Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Manajemen berat badan: tantangan bagi para pejuang diet

Minggu, 09 Desember 2018 oleh Administrator

Manajemen berat badan: tantangan bagi para pejuang diet

oleh Sumarno Adi Subrata*

 

Dr. Connie L. Winik, salah satu doktor di bidang keperawatan yang sekaligus sebagai Letnan Kolonel di Angkatan Udara, San Antonio, Texas, United States of America dan Dr. Elizabeth Bonham, Associate Professor of Nursing di University of Southern Indiana, United States of America, memiliki publikasi yang sangat berkesan yaitu tentang "Weight management: A concept analysis": analisis konsep manajemen berat badan. Artikel mereka telah terbit di Nursing Forum, salah satu high-quality nursing journal, pada tahun 2018. Dalam sebagian isinya disampaikan bahwa: 

 

Strategies to develop successful weight management programs need to be multifaceted to have impact on this healthcare crisis. The critical attributes for weight management are dietary measures, physical activity, behavior modification, motivation, education, and lifelong changes. Unsuccessful weight management results in metabolic disorders and increased risk of mortality. Successful weight management practices include the prevention of weight gain, weight loss, and maintenance of ideal body weight.

 

Artinya:

Strategi-strategi untuk mengembangkan program manajemen berat badan yang berpotensi mendatangkan kesuksesan, membutuhkan pendekatan dari berbagai segi untuk memberikan pengaruh positif guna mengatasi krisis pelayanan kesehatan yang tengah terjadi saat ini. Beberapa atribut penting yang perlu diintegrasikan dalam manajemen berat badan adalah assessment pola makan diet, aktifitas fisik olah raga, modifikasi perilaku, motivasi, pendidikan penyuluhan kesehatan dan perubahan gaya hidup menuju yang lebih baik sepanjang hidup. Kegagalan manajemen berat badan dapat menyebabkan gangguan metabolik dan meningkatkan resiko kematian. Manajemen berat badan yang dapat dikatakan berhasil adalah ketika mampu mencegah peningkatan berat badan, menurunkan berat badan hingga normal atau ideal, dan menjaga agar berat badan tetap ideal.

 

-Selesai-

 

Implikasi dalam kehidupan sehari-hari:

 

Memiliki berat badan (BB) ideal adalah satu impian bagi semua orang, khususnya bagi mereka yang sedang mengalami problem dengan BB. Tidak sedikit dari mereka yang telah mencoba berbagai metode diet. Banyak yang berhasil, vice versa (sebaliknya) juga banyak yang benar-benar gagal, sehingga seolah-olah tidak ada gunanya diet. Sudah turun 5 kilogram (kg), tapi naik lagi 5 kg. Bahkan terkadang dapat bonus 3 kg lagi. Sebagian dari mereka stress (tertekan), hopeless (kehilangan harapan) dan mulai timbul rasa malas untuk mencoba lagi. Akhirnya, mereka semakin gemuk, gemuk, dan gemuk dari hari ke hari.

 

Kami meyakini bahwa “Terdapat banyak pilihan dalam hidup. Namun, apapun alasannya, seorang yang memilih menjadi gemuk telah memilih sesuatu yang tidak tepat dan juga tidak sehat”. Semakin seorang gemuk, maka semakin dekat pula ia kepada sejumlah gangguan metabolik dan psikis, misalnya penyakit jantung (Mandviwala, Khalid, & Deswal, 2016), kanker (Stone, McPherson, & Gail Darlington, 2018), diabetes tipe 2 (Leitner et al., 2017), stroke (Sun et al., 2017), depresi (Gibson-Smith et al., 2018), dan asma (Peters, Dixon, & Forno, 2018).

 

Dr. Winik dan Dr. Bonham merekomendasikan bahwa pendekatan komprehensif untuk menurunkan BB adalah dengan mengkombinasikan assessment pola makan [diet], aktifitas fisik [olah raga], modifikasi perilaku, motivasi, pendidikan [penyuluhan kesehatan] dan perubahan [gaya hidup menuju yang lebih baik] yang tentunya dilakukan sepanjang hidup.

 

Sebuah realita yang perlu untuk disadari bahwa menurunkan BB bukanlah pekerjaan yang ringan dan instant. Karena sama saja kita akan moving on dari gaya hidup lama, yang mungkin kita sudah nyaman selama bertahun-tahun, menuju ke gaya hidup baru, yang barangkali butuh waktu lama untuk adaptasi dan engaging di dalamnya.

 

Sekedar berbagi saja, kami pernah punya pengalaman memiliki BB hingga 100 kg sekitar tahun 2012 lalu. Setelah sekarang, 9 Desember 2018, mencapai berat badan 68 kg (BMI 22.45, tergolong “good weight” untuk seorang dengan tinggi badan 174 centimeter), pada akhirnya kami menyimpulkan bahwa salah satu penentu keberhasilan diet bukanlah pada metodenya, namun dari seberapa serius kita akan menjalani program diet tersebut. Se-efektif apapun metodenya, jika kita-nya main-main dan keseriusan kita hanya separo-separo, ya sampai kapanpun tidak akan pernah berhasil. Yang ada nanti malah terkena yoyo effect, yaitu turun dan naiknya BB sama saja jumlahnya. Kalau sudah seperti itu, apa gunanya kita bersusah-payah ngabisin waktu untuk njaga makan dan olah raga, jika ending BB-nya malah naik? Bahkan seringkali naiknya sangat dramatis dan signifikan. Rugi, itu sudah pasti.

 

Oleh karena itu, selama menjalani program penurunan BB tersebut, kami menyimpulkan setidaknya ada tiga tahapan yang perlu untuk ditempuh oleh para pejuang diet, di antaranya:

 

Pra program

 

Tahap ini diawali dengan melakukan evaluasi tentang berbagai faktor yang menyebabkan gemuk selama ini, apakah karena makanan, kurang tidur, stress, atau hal lain. Faktor ini setiap orang boleh jadi akan berbeda-beda, sehingga evaluasi ini mau ngga mau harus dilakukan se-spesifik mungkin. Catat temuannya, berusaha untuk selalu diingat-ingat, dan hindari atau kurangi faktor tersebut jika bentuknya makanan, misalnya.

 

Langkah selanjutnya yaitu mulai membangun dan menguatkan komitmen ke diri sendiri bahwa akan konsisten menjalani program diet hingga target benar-benar tercapai sesuai yang diharapkan. Jangan terburu-buru memulai program diet, jika memang belum siap dan komitmen masih lemah, karena potensi gagalnya akan tinggi. Tanamkan pola pikir bahwa: “menurunkan BB itu proses yang sangat menyenangkan”. Hal ini akan sangat berpengaruh, karena ketika kita tahu bahwa diet itu menyenangkan, maka kita akan merasa happy dan enjoy menjalaninya. Jelas, aspek ini akan membuka peluang keberhasilan untuk menurunkan BB.

 

Dalam tahap ini, kita bisa mempersiapkan caregiver yang siap mengawal dan men-support proses diet dari awal hingga target tercapai, misalnya isteri, suami, atau bestie (best friend). Sejumlah penelitian juga menyampaikan bahwa dukungan yang datang dari orang terdekat dapat mensukseskan program penurunan BB (Curtin et al., 2013; Karfopoulou, Anastasiou, Avgeraki, Kosmidis, & Yannakoulia, 2016; Pinelli, Brown, Herman, & Jaber, 2011; Wang, Pbert, & Lemon, 2014). Contoh mudahnya, jika kita punya beberapa teman yang juga sama-sama pingin diet, buat saja grup di WhatsApp, kemudian bisa sharing artikel atau saling support satu sama lain ketika ada yang mulai males-malesan.

 

Tahap berikutnya yaitu menyiapkan support system yang berasal dari media elektronik misalnya mendownload video-video tentang pengalaman diet yang berhasil, video panduan olah raga, dan video short course atau sejenis video kuliah tentang tips diet yang sehat. Juga penting untuk menyiapkan media nonverbal, misalnya artikel atau buku atau e-book panduan diet, yang tentunya berdasarkan high-quality research.

 

Jangan lupa untuk menyiapkan reward (hadiah) jika kita berhasil menurunkan BB. Dengan adanya reward akan lebih memotivasi untuk menjalani program diet.

 

Tahap terakhir ini yaitu tahap yang kami sebut sebagai tahap “bersiap-siap”. Di antaranya, pertama, bersiap-siap hijrah atau moving on dari pola makan yang biasanya menjadi tidak biasanya. Kedua, bersiap-siap untuk bersahabat dengan rasa lapar, karena umumnya seorang yang tengah diet akan lebih sering mengalami rasa lapar ketimbang sebelumnya. Yang terakhir, atau yang ketiga, bersiap-siap menahan godaan lingkungan khususnya yang berkaitan dengan makanan, yang berpotensi mengganggu proses diet itu sendiri, sehingga aspek ini perlu dikendalikan sebaik mungkin.

 

Intra program


Tahap ini adalah tahap inti dimana kami menerapkan prinsip “tambahi dan kurangi”. “Tambahi” asupan buah-buahan, protein, sayuran, dan air putih. “Kurangi” asupan karbohidrat, makanan asin, manis, dan minuman manis, bersoda. Kurangi yang dimaksud adalah kami tetap mengkonsumsi makanan dan minuman tersebut, hanya saja jumlahnya moderat (tidak banyak dan tidak sedikit). Karena pada dasarnya sangat sulit untuk dihindari, apalagi dalam momen tertentu misalnya acara kondangan, syukuran, dan lain sebagainya.

 

Kami teringat akan perjalanan David Beckham, eks striker tim sepakbola England, ke Malaysia tahun 2017 lalu. Ketika diwawancara tentang tips sehat berinteraksi dengan makanan, David menjawab:

 

“I love food, so there is nothing I really avoid, but I just do everything in moderation…” (https://www.thestar.com.my/news/nation/2017/09/23/living-and-eating-healthy-the-beckham-way/#QePfLvdWhOSOJjix.99).

 

Artinya:

Saya menyukai makanan, tidak ada yang benar-benar saya hindari [dari makanan tersebut], hanya saja, saya melakukan semuanya [yaitu makan] dalam porsi yang pertengahan”.

 

Di antara prinsip lain dalam program diet yang kami jalani adalah:

Jika kita gemuk, jangan pernah menyalahkan makanan, apapun makanannya. Sebaliknya, salahkan saja diri sendiri yang tidak bisa mengendalikan diri dari makanan tersebut. Karena menyalahkan makanan, tidak akan pernah membuat BB kita turun. Akan tetapi ketika kita salahkan diri sendiri yang juga diikuti evaluasi dan perubahan lifestyle, maka besar kemungkinan BB kita akan turun”.

 

Pada saat menjalani diet, tidak semestinya kita melakukannya dengan terlalu ketat setiap hari. Artinya, ada waktu-waktu tertentu dimana kita boleh mengkonsumsi makanan yang tadinya kita batasi. Hal ini sebagai antisipasi rasa bosan yang dapat menimbulkan stress, sehingga malah membuka peluang gagal diet atau minimal tidak akan mencapai penurunan badan yang signifikan (Trief, Cibula, Delahanty, & Weinstock, 2014).

 

Di samping itu, diet yang terlalu ketat juga kurang bagus bagi interaksi sosial sehari-hari. Misalnya, ketika diajak makan oleh teman atau rekan, terkadang tidak mau hanya gara-gara sedang diet. Padahal mengkonsumsi makanan tertentu pada jumlah yang awalnya dibatasi menjadi sedikit ditambah porsinya, tidak akan menaikkan berat badan secara signifikan. Jadi ketika diet, tidak perlu sebegitunya berpantangan terhadap makanan. Dan semestinya, diet yang kita jalani menjadikan interaksi kita dengan orang lain menjadi semakin baik, bukan malah sebaliknya.

 

Kemudian, olah raga juga menjadi bagian penting dalam tahap ini. Olah raga kardio semisal jogging sangat efektif untuk sekedar menurunkan BB (Hespanhol Junior, Pillay, van Mechelen, & Verhagen, 2015; Williams, 2013). The Centers for Disease Control and Prevention, United States of America merekomendasikan aktifitas fisik bagi orang dewasa sehat minimal dilakukan selama 150 menit per minggu (Hart, Benavidez, & Erickson, 2017). Olah raga ini juga berfungsi untuk  membuat wajah kita terlihat lebih segar dan menarik, serta mencegah supaya tidak terlihat pucat dengan sebab diet itu tadi.

 

Jika kita bagi 7 hari, maka idealnya dalam setiap hari kita meluangkan waktu untuk olah raga selama 21.4 menit. Sulitkah menerapkannya? Ya tergantung. Jika kita sungguh-sungguh mau diet, hal tersebut akan terasa mudah. Namun jika kita masih setengah hati mau diet, ya sulit. Pengalaman kami, aktifitas fisik berupa olah raga tidaklah selalu dilakukan di luar ruangan, karena ada sebagian kondisi dimana kami juga mengalami kesulitan menerapkannya, misalnya kondisi hujan. Alternatifnya, kami memilih berolah raga dalam ruangan misalnya mengikuti senam kardio via video di youtube sesuai target yang ingin kami capai. Menurut kami, hal tersebut lebih hemat daripada kami harus membeli treadmill yang bisa dibilang cukup mahal, belum lagi perawatannya jika rusak. Kami juga tergolong jarang pergi ke gym, sehingga pilihan joging dan olah raga di rumah adalah yang terbaik bagi kami. Adapun bagi orang lain, barangkali akan ada pilihan lain yang juga terbaik menurutnya.

 

Bagi yang ingin membentuk tubuh agar lebih menarik, juga tidak masalah jika disambi nge-gym. Jika masih beginner, baiknya dengan instruktur agar nanti tidak sembarangan memilih tool untuk olah raganya. Di sebagian tempat sudah menyediakan instruktur, namun dengan tambahan biaya. Yang terpenting, ketika badan kita sudah good looking, tidak perlu dipamer-pamerkan di sosial media. Entah itu otot tangannya, atau perut six packs-nya dan lain sebagainya. Menurut hemat kami, hal ini kurang bagus, tidak ada manfaatnya, dan justru dapat membangkitkan syahwat bagi orang lain.

 

Mengalami pasang surut semangat diet juga kami alami. Merasa malas, bosen, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, peran caregiver dan media yang tadi kita download sangat esensial untuk mengembalikan semangat tersebut.

 

Selama diet kami juga tidak mengkonsumsi produk herbal. Karena ada sebagian produk yang memiliki riwayat dapat mengakibatkan hepatotoksik (meracuni organ hati sehingga mengganggu metabolisme normal hati) sebagaimana yang pernah kami baca sebuah penelitian di tahun 2007 yang diterbitkan oleh Elsevier. Hanya saja produk tersebut tidak kami sampaikan di artikel ini, karena akan menjadi sensitif bagi yang tengah mengkonsumsinya. Rekomendasi kami, diet yang alami saja. Tidak perlu menggunakan produk herbal, apapun nama, merk, dan manfaatnya untuk menurunkan BB. Hal tersebut demi menghindari efek samping dari produk tersebut.

 

Aspek lain yang perlu dilakukan adalah tidur yang cukup misalnya 5 hingga 8 jam / hari. Gangguan jumlah waktu tidur dapat mengganggu metabolisme hormon yang mengontrol rasa lapar dan kenyang, sehingga berpotensi menaikkan berat badan. Beberapa penelitian juga menyampaikan bahwa lama waktu tidur memiliki peran dalam mensukseskan penurunan BB (Chaput & Tremblay, 2012; Nagai, Tomata, Watanabe, Kakizaki, & Tsuji, 2013; Yannakoulia et al., 2017)

 

Tahap berikutnya yaitu rutin nimbang BB. Beberapa penelitian menyarankan untuk menimbang BB setiap hari di pagi hari (setelah bangun tidur, BAB, BAK, misalnya) supaya pemantauannya lebih optimal (Linde, Jeffery, French, Pronk, & Boyle, 2005; Pacanowski & Levitsky, 2015). Jangan lupa untuk mengevaluasi lingkar pinggang atau perut. World Health Organization (2008) merekomendasikan bagi orang Asia agar minimal memiliki lingkar pinggang atau perut 90 centimeter (laki-laki) dan 80 centimeter (perempuan).

 

Terakhir dalam tahap ini yaitu sabar, jangan terburu-buru menuai hasil dan jangan gampang menyerah. Karena diet butuh waktu yang tidak sebentar. Bisa sebulan, dua bulan, setahun, dua tahun, dan seterusnya. Maka, sangat penting untuk melibatkan usaha berdoa yang konsisten. Apalagi jika kita seorang muslim, apapun hajat kita, sedang ingin diet misalnya, maka jangan lupa untuk senantiasa memohon pertolongan kepada Allah subhaanahu wa taala agar dimudahkan prosesnya. Agar lebih efektif, berdoalah di waktu-waktu yang mustajab. Kami pernah menulis tentang hal tersebut di link ini:

 

http://fikes.ummgl.ac.id/artikel-113-menjadikan-doa-sebagai-sebuah-solusi---.html

 

Pasca program

 

Setelah mencapai BB yang diharapkan, stabilkan gaya hidup tersebut. Jika dirasa menjadi semakin gemuk, evaluasi lagi sebagaimana yang telah dijelaskan di tahap pra program di atas. Kemudian ulangi lagi beberapa tahapan di intra program dan seterusnya.

 

Sebuah artikel terbaru menjelaskan bahwa dikatakan sukses penurunan berat badannya jika mampu menurunkan BB ≥10 % dari BB awal, dan penurunan tersebut stabil lebih dari 12 bulan dengan variasi naik dan turun BB sebanyak 3 % dari BB yang telah stabil tadi (Clamp, Hume, Lambert, & Kroff, 2018). Intinya, diet yang bagus itu santai prosesnya, akan tetapi memiliki progres dan target yang jelas. Dalam satu bulan dapat turun 3 kg saja itu sudah prestasi yang sangat keren.

 

Jika sudah berhasil menstabilkan BB, jangan lupa berikan reward kepada diri sendiri. Entah itu dengan membeli sesuatu yang kita sukai misalnya, baju, celana, sepatu, upgrade handphone, laptop, dan lain sebagainya. Atau rekreasi. Atau melakukan hal lain yang kita pandang sebagai bentuk hadiah yang terbaik. Tidak perlu mahal-mahal, asalkan sesuatu tersebut sudah cukup untuk membuat hati kita senang.

 

Terakhir, diet tidak melulu soal membatasi makanan dan olah raga saja. Namun ada hal lain yang harus kita persiapkan dan tempuh untuk mencapai penurunan BB yang signifikan.

 

Selamat berjuang!

 

Referensi:

Chaput, J.-P., & Tremblay, A. (2012). Adequate sleep to improve the treatment of obesity. CMAJ : Canadian Medical Association journal = journal de l Association medicale canadienne, 184(18), 1975-1976. doi:10.1503/cmaj.120876.

 

Clamp, L. D., Hume, D. J., Lambert, E. V., & Kroff, J. (2018). Successful and unsuccessful weight-loss maintainers: strategies to counteract metabolic compensation following weight loss. Journal of nutritional science, 7, e20-e20. doi:10.1017/jns.2018.11

 

Curtin, C., Bandini, L. G., Must, A., Gleason, J., Lividini, K., Phillips, S., . . . Fleming, R. K. (2013). Parent support improves weight loss in adolescents and young adults with Down syndrome. The Journal of pediatrics, 163(5), 1402-1408.e1401. doi:10.1016/j.jpeds.2013.06.081.

 

Geneva: World Health Organization. (2008). World Health Organization (WHO). Waist Circumference and Waist-Hip Ratio. Report of WHO Expert Consultation.

 

Gibson-Smith, D., Bot, M., Snijder, M., Nicolaou, M., Derks, E. M., Stronks, K., . . . Penninx, B. W. J. H. (2018). The relation between obesity and depressed mood in a multi-ethnic population. The HELIUS study. Social psychiatry and psychiatric epidemiology, 53(6), 629-638. doi:10.1007/s00127-018-1512-3.

 

Hart, P. D., Benavidez, G., & Erickson, J. (2017). Meeting Recommended Levels of Physical Activity in Relation to Preventive Health Behavior and Health Status Among Adults. Journal of preventive medicine and public health = Yebang Uihakhoe chi, 50(1), 10-17. doi:10.3961/jpmph.16.080.

 

Hespanhol Junior, L. C., Pillay, J. D., van Mechelen, W., & Verhagen, E. (2015). Meta-Analyses of the Effects of Habitual Running on Indices of Health in Physically Inactive Adults. Sports medicine (Auckland, N.Z.), 45(10), 1455-1468. doi:10.1007/s40279-015-0359-y.

 

Karfopoulou, E., Anastasiou, C. A., Avgeraki, E., Kosmidis, M. H., & Yannakoulia, M. (2016). The role of social support in weight loss maintenance: results from the MedWeight study. Journal of Behavioral Medicine, 39(3), 511-518. doi:10.1007/s10865-016-9717-y.

 

Leitner, D. R., Fruhbeck, G., Yumuk, V., Schindler, K., Micic, D., Woodward, E., & Toplak, H. (2017). Obesity and Type 2 Diabetes: Two Diseases with a Need for Combined Treatment Strategies - EASO Can Lead the Way. Obesity facts, 10(5), 483-492. doi:10.1159/000480525.

 

Linde, J. A., Jeffery, R. W., French, S. A., Pronk, N. P., & Boyle, R. G. (2005). Self-weighing in weight gain prevention and weight loss trials. Annals of Behavioral Medicine, 30(3), 210-216. doi:10.1207/s15324796abm3003_5.

 

Mandviwala, T., Khalid, U., & Deswal, A. (2016). Obesity and Cardiovascular Disease: a Risk Factor or a Risk Marker? Curr Atheroscler Rep, 18(21). doi: https://doi.org/10.1007/s11883-016-0575-4.

 

Nagai, M., Tomata, Y., Watanabe, T., Kakizaki, M., & Tsuji, I. (2013). Association between sleep duration, weight gain, and obesity for long period. Sleep Medicine, 14(2), 206-210. doi:https://doi.org/10.1016/j.sleep.2012.09.024.

 

Pacanowski, C. R., & Levitsky, D. A. (2015). Frequent Self-Weighing and Visual Feedback for Weight Loss in Overweight Adults. Journal of Obesity, 2015, 9. doi:10.1155/2015/763680.

 

Peters, U., Dixon, A. E., & Forno, E. (2018). Obesity and asthma. Journal of Allergy and Clinical Immunology, 141(4), 1169-1179. doi:10.1016/j.jaci.2018.02.004.

 

Pinelli, N., Brown, M., Herman, W., & Jaber, L. (2011). Family support is associated with success in achieving weight loss in a group lifestyle intervention for diabetes prevention in Arab Americans. Ethn Dis. 2011, 21(4), 480-484.

 

Stone, T. W., McPherson, M., & Gail Darlington, L. (2018). Obesity and Cancer: Existing and New Hypotheses for a Causal Connection. EBioMedicine, 30, 14-28. doi:10.1016/j.ebiom.2018.02.022.

 

Sun, W., Huang, Y., Xian, Y., Zhu, S., Jia, Z., Liu, R., . . . Anderson, C. S. (2017). Association of body mass index with mortality and functional outcome after acute ischemic stroke. Scientific reports, 7(1), 2507-2507. doi:10.1038/s41598-017-02551-0.

 

Trief, P. M., Cibula, D., Delahanty, L. M., & Weinstock, R. S. (2014). Depression, stress, and weight loss in individuals with metabolic syndrome in SHINE, a DPP translation study. Obesity (Silver Spring, Md.), 22(12), 2532-2538. doi:10.1002/oby.20916.

 

Wang, M. L., Pbert, L., & Lemon, S. C. (2014). Influence of family, friend and coworker social support and social undermining on weight gain prevention among adults. Obesity (Silver Spring, Md.), 22(9), 1973-1980. doi:10.1002/oby.20814.

 

Williams, P. T. (2013). Greater weight loss from running than walking during a 6.2-yr prospective follow-up. Medicine and science in sports and exercise, 45(4), 706-713. doi:10.1249/MSS.0b013e31827b0d0a.

 

Winik, C. L., & Bonham, C. E. (2018). Weight management: A concept analysis. Nursing Forum, 53(1), 93-99. doi:10.1111/nuf.12220.

 

Yannakoulia, M., Anastasiou, C. A., Karfopoulou, E., Pehlivanidis, A., Panagiotakos, D. B., & Vgontzas, A. (2017). Sleep quality is associated with weight loss maintenance status: the MedWeight study. Sleep Medicine, 34, 242-245. doi:https://doi.org/10.1016/j.sleep.2017.01.023.

 

 

*Doctoral Candidate in Nursing, International Program, Mahidol University, Thailand.

*Awardee Beasiswa LPDP Kementerian Keuangan RI Tahun 2016, Program Doktor Luar Negeri.

*Dosen Keperawatan, FIKES UMMagelang.

 

Email: [email protected] / [email protected]