National Sleep Foundation’s updated sleep duration recommendations: Final report. Sleep Health, 1(4), 233-243. 

 

Watson, N. F., Badr, M. S., Belenky, G., Bliwise, D. L., Buxton, O. M., Buysse, D., … Tasali, E. (2015). Recommended Amount of Sleep for a Healthy Adult: A Joint Consensus Statement of the American Academy of Sleep Medicine and Sleep Research Society. Sleep38(6), 843–844.

 

 

*Doctoral Candidate in Nursing, International Program, Mahidol University, Thailand

*Awardee Beasiswa LPDP Kementerian Keuangan RI Tahun 2016, Program Doktor Luar Negeri

*Dosen Keperawatan, FIKES UMMagelang

 

Emails: [email protected] / [email protected]

ORCID: https://orcid.org/0000-0003-2156-3374