Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



When I am gone syndrome

Kamis, 06 September 2018 oleh Administrator

When I am gone syndrome

oleh Sumarno Adi Subrata*

 

Tidak ada yang salah dengan mereka yang dilahirkan dalam keterbatasan fisik. Setiap caregiver (pemberi perawatan harian semisal orang tua) sudah semestinya memberikan apa-apa yang sesuai dengan kebutuhan dasar mereka, baik makanan, rasa kasih sayang, perhatian, kehadiran, dan lainnya. Hanya saja dalam keadaan tertentu sebagian caregiver, khususnya yang mulai berumur lansia sementara ia memiliki anak yang dalam keterbatasan fisik, terkadang mengalami sebuah sindrom unik dengan nama “When I am gone syndrome”.

 

Dr. Go-en Kim dan Dr. Soondool Chung dalam publikasinya tahun 2016 tentang “Elderly Mothers of Adult Children with Intellectual Disability: An Exploration of a Stress Process Model for Caregiving Satisfaction“ di Journal of Applied Research in Intellectual Disabilities, menjelaskan bahwa:

 

When I am gone syndrome” didefinisikan sebagai kondisi stress berat yang dialami orang tua yang memiliki anak dengan keterbatasan atau disabilities (Lefley & Hatfield, 1999). Stress tersebut disebabkan karena dampak proses menua dimana secara sinergi akan terjadi penurunan fungsi baik dari aspek fisik, psikologi, dan sosial. Hal ini memicu kekuatiran akan ketidakmampuan memberikan perawatan yang maksimal kepada anak-anak mereka yang mengalami keterbatasan.

 

Solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menggunakan pendekatan aktif problem-centered strategy yang berfokus pada bagaimana agar masalah yang sedang dihadapi dapat segera teratasi, misalnya dengan menyiapkan buku panduan perawatan, membangun social service systems dengan masyarakat, dan bekerja sama dengan tenaga kesehatan. Bagi orang tua, sangat perlu untuk menyadari bahwa masalah ini adalah bagian dari konsekuensi menua yang harus diterima sehingga dengan penerimaan tersebut akan memudahkan dalam menyusun perencanaan perawatan. Dukungan dalam bentuk health promotion dari tenaga kesehatan juga memiliki peran vital dalam merubah cara pandang orang tua terhadap kondisi anaknya.

 

Terdapat solusi lain yaitu dengan pendekatan emotion-centered strategy. Hanya saja, pendekatan ini terkesan pasif dan kurang menyelesaikan karena tidak berfokus pada masalah, akan tetapi malah ke arah emosi atau perasaan orang tuanya, sehingga solusi ini kurang direkomendasikan.

 

Menariknya, terdapat prinsip “berbanding terbalik” dari dua strategi di atas yaitu jika orang tua lebih mengedepankan problem-centered strategy dalam menyelesaikan masalah, maka penggunaan emotion-centered strategy akan menurun. Hal ini adalah baik dan yang diharapkan. Namun, berlaku juga sebaliknya.

 

Demikian penjelasan Dr. Go-en Kim dan Dr. Soondool Chung.

 

Implikasi tulisan ini dalam kehidupan sehari-hari di antaranya:

 

Memiliki anak (baik dengan keterbatasan atau tidak) adalah hal yang mendatangkan tantangan tersendiri bagi orang tua, terlebih lagi bagi yang mulai memasuki fase menjadi warga senior (lansia). Oleh sebab itu, mengedepankan pendekatan problem-centered strategy adalah pilihan terbaik dalam mengatasi tantangan yang dimaksud. Meskipun dalam pelaksanaannya sulit untuk melepaskan diri dari emotion-centered strategy.

 

Kemudian…

 

Sebagai orang tua, tidak semestinya mendramatisir sebuah ketidaknyaman yang muncul dalam ruang lingkup keluarga. Hal-hal tersebut cukup disikapi seperlunya saja dengan penuh pertimbangan yang rasional agar tidak menimbulkan dampak negatif yang semakin luas, serta tidak menambah stress orang tua. Dan tentunya, problem-centered strategy sudah semestinya menjadi pedoman utama dalam menghadapi masalah-masalah tersebut.

 

 

Referensi:

Kim, G.-e., & Chung, S. (2016). Elderly Mothers of Adult Children with Intellectual Disability: An Exploration of a Stress Process Model for Caregiving Satisfaction. Journal of Applied Research in Intellectual Disabilities, 29(2), 160-171. doi:10.1111/jar.12166.

 

Lefley, H., & Hatfield, A. (1999). Helping Parental Caregivers and Mental Health Consumers Cope With Parental Aging and Loss. PSYCHIATRIC SERVICES, 50(3), 369-375.

 

 

*Doctoral Candidate in Nursing, International Program, Mahidol University, Thailand.

*Awardee Beasiswa LPDP Kementerian Keuangan Republik Indonesia Tahun 2016, Program Doktor Luar Negeri.

*Dosen Keperawatan, FIKES UMMagelang.

 

Email: ad[email protected] / [email protected]