Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Di Indonesia: Semakin gemuk, semakin bahagia

Selasa, 04 Juni 2019 oleh Administrator

Di Indonesia: Semakin gemuk, semakin bahagia

Oleh Sumarno Adi Subrata*

 

Menarik untuk disimak sebuah penelitian karya Doktor Kitae Sohn, dari Departemen Ekonomi, Konkuk University, Korea Selatan, yang dipublikasikan tahun 2016 di salah satu high-standard journal, yaitu Quality of Life Research. Dalam abstraknya, beliau menyampaikan:

 

We considered about 12,000 respondents aged 15+ for each gender obtained from the Indonesian Family Life Survey 2007. The relationship between obesity and happiness was positive in Indonesia, and this relationship was robust.

 

Terjemahan:

Kami mempertimbangkan (maksudnya, melibatkan) sejumlah 12.000 orang yang berumur di atas 15 tahun dari berbagai jenis kelamin dari data Indonesian Family Life Survey di tahun 2007. Kami menemukan bahwa terdapat hubungan yang positif dan kuat antara obesitas dan kebahagiaan.

 

Implementasi topik:

 

Referensi terbaru menyampaikan bahwa seorang dikatakan obesity (gemuk) jika angka hasil hitung Indeks Massa Tubuhnya:  > 25 kg/m2 (Misra & Dhurandhar, 2019).

 

Hasil penelitian Dr. Sohn menunjukkan bahwa di Indonesia, seorang yang semakin gemuk, maka ia akan semakin bahagia dan lebih menikmati hidup daripada yang tidak gemuk. Beliau juga menyampaikan bahwa hasil penelitian ini cukup kontroversi jika dibandingkan dengan hasil penelitian-penelitian lainnya, dimana kegemukan justru berkaitan erat dengan menurunnya kebahagiaan atau kualitas hidup. But that is okay.

 

Sudah tidak menjadi hal yang baru lagi bahwa kegemukan dapat menyebabkan berbagai penyakit misalnya diabetes, penyakit jantung, obstructive sleep apnea (gangguan nafas saat tidur), dan kanker (Fruh, 2017). Ketika seseorang gemuk, semestinya ia merasa dirinya “terancam” dari penyakit-penyakit tersebut, dan secara rasional, berpotensi dapat menurunkan kebahagiaan hidupnya. Namun kenapa dalam sebuah populasi, kegemukan kok justru memiliki korelasi dengan kebahagiaan? Jelas, hal ini salah satunya disebabkan oleh belief (keyakinan) tentang obesitas dan kebahagiaan. Permasalahan ini juga telah disinggung oleh Dr. Sohn dalam sesi diskusi di artikelnya.

 

Oleh karena itu, berawal dari permasalahan di atas, akan menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi mereka yang akan serius combat the obesity (memerangi obesitas) di Indonesia, agar minimal memiliki kemampuan komunikasi yang efektif dan persuasif, terutama dalam konteks “how to change people’s mind” (bagaimana merubah pola pikir seseorang). Karena cara terbaik untuk merubah belief orang lain ya dengan komunikasi itu sendiri. Terdapat artikel dari Dr. Christopher Dwyer yang menyampaikan tentang beberapa strategi untuk merubah pola pikir (termasuk juga belief). Silahkan bisa dibaca secara intensif di link ini:

 

https://www.psychologytoday.com/intl/blog/thoughts-thinking/201804/how-change-people-s-minds

 

Kesimpulannya, meskipun di Indonesia kegemukan berhubungan erat dengan kebahagiaan, tidak serta merta hal tersebut otomatis menjadi sesuatu yang lumrah dan dibiarkan begitu saja. Karena sudah terdapat ratusan penelitian yang menjelaskan akan efek jangka panjang dari kegemukan, yaitu akan semakin membuka lebar peluang berbagai macam penyakit. Namun, mengatasi kegemukan tidaklah sesimpel membalikkan telapak tangan. Apalagi jika permasalahan inti orang yang gemuk terletak ada pada belief-nya, dimana sebagian orang mengatakan “meskipun gemuk gini, aku tetep sehat kok, ngga kenapa-kenapa, bahagia, everything is okay”. Belum lagi yang berkaitan dengan lemahnya komitmen dan motivasi untuk hidup sehat, serta kurangnya dukungan dari orang-orang terdekat dan lain sebagainya.

 

Referensi:

 

Fruh, S. M. (2017). Obesity: Risk factors, complications, and strategies for sustainable long-term weight management. Journal of the American Association of Nurse Practitioners29(S1), S3–S14. Doi:10.1002/2327-6924.12510.

 

Misra, A., & Dhurandhar, N. V. (2019). Current formula for calculating body mass index is applicable to Asian populations. Nutrition & diabetes9(1), 3. Doi:10.1038/s41387-018-0070-9.

 

Sohn, K. (2016). The fatter are happier in Indonesia. Quality of Life Research, 26, 393–402. Doi: 10.1007/s11136-016-1403-6.

 

 

*Doctoral Candidate in Nursing, International Program, Mahidol University, Thailand

*Awardee Beasiswa LPDP Kementerian Keuangan RI Tahun 2016, Program Doktor Luar Negeri

*Dosen Keperawatan, FIKES UMMagelang

 

Emails: [email protected] / [email protected]

ORCID: https://orcid.org/0000-0003-2156-3374