Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Durian and the Durianers

Sabtu, 16 Desember 2017 oleh Administrator

Durian and the Durianers

  oleh Sumarno Adi Subrata*

  

[Introduction]

    Buah durian kini sedang “naik daun” dan sekaligus menjadi “trending fruit” khususnya di beberapa daerah seperti Magelang dan sekitarnya, karena memang di Indonesia, buah durian “sudah jatahnya” panen selama bulan Oktober hingga Februari. Sementara di Malaysia dan Singapura, buah ini akan banyak ditemukan di kisaran bulan Juni hingga Agustus. Berbeda lagi di Thailand sebagaimana yang kami amati lebih dari satu tahun terakhir ini, hampir setiap hari buah ini dapat dengan mudah ditemukan di pasar tradisional atau super market. Singkat kata, di sebagian negara, buah durian mengenal waktu sehingga harus ditunggu kedatangannya. Sebaliknya, di negara yang lain, buah ini tidak mengenal musim waktu sehingga dapat diperoleh kapan saja sesuai keinginan pembeli.

 

    Bagi orang Asia Tenggara buah durian dikenal sebagai “the king of fruits”. Sementara itu di India, “the king of fruits” versi orang sana adalah buah mangga (Tharanathan, Yashoda, & Prabha, 2006). Sebuah publikasi ilmiah menjelaskan kenapa durian disebut sebagai “the king of fruits”, karena durian memiliki kulit dan rasa yang kuat (manis), serta memiliki bau yang unik dimana tiga hal ini tidak dimiliki oleh buah-buahan lainnya (Li, Schieberle, & Steinhaus, 2012). Sebagian artikel menerangkan alasan penggunaan istilah "the king of fruits" karena buah durian “tastes like heaven, smells like hell” (rasanya –enak- seperti surga, baunya -kurang enak- seperti neraka). Pernyataan tersebut sebenarnya sangat subjektif, bagi yang suka baunya ya tidak masalah, “both tastes and smells like heaven”. Bahkan bagi the Durianers (penggemar sekaligus pemakan durian) bau durian malah menjadi daya tarik tersendiri ketika akan membeli buah tersebut. 

 

   Buah durian dikenal sebagai body-warming food (makanan penghangat) atau kalau di Asia Tenggara dikenal dengan hyperthermic effect (makanan yang dapat meningkatkan suhu tubuh) (Terada et al., 2014). Buah dengan nama latin Durio zibethinus ini memang benar-benar membuat ketagihan hingga seorang Naturalist (pakar sejarah alam) yang terkenal Alfred Russel Wallace pernah mengatakan: “the more you eat of it, the less you feel inclined to stop” atau semakin banyak anda makan durian, maka semakin sulit anda untuk berhenti (Wallace, 1856 cited in Teh et al., 2017).

 

    Buah durian memiliki kandungan nutrisi yang sangat banyak terbukti dalam setiap 243 gram durian mengandung kalori (357 kkal), lemak (13 gram), karbohidrat (66 gram), serat (9 gram), protein (4 gram), vitamin C (80 %), tiamin (61 %), mangan (39 %), vitamin B6 (38 %), potassium (30 %), riboflavin (29 %), copper (25 %), asam folat (22 %), magnesium (18 %) dan niasin (13 %) (United States Department of Agriculture, SR-21, 2016).

 

[Health Benefits]

     Selain kaya akan nutrisi, durian memiliki manfaat bagi kesehatan di antaranya, sebagai anti-inflamasi, anti-oksidan, anti-obesitas, anti-kolesterol, anti-hipoglikemik serta efektif melawan sindrom metabolik (Ansari, 2016), dapat menurunkan resiko kanker dan penyakit jantung koroner (Voon, Bhat, & Rusul, 2012), dapat dijadikan sebagai terapi tambahan pasien diabetes karena buah tersebut dapat mengembalikan metabolisme insulin dan juga sebagai terapi tambahan pasien dengan penyakit jantung karena dapat mengurangi kadar kolesterol (Gorinstein et al., 2011; Haruenkit et al., 2010; M. Leontowicz et al., 2007; Roongpisuthipong, Banphotkasem, Komindr, & Tanphaichitr, 1991). Buah ini juga dapat sebagai anti-atherosklerosis atau pencegah munculnya plak pada pembuluh darah sehingga dapat terhindar dari penyakit stroke atau penyakit jantung (H. Leontowicz et al., 2008).

 

     Buah durian asal Thailand berjenis “Mon Thong” yang masih belum begitu matang memiliki kandungan polifenol dan flavonoid yang tinggi sehingga sangat efektif untuk antioksidan dibandingkan yang sudah matang atau terlalu matang (M. Leontowicz et al., 2007). Oleh sebab itu, sebagian orang Thailand gemar mengkonsumsi buah durian yang belum begitu matang yang terasa agak kemriyuk / renyah. Fungsi yang lain dari durian adalah ternyata rebusan daun dan akar pohon durian memiliki efek antipiretik atau penurun panas (Ho & Bhat, 2015), jus durian encer yang disiramkan di kepala dapat menurunkan demam tinggi, daun pohon durian yang dicampur air dapat sebagai terapi jaundice atau penyakit kuning, rebusan daun dan akar pohon durian dapat melegakan tenggorokan karena dahak dan pilek, serta dapat mengatasi masalah kulit seperti bengkak (Tate, 1999).

 

[Conclusion]

     Demikian pembahasan mengenai durian. Meskipun buah ini memiliki banyak keunggulan mulai dari rasa hingga bermanfaat bagi kesehatan, buah ini cukup berbahaya jika mengenai anggota tubuh misalnya kepala. Sebagaimana dalam sebuah artikel dilaporkan ada beberapa pasien dirujuk ke Unit Gawat Darurat karena mengalami ocular injuries (luka di area mata) akibat kejatuhan durian ketika ia istirahat di bawah pohon durian. Maka dari itu, disarankan agar tidak tidur, bermain atau istirahat di bawah pohon durian (Reddy, 2012). Di samping itu, pasien dengan gagal ginjal juga tidak diperkenankan mengkonsumsi durian karena dapat mengakibatkan kondisi berbahaya yang bernama hyperkalemia, yang dalam kondisi tertentu dapat menyebabkan kematian karena melemahnya fungsi jantung (Leo, Leong, Tieh, & Liew, 2011).

 

Selesai, Alhamdulillah…

 

 

Referensi

 

Ansari, R. (2016). Potential use of durian fruit (Durio zibenthinus Linn) as an adjunct to treat infertility in polycystic ovarian syndrome. Journal of Integrative Medicine, 14(1), 22-28. doi:10.1016/S2095-4964(16)60240-6.

 

Gorinstein, S., Poovarodom, S., Leontowicz, H., Leontowicz, M., Namiesnik, J., Vearasilp, S., . . . Tashma, Z. (2011). Antioxidant properties and bioactive constituents of some rare exotic Thai fruits and comparison with conventional fruits. In vitro and in vivo studies. Food Research International, 44(7), 2222-2232. doi:10.1016/j.foodres.2010.10.009.

 

Haruenkit, R., Poovarodom, S., Vearasilp, S., Namiesnik, J., Sliwka-Kaszynska, M., Park, Y.-S., . . . Gorinstein, S. (2010). Comparison of bioactive compounds, antioxidant and antiproliferative activities of Mon Thong durian during ripening. Food Chemistry, 118(3), 540-547. doi:https://doi.org/10.1016/j.foodchem.2009.05.029.

 

Ho, L.-H., & Bhat, R. (2015). Exploring the potential nutraceutical values of durian (Durio zibethinus L.) – An exotic tropical fruit. Food Chemistry, 168 (Supplement C), 80-89. doi:https://doi.org/10.1016/j.foodchem.2014.07.020.

 

Leo, C., Leong, W., Tieh, C., & Liew, C. (2011). Durian induced hyperkalaemia. Medical Journal of Malaysia, 66(1), 66-67.

 

Leontowicz, H., Leontowicz, M., Haruenkit, R., Poovarodom, S., Jastrzebski, Z., Drzewiecki, J., . . . Gorinstein, S. (2008). Durian (Durio zibethinus Murr.) cultivars as nutritional supplementation to rats diets. Food and Chemical Toxicology, 46(2), 581-589. doi:https://doi.org/10.1016/j.fct.2007.08.042.

 

Leontowicz, M., Leontowicz, H., Jastrzebski, Z., Jesion, I., Haruenkit, R., Poovarodom, S., . . . Gorinstein, S. (2007). The nutritional and metabolic indices in rats fed cholesterol-containing diets supplemented with durian at different stages of ripening. BioFactors, 29(2-3), 123-136.

 

Li, J., Schieberle, P., & Steinhaus, M. (2012). Characterization of the major odor-active compounds in Thai durian (Durio zibethinus L. Monthong) by aroma extract dilution analysis and headspace gas chromatography–olfactometry. Journal of Agricultural and Food Chemistry, 60, 11253-11262.

 

Reddy, S. C. (2012). Ocular injuries by durian fruit. International Journal of Ophthalmology, 5(4), 530-534. doi:10.3980/j.issn.2222-3959.2012.04.25.

 

Roongpisuthipong, C., Banphotkasem, S., Komindr, S., & Tanphaichitr, V. (1991). Postprandial glucose and insulin responses to various tropical fruits of equivalent carbohydrate content in non-insulin-dependent diabetes mellitus. Diabetes Research and Clinical Practice, 14(2), 123-131. doi:https://doi.org/10.1016/0168-8227(91)90118-W.

 

United States Department of Agriculture, SR-21 (2016). Durian, raw or frozen nutrition facts and calories.   Retrieved from http://nutritiondata.self.com/facts/fruits-and-fruit-juices/2088/2.

 

Tate, D. (1999). Tropical fruit. Singapore: Tien Wah Press.

 

Teh, B. T., Lim, K., Yong, C. H., Ng, C. C. Y., Rao, S. R., Rajasegaran, V., . . . Tan, P. (2017). The draft genome of tropical fruit durian (Durio zibethinus). Nature Genetics, 49, 1633. doi:10.1038/ng.3972.

 

Terada, Y., Hosono, T., Seki, T., Ariga, T., Ito, S., Narukawa, M., & Watanabe, T. (2014). Sulphur-containing compounds of durian activate the thermogenesis-inducing receptors TRPA1 and TRPV1. Food Chemistry, 157(213-20). doi:10.1016/j.foodchem.2014.02.031.

 

Tharanathan, R. N., Yashoda, H. M., & Prabha, T. N. (2006). Mango (Mangifera indica L.), “The King of Fruits”—An Overview. Food Reviews International, 22(2), 95-123. doi:10.1080/87559120600574493.

 

Voon, H., Bhat, R., & Rusul, G. (2012). Flower extracts and their essential oils as potential antimicrobial agents for food uses and pharmaceutical applications. Comprehensive Review In Food Science and Food Safety, 11(1), 34-55.

 

Wallace, A. (1856). On the bamboo and durian of Borneo. Hookers. J. Bot., 8, 225-230.

 

 

*Doctoral Student in Nursing, Mahidol University, Thailand

*Awardee Beasiswa LPDP Kementerian Keuangan Republik Indonesia Tahun 2016 (Program Doktor Luar Negeri)

*Dosen Keperawatan, FIKES UMMagelang