Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



HIV dan skin care: dilema dan solusi

Jumat, 09 November 2018 oleh Administrator

HIV dan skin care: dilema dan solusi

oleh Sumarno Adi Subrata*

 

 

Kurang lebih satu bulan yang lalu sempet viral di sosial media tentang seorang ibu yang mengklaim dirinya positif terinfeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus). Setelah ia berkonsultasi, muncul dugaan bahwa infeksi tersebut berasal dari pelayanan skin care yang ia dapatkan. Berita tersebut cukup menimbulkan reaksi yang tidak sepele karena sebagian orang menjadi phobia (ketakutan) dengan pelayanan skin care. Oleh sebab itu, rasanya sangat perlu untuk melakukan investigasi berkaitan dengan informasi tersebut dengan menggunakan artikel ilmiah sebagai landasannya. Hal ini sebagai strategi prevensi sekaligus menepis kekuatiran yang berlebihan akan pelayanan skin care.

 

Sebagai introduction, bahwa di tahun 1981, penyakit AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) pertama kali telah diungkap, yang kemudian diikuti tiga tahun berikutnya tercapai sebuah mufakat bahwa HIV-lah yang menjadi penyebabnya (Ruelas & Greene, 2013). Awalnya, HIV berasal dari sejenis monyet yang kemudian menular ke manusia (Chin, 2017). Studi epidemiologi terkini menyampaikan bahwa, sekitar 36 juta orang menderita AIDS, dimana 70 % nya berada di daerah Afrika (Karim, 2017).

 

Menurut tinjauan teori, HIV tergolong virus yang cerdas karena ia mampu bersembunyi secara sempurna dari sistem imun tubuh sehingga sulit dikenali atau diatasi oleh sistem imun tubuh manusia itu sendiri. Meski begitu, sebuah kabar gembira datang dari sebuah publikasi keren tahun 2016 di jurnal Nature Immunology, dimana para pakar immunologi kini telah menemukan titik terang untuk mengatasi “kecerdasan” virus HIV tersebut, yaitu dengan mengoptimalkan kinerja sel T yang ada di sel darah putih. Kenapa sel T? karena sel T, yang spesifik tipe follicular cytotoxic T cells, mampu mengetahui keberadaan virus HIV yang bersembunyi dalam tubuh manusia, sehingga hal tersebut akan memudahkan mengeliminasinya. Berawal dari hal ini, maka proyeksi ke depan dari obat-obat anti HIV adalah akan memfokuskan pada optimalisasi kinerja sel T tipe tersebut (Leong et al., 2016).

 

Secara garis besar, HIV hanya dapat menular via: darah, sperma, cairan pre-ejakulasi, cairan dubur, cairan vagina dan air susu ibu (Shaw & Hunter, 2012). WHO (World Health Organization) dalam guideline tentang HIV counseling Trainer’s manual for the Asia Pacific (2009) menyampaikan 4 prinsip penularan HIV yang disingkat ESSE: Exit, Survive, Sufficient, dan Enter. Dalam prinsip “Survive” dijelaskan bahwa, HIV tidak akan bertahan lama jika terpapar udara. Lebih dispesifikkan, jika HIV berada dalam spuit jarum yang biasa digunakan untuk menyuntik atau injeksi, maka virus dapat bertahan hidup di dalamnya. Akan tetapi, jika HIV berada di bagian luar jarum, maka dalam waktu tertentu HIV akan mati ketika sudah mulai terpapar udara atau suhu ruangan secara langsung.

 

Sebaliknya, sebuah guideline tentang “HIV Transmission Guidelines for Assessing Risk: A Resource for Educators, Counsellors and Health Care Professionals” oleh McClure and Grubb (2004) dan penelitian di Afrika mengungkapkan bahwa penularan HIV dapat terjadi via alat-alat tajam yang ada di tempat potong rambut, misalnya penggunaan pisau kerok yang dipakai secara bergantian tanpa dilakukan sterilisasi (pisau jenis re-usable / yang dapat dipakai berulang-ulang) (Arulogun & Adesoro, 2009). Hal ini disebabkan karena HIV memiliki sejenis lipid (lemak) yang mampu melindungi badan virus dari dehidrasi sebagai efek paparan udara luar, dimana kondisi ini memungkinkan bagi HIV untuk tetap hidup (dalam jangka waktu tertentu) dan dapat kembali menularkan (Khandait, Ambadekar, & Vasudeo, 1999). Lipid tersebut juga berfungsi untuk replikasi virus, proses invasi ke sel lain dan juga berperan dalam proses infeksi (Ono, 2010; Lorizate & Kräusslich, 2011; Sedwick, 2012; Huarte et al., 2016).

 

Berkaitan dengan pelayanan skin care dan transmisi HIV, sepanjang pengetahuan kami, belum ada publikasi ilmiah yang mengupas secara detail tentang hal tersebut. Hanya saja, kami membaca beberapa artikel lepas dari sejumlah website berbahasa inggris, dan mereka sudah mulai banyak membahas tentang terapi mikrodermabrasi yang potensial menjadi media penularan virus sejenis HIV dan Hepatitis. Mikrodermabrasi adalah salah satu tindakan skin care dengan menggunakan kristal-kristal mikro untuk menghilangkan sel-sel kulit mati (di stratum kurneum) dan menstimulasi produksi sel kulit baru (rejuvenasi) (Fernandes, Pinheiro, Crema, & Mendonça, 2014; El-Domyati, Hosam, Abdel-Azim, Abdel-Wahab, & Mohamed, 2016). Berikut adalah beberapa link berita yang kami baca:

 

https://www.cosmeticsdesign-europe.com/Article/2017/01/10/Common-cosmetics-treatment-may-increase-risk-of-HIV-transmission

 

https://endingaids.org/hiv-transmissions-shared-make-cosmetics/

 

https://www.livescience.com/63549-vampire-facial-hiv-hepatitis.html

 

http://www.itechpost.com/articles/72795/20170109/hiv-spread-cosmetic-procedure-now-being-investigated-cosmetics-safe-anymore.htm

 

https://www.dermascope.com/exfoliation/microdermabrasion

 

-Selesai-

 

Pembahasan dan implikasi topik:

 

Salah satu metode yang dapat dipilih untuk memperoleh dan menjaga agar penampilan tetap menarik adalah dengan menggunakan jasa pelayanan skin care. Kini, beragam pelayanan sudah tersedia mulai dari low level quality hingga high level quality dengan harga mahal namun menawarkan hasil yang memuaskan. Dalam memilih pelayanan tersebut tentunya jangan hanya hanya mempertimbangkan murah atau bagusnya pelayanan, namun yang paling penting adalah keamanannya dan apakah pelayanan tersebut juga dikelola oleh petugas kesehatan yang kompeten.

 

Informasi yang beredar bahwa seorang ibu terkena HIV dan diduga dari sebuah pelayanan skin care, masih menjadi tanda tanya besar. Apakah benar memang dari skin care atau dia sendiri yang telah teledor melakukan sesuatu lain yang beresiko tinggi tertular HIV?. Tidak ada yang tahu kebenaran berita tersebut, karena hanya beredar begitu saja di sosial media tanpa adanya referensi yang dapat dipertanggung jawabkan. Jelas berita tersebut membuat panik, khususnya bagi mereka yang rutin ke pelayanan skin care.

 

Oleh sebab itu, sikap terbaik dalam menghadapi berita tersebut adalah menerapkan prinsip kehati-hatian terhadap segala faktor resiko penularan HIV, sebagaimana yang telah dipaparkan dalam bagian sebelumnya dari tulisan ini. Di antara solusi yang ditawarkan:

 

Pertama.

Apabila ingin menggunakan jasa pelayanan skin care, sebaiknya memilih yang pelayanan tersebut memiliki dokter jaga sehingga dapat berkonsultasi terlebih dahulu khususnya mengenai keamanan treatment dan produknya.

 

Kedua.

Sebelum menentukan pelayanan skin care, dapat berkonsultasi ke dokter kulit di klinik atau Rumah Sakit terdekat untuk meminta rekomendasi pelayanan skin care yang aman.

 

Ketiga.

Alternatif lain, apabila tidak ingin menggunakan pelayanan skin care karena aspek-aspek khusus misalnya pertimbangan waktu, dana, atau hal privasi lainnya, maka dapat menerapkan self-skin care dengan:

 

A. Mengkonsumsi makanan tinggi antioksidan seperti buah-buahan dan sayuran yang secara ilmiah dapat menyehatkan kulit, baik wajah atau kulit tubuh secara keseluruhan.

           “Let food be your medicine and let medicine be your food” (jadikan makanan sebagai [salah satu] obat [dari penyakitmu]) salah satu prinsip yang perlu diterapkan untuk mendapatkan kulit yang sehat (Wolf, Matz, & Orion, 2004).

 

B. Bagaimana dengan konsumsi fried food (gorengan)? Beberapa publikasi ilmiah banyak membahas efek mengkonsumsi gorengan terhadap kecenderungan akan penyakit jantung dan diabetes (Cahill et al., 2014; Gadiraju, Patel, Gaziano, & Djoussé, 2015). Sementara untuk pengaruh ke kulit, masih belum jelas. Sehingga, gorengan semestinya dikonsumsi dalam porsi moderat (pertengahan), bukan karena kesehatan kulit, namun untuk meminimalisir timbulnya penyakit jantung dan diabetes.

 

C. Meningkatkan intake air putih. Sebuah penelitian menjelaskan bahwa konsumsi air putih 2 liter per hari dapat membantu kulit agar tetap sehat (Palma, Marques, Bujan, & Rodrigues, 2015).

 

D. Rutin olah raga (Jaret, 2011).

 

E. Rutin cuci muka minimal dua kali sehari (Choi, Lew, & Kimball, 2006), dengan menggunakan sabun muka yang non-comedogenic (yang tidak berpotensi menimbulkan jerawat).

         Untuk bisa mengetahui mana sabun yang non-comedogenic atau tidak, dapat bertanya kepada dokter kulit, atau dengan langsung melihat produk sabunnya, atau menghubungi bagian produksi (costumer service) sabun tersebut. Sebagai contoh, beberapa produk sabun muka di Thailand, sudah menuliskan “non-comedogenic” sehingga memudahkan memilih, tanpa harus konsultasi atau menghubungi bagian produksi.

 

F. Mengurangi atau menghindari paparan sinar matahari mulai dari jam 10 siang hingga 4 sore. Hal ini sebagaimana rekomendasi dari American Cancer Society tahun 2017.

 

G.Menggunakan produk exfoliator wajah (chemicals peels) yang cocok dengan jenis kulit. Hal ini juga dapat dikonsultasikan ke dokter kulit terlebih dahulu, atau langsung ditanyakan ke tempat yang menjual produk tersebut.

 

H. Menghindari mengekstrak jerawat hanya bermodalkan instrument logam, apalagi langsung dengan tangan. Selain potensial menimbulkan infeksi hal tersebut seringkali menimbulkan bekas jerawat yang lama hilang.

       Beberapa waktu lalu kami sempat bertemu dengan salah satu Dermatologis di Thailand dan sempat berbincang tentang bagaimana mengekstrak jerawat yang benar. Akhirnya dijelaskan bahwa cara yang terbaik adalah diawali dengan menggunakan laser yang kemudian baru dilakukan ekstrak manual dengan instrument logam. Hal tersebut dilakukan agar komedo dapat keluar secara keseluruhan (100 %) dan juga meminimalkan perdarahan. Karena jika diekstrak manual (tanpa laser), hanya sekitar 50 persen saja dari komedo yang keluar sehingga malah berpotensi menimbulkan jerawat lagi. Oleh sebab itu, tidak disarankan untuk mengesktrak (mencet) jerawat menggunakan tangan atau bermodalkan intrumen logam saja. Apalagi jika jerawat tersebut sedang dalam fase inflamasi.

 

Cara lain untuk mendapatkan kulit yang sehat, dapat membaca beberapa artikel medically reviewed (yang sudah direview secara medis) di bawah ini:

 

https://www.healthline.com/nutrition/12-foods-for-healthy-skin

 

https://www.healthline.com/health/beauty-skin-care/home-remedies-for-glowing-skin

 

https://www.medicalnewstoday.com/articles/320071.php

 

https://www.healthline.com/health/beauty-skin-care

 

https://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/acne/features/diet-and-skin#1

 

Kesimpulannya, kebutuhan memiliki profil wajah dan penampilan yang menarik (bagi cowok dan cewek) sudah menjadi bagian yang tidak bisa diabaikan, karena merupakan bukti kepedulian terhadap diri sendiri. Selama hal tersebut dilakukan dengan cara yang aman (mampu meminimalisir atau menghilangkan resiko HIV) serta tidak melampaui batasan norma-norma tertentu, maka tidak masalah.

 

 

Referensi:

 

American Cancer Society. (2017). What is Ultraviolet (UV) Radiation? Retrieved from https://www.cancer.org/cancer/skin-cancer/prevention-and-early-detection/what-is-uv-radiation.html (Accessed on 9 November 2018).

 

Arulogun, O. S., & Adesoro, M. O. (2009). Potential risk of HIV transmission in barbering practice among professional barbers in Ibadan, Nigeria. African health sciences, 9(1), 19-25.

 

Cahill, L. E., Pan, A., Chiuve, S. E., Sun, Q., Willett, W. C., Hu, F. B., & Rimm, E. B. (2014). Fried-food consumption and risk of type 2 diabetes and coronary artery disease: a prospective study in 2 cohorts of US women and men. The American journal of clinical nutrition100(2), 667-75.

 

Chin, B. S. (2017). Molecular Epidemiology of Human Immunodeficiency Virus. Infection & Chemotherapy, 49(1), 1-9. doi:10.3947/ic.2017.49.1.1.

 

Choi, J. M., Lew, V. K., & Kimball, A. B. (2006). A Singleā€Blinded, Randomized, Controlled Clinical Trial Evaluating the Effect of Face Washing on Acne Vulgaris. Pediatric Dermatology, 23: 421-427. doi:10.1111/j.1525-1470.2006.00276.x.

 

El-Domyati, M., Hosam, W., Abdel-Azim, E., Abdel-Wahab, H., & Mohamed, E. (2016). Microdermabrasion: a clinical, histometric, and histopathologic study. Journal of Cosmetic Dermatology, 15(4), 503-513. doi:10.1111/jocd.12252.

 

Fernandes, M., Pinheiro, N. M., Crema, V. O., & Mendonça, A. C. (2014). Effects of microdermabrasion on skin rejuvenation. Journal of Cosmetic and Laser Therapy, 16(1), 26-31. doi:10.3109/14764172.2013.854120.

 

Gadiraju, T. V., Patel, Y., Gaziano, J. M., & Djoussé, L. (2015). Fried Food Consumption and Cardiovascular Health: A Review of Current Evidence. Nutrients7(10), 8424-30. doi:10.3390/nu7105404.

 

Huarte, N., Carravilla, P., Cruz, A., Lorizate, M., Nieto-Garai, J. A., Kräusslich, H.-G., . . . Nieva, J. L. (2016). Functional organization of the HIV lipid envelope. Scientific reports, 6, 34190-34190. doi:10.1038/srep34190.

 

Jaret, P. (2011). Exercise for Healthy Skin. Retrieved from https://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/acne/features/exercise#1 (Accessed on 9 November 2018).

 

Karim, Q. A. (2017). Current status of the HIV epidemic & challenges in prevention. The Indian Journal of Medical Research, 146(6), 673-676. doi:10.4103/ijmr.IJMR_1912_17.

 

Leong, Y. A., Chen, Y., Ong, H. S., Wu, D., Man, K., Deleage, C., . . . Yu, D. (2016). CXCR5+ follicular cytotoxic T cells control viral infection in B cell follicles. Nature Immunology, 17, 1187. doi:10.1038/ni.3543.

 

Lorizate, M., & Kräusslich, H.-G. (2011). Role of lipids in virus replication. Cold Spring Harbor perspectives in biology, 3(10), a004820-a004820. doi:10.1101/cshperspect.a004820.

 

McClure, C. & Grubb, I. (2004). HIV Transmission Guidelines for Assessing Risk: A Resource for Educators, Counsellors and Health Care Professionals. Retrieved from https://www.cdnaids.ca/hiv-transmission-guidelines-for-assessing-risk/ (Accessed on 9 November 2018).

 

Ono, A. (2010). Viruses and lipids. Viruses, 2(5), 1236-1238. doi:10.3390/v2051236.

 

Palma, L., Marques, L. T., Bujan, J., & Rodrigues, L. M. (2015). Dietary water affects human skin hydration and biomechanics. Clinical, cosmetic and investigational dermatology8, 413-21. doi:10.2147/CCID.S86822.

 

Ruelas, D. S., & Greene, W. C. (2013). An Integrated Overview of HIV-1 Latency. Cell, 155(3), 519-529. doi:10.1016/j.cell.2013.09.044.

 

Sedwick, C. (2012). Lipids in HIVs envelope help the virus to spread. PLoS biology, 10(4), e1001316-e1001316. doi:10.1371/journal.pbio.1001316.

 

Shaw, G. M., & Hunter, E. (2012). HIV Transmission. Cold Spring Harbor Perspectives in Medicine, 2(11), a006965. doi:10.1101/cshperspect.a006965.

 

Wolf, R., Matz, H., & Orion, E. (2004). Acne and diet. Clin Dermatol, 22(5):387-93.

 

World Health Organization. (‎2009)‎. HIV counselling trainers manual for the Asia-Pacific. WHO Regional Office for South-East Asia. Retrieved from http://www.who.int/iris/handle/10665/205269 (Accessed on 8 November 2018).

 

 

*Doctoral Candidate in Nursing, International Program, Mahidol University, Thailand.

*Awardee Beasiswa LPDP Kementerian Keuangan RI Tahun 2016, Program Doktor Luar Negeri.

*Dosen Keperawatan, FIKES UMMagelang.

 

Email: [email protected] / [email protected]