Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Jangan korbankan mata demi smartphone

Rabu, 31 Oktober 2018 oleh Administrator

Jangan korbankan mata demi smartphone

oleh Sumarno Adi Subrata*

 

Beberapa waktu lalu kami membaca sebuah artikel tentang dampak penggunaan smartphone di New England Journal of Medicine (NEJM) khususnya di rubrik Correspondence. Artikel yang di tulis oleh sekelompok dokter dari United Kingdom (Inggris) yaitu Alim-Marvasti, Bi, Mahroo, Barbur, & Plant (2016) tersebut mengupas dua kasus Transient Smartphone Blindness (kebutaan sementara sebagai efek penggunaan smartphone). Berikut adalah overview dari kasusnya:

 

Kasus pertama.

Seorang wanita yang berumur 22 tahun mengeluhkan mata kanannya tidak bisa melihat dengan jelas khususnya di malam hari. Gejala tersebut sudah dialami selama 12 bulan terakhir, muncul 2 – 3 kali per minggu dan setelah itu, ia mulai merasakannya semakin parah hampir di setiap malam sebelum tidur. Hanya saja, gejala tersebut tidak muncul di siang hari atau ketika ia berbaring di tempat tidur dalam keadaan lampu menyala.

 

Hasil pengkajian umum menunjukkan bahwa dia tidak memiliki riwayat penyakit asma, tidak mengkonsumsi alkohol, tidak merokok, dan tidak mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Dia juga memiliki pola makan yang sehat. Dari pengkajian riwayat keluarga, ia mengatakan bahwa kakaknya menderita congenital glaucoma (penyakit glaukoma yang diderita sejak lahir).

 

Hasil pemeriksaan penunjang lain seperti pemeriksaan fungsi mata (visus, buta warna, funduskopi, dan tekanan intraokuler), kardiovaskular, level vitamin A, Magnetik Resonance Imaging (MRI) angiografi, echocardiografi (USG jantung), dan thrombophilia screening (pemeriksaan untuk mengevaluasi apakah ada penyumbatan aliran darah atau tidak), semuanya menunjukkan nilai yang normal.

 

Akhirnya, ia melaporkan bahwa sebelum tidur di malam hari, ia memiliki kebiasaan memainkan smartphone dalam kondisi ruang gelap, dan sambil berbaring di sebelah kiri. Gejala kehilangan fungsi pengelihatan dialaminya beberapa menit sesaat setelah smartphone-nya dimatikan.

 

Kasus kedua.

Seorang wanita yang berumur 40 tahun mengeluhkan mengalami gangguan pengelihatan sejak 6 bulan terakhir. Gejala yang ia alami berupa blank vision atau benar-benar tidak bisa melihat khususnya di mata kanan. Ia merasakannya selama lebih dari 15 menit sesaat setelah bangun tidur.

 

Hasil pemeriksaan mata seperti visus, buta warna, respon pupil, perimetry (pemeriksaan lapang pandang) dan pemeriksaan funduskopi (pemeriksaan organ dalam mata), semuanya menunjukkan hasil yang normal.

 

Hasil evaluasi tomografi retina mata menunjukkan central serous retinopathy (Ada penumpukan cairan dibelakang retina yang menyebabkan penurunan fungsi pengelihatan). Dokter kemudian mendiagnosa ocular transient ischemic attacks (TIA) atau disfungsi sementara saraf pada mata tanpa adanya kematian jaringan mata. Ia pun diresepi aspirin dengan dosis 300 mg, dirujuk ke klinik spesialis TIA dan neuroophthalmologi.

 

Hasil pengkajian gaya hidup menunjukkan bahwa sebelum matahari terbit, ia punya habit (kebiasaan) tiduran dengan salah satu sisi tubuhnya sambil membaca berita via smartphone. Ia mengatakan, sesaat setelah smartphonenya dimatikan, salah satu matanya benar-benar blank tidak bisa melihat apa-apa. Sementara mata yang lain dapat berfungsi normal. Untuk mengembalikan kondisi matanya agar normal, ia harus menunggu beberapa menit terlebih dahulu.

 

-Selesai-

 

Pembahasan dan implikasi dalam kehidupan sehari-hari:

 

Kini, kebutuhan akan smartphone sudah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, terkadang dalam sebagian momen sudah melebihi kebutuhan makan dan minum. Sebelum tidur yang dicari smartphone, bangun tidur yang pertama dicari juga smartphone. Sebelum makan pegang smartphone, abis makan juga pegang smartphone. Begitulah salah satu potret realita zaman sekarang dan barangkali kita salah satu dari mereka yang overdo terhadap smartphone.

 

Dua kasus yang telah disampaikan merepresentasikan bahwa penggunaan smartphone dalam posisi yang kurang tepat dapat mengakibatkan kondisi patologis bagi organ tubuh, salah satunya bagi mata. Di antara gejala yang timbul bersifat contralateral yaitu ketika terlalu sering berbaring di sebelah kiri, maka gejala penurunan fungsi pengelihatan akan dialami oleh mata sebelah kanan. Begitu juga sebaliknya.

 

Selain itu, dalam kasus pertama sedikit disinggung mengenai pengkajian penyakit asma pada orang dengan gangguan pengelihatan. Benar, memang ada beberapa literatur menjelaskan bahwa penyakit asma dapat memicu gangguan visual. Hal ini disebabkan adanya valsava retinopathy misalnya dalam bentuk batuk saat asma (Cheung, Durrani, & Kirkby, 2002; Daniel, Coughtrey, Heyman, & Dahlmann-Noor, 2017).

 

Untuk mencegah terjadinya Transient Smartphone Blindness (TSB) sebagian referensi merekomendasikan agar: menggunakan smartphone dalam ruang cukup cahaya serta mengatur posisi tubuh agar cahaya smartphone dapat mengenai kedua mata. Juga disarankan untuk menghindari mainan smartphone sebelum tidur (selain meningkatkan resiko TSB), juga dapat mengacaukan siklus tidur (Hasan, Hasan, & Shah, 2017).  Setiap penguna smartphone sudah saatnya lebih peka dengan mulai munculnya gejala penurunan fungsi pengelihatan, sehingga dapat mencegah keparahan dari gejala yang dimaksud (Irshad & Adhiyaman, 2017). Di antara hal yang semoga dapat dikurangi atau dihindari adalah menggunakan smartphone hingga ketiduran. Kondisi tersebut kurang sehat, karena sama saja memaksakan mata untuk terus berakomodasi sementara ia sudah mulai menunjukkan mekanisme kelelahan.

 

Kesimpulannya, pemakaian smartphone tidak lepas dari tiga hal yaitu intensitas waktu, teknis penggunaan, dan asas tujuan. Jika ketiganya dapat dikompromikan dengan baik, tentunya dapat mengantisipasi berbagai efek negatif-nya. Prinsip “jangan korbankan mata demi smartphone” nampaknya perlu mulai dikampanyekan demi menjaga fungsi mata agar tetap optimal dan terhindar dari Transient Smartphone Blindness.

 

Referensi:

Alim-Marvasti, A., Bi, W., Mahroo, O. A., Barbur, J. L., & Plant, G. T. (2016). Transient Smartphone “Blindness”. New England Journal of Medicine, 374(25), 2502-2504. doi:10.1056/NEJMc1514294.

 

Cheung, C. M. G., Durrani, O. M., & Kirkby, G. R. (2002). Sudden visual loss in asthma. Journal of the Royal Society of Medicine, 95(7), 359-359.

 

Daniel, M. C., Coughtrey, A., Heyman, I., & Dahlmann-Noor, A. H. (2017). Medically unexplained visual loss in children and young people: an observational single site study of incidence and outcomes. Eye (London, England), 31(7), 1068-1073. Doi:10.1038/eye.2017.37.

 

Hasan, C. A., Hasan, F., & Mahmood Shah, S. M. (2017). Transient Smartphone Blindness: Precaution Needed. Cureus9(10), e1796. Doi:10.7759/cureus.1796.

 

Irshad, F., & Adhiyaman, V. (2017). Transient smartphone blindness. Canadian Journal of Ophthalmology / Journal Canadien dOphtalmologie, 52(3), e107-e108. doi:https://doi.org/10.1016/j.jcjo.2016.10.017.

 

 

*Doctoral Candidate in Nursing, International Program, Mahidol University, Thailand.

*Awardee Beasiswa LPDP Kementerian Keuangan RI Tahun 2016, Program Doktor Luar Negeri.

*Dosen Keperawatan, FIKES UMMagelang.

 

Email: [email protected] / [email protected]