Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Stress. The ongoing challenges (part II)

Rabu, 08 November 2017 oleh Administrator

Stress. The ongoing challenges (part II)

oleh Sumarno Adi Subrata*

 

   Artikel ini adalah sekuel dari edisi pertama yang telah diupload pada tanggal 1 Agustus 2017 lalu. Dalam edisi tersebut telah dipaparkan tentang definisi, teori, triggers atau pemicu stres serta beberapa dampak stres terhadap tubuh. Sebagai kelanjutannya, edisi yang kedua ini akan menguraikan beberapa indikator atau penanda yang berkaitan dengan stres.

 

[Indikator]

   Indikator adalah sebuah fakta atau tanda yang menunjukkan keadaan sesuatu (Cambridge online dictionary).Tubuh manusia memang dikenal unik dan jujur karena ia mampu merepresentasikan tanda metabolisme tubuh yang tengah terjadi, baik yang bersifat fisiologi (aktfitas normal tanpa keadaan sakit) atau patologi (penyakit). Bahkan stres pada manusia dapat diketahui melalui pemeriksaan penanda tubuh tertentu atau yang dikenal dengan biomarker. Pemeriksaan laboratorium sangat dibutuhkan dalam hal ini. Hanya saja, secara umum metode ini digunakan untuk keperluan penegakan diagnosa medis dan keperluan penelitian karena hasilnya akan lebih objektif dan terukur terkait level stres pada partisipannya. Sementara untuk keperluan pribadi, tidak perlu sampai melakukan cek biomarker, dan nampaknya berlebihan jika dilakukan, karena -pastinya- kita sudah sangat mengenal diri kita dengan baik apakah sedang stres atau tidak. Kalau ternyata diketahui kita tengah stres, maka tinggal dicari solusinya saja.

    Walhasil, kita bisa mengetahui apakah seseorang sedang mengalami stres atau tidak melalui analisa biomarker. Berdasarkan beberapa temuan studi ilmiah, biomarker yang dimaksud adalah:

 

>>Hormon glukortikoid dan katekolamin

   Glukokortikoid dan katekolamin dikenal sebagai hormon penanda stres. Dua hormon ini diproduksi oleh kelenjar adrenal (kelenjar yang menempel di organ ginjal) dan akan terdeteksi ketika seorang mengalami stres (Mostl & Palme, 2002). 

 

   Terkait glukokortikoid atau yang dikenal dengan nama kortisol (Rashid & Lewis, 2005), beberapa studi menjelaskan bahwa tingginya kadar hormon tersebut erat kaitannya dengan diabetes mellitus, karena hormon ini dapat merusak fungsi sel beta pancreas (penghasil insulin) dan mengurangi sensitifitas insulin sehingga tidak bisa bekerja mengendalikan gula darah dengan efektif (Di Dalmazi, Pagotto, Pasquali, & Vicennati, 2012). Glukokortikoid juga memiliki pengaruh terhadap munculnya penyakit jantung atau kardiovaskuler (Pimenta, Wolley, & Stowasser, 2012) dan juga dapat mempercepat proses penuaan (Anderson, Birnie, Koblesky, Romig-Martin, & Radley, 2014; Sapolsky, Krey, & McEwen, 1986).

 

   Sementara itu terkait katekolamin, hormon ini dikenal dengan istilah adrenalin (epinephrine) dan noradrenalin (norepinephrine) (Schommer, Hellhammer, & Kirschbaum, 2003). Hormon lain yang tergolong katekolamin adalah dopamin. Katekolamin memiliki pengaruh meningkatkan tekanan darah dan gula darah, menurunkan pergerakan atau fungsi organ pencernaan, memunculkan depresi, dan kecemasan (Goldstein, 1987). Hormon ini juga diketahui sebagai penyebab stres cardiomyopathy atau broken heart syndrome yaitu sebuah kondisi melemahnya fungsi otot-otot jantung secara cepat sehingga menyebabkan penurunan fungsi jantung secara progresif (Wittstein, 2012).

 

   Maka dari itu, ketika seseorang mengalami stres, maka ia akan berpeluang menderita diabetes, penyakit jantung, mengalami penuaan dini sekalipun masih tergolong umur yang muda, dan berpotensi terkena kecemasan hingga depresi.

 

>> Hormon vasopressin

   Hormon vasopressin atau Antidiuretic hormone (ADH) atau Arginine Vasopressin (AVP) diproduksi di salah satu area otak yang bernama hypothalamus, tepatnya di area supraoptic dan paraventricular nucleus (Robertson, 2001). Hormon ini cukup berperan dalam situasi stres akut (Jezova, Skultetyova, Tokarev, Bakos, & Vigas, 1995), sebagaimana dalam sebuah riset yang menyimpulkan bahwa pasien yang akan mendapatkan treatment operasi bedah jantung mengalami stres dan hal tersebut diamati dari peningkatan kadar hormon ADH (Oka et al., 1981).

 

   Sebagian studi menjelaskan bahwa ketika seorang mengalami stres, maka kadar hormon ini meningkat yang kemudian akan mempengaruhi memori, perilaku sehari-hari (Alescio-Lautier, Paban, & Soumireu-Mourat, 2000; Caffé, Leeuwen, & Luiten, 1987) dan juga ritme sirkadian (Kalsbeek, Fliers, Hofman, Swaab, & Buijs, 2010; Li, Burton, Zhang, Hu, & Zhou, 2009). Ritme sirkadian atau jam biologis adalah sebuah sistem di tubuh manusia yang mampu bekerja untuk mengatur kapan manusia tidur, bangun, makan dan aktifitas lainnya.

 

   Maka, sangat wajar jika seorang tengah mengalami stres khususnya stres akut (tiba-tiba), akan berpengaruh terhadap memori, pola tidur, makan dan perilaku yang lainnya. Pemeriksaan hormon vasopressin telah membuktikan.

 

>> Hormon gonadotropin

   Hormon gonadotropin adalah gabungan istilah dari Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH). Selain sebagai penanda stres, kedua hormon ini sangat penting untuk fungsi reproduksi manusia.

 

   Pada wanita, FSH berperan dalam pertumbuhan serta kesuburan folikel sebelum sel telur diproduksi dan juga meningkatkan sekresi estradiol yang penting bagi rahim dalam proses pembuahan (Christensen et al., 2012). Kemudian, LH berfungsi mensekresikan estradiol, mematangkan sel telur, menstimulasi corpus luteum untuk memproduksi hormon progesteron yang berperan penting dalam awal kehamilan (Christensen et al., 2012; Hillier, 1994; Raju et al., 2013). Sementara itu pada pria, FSH berperan menstimulasi sel Sertoli dalam testis untuk memproduksi sperma (Walker & Cheng, 2005) dan LH berfungsi menstimulasi sel Leydig dalam testis untuk memproduksi testosterone, sebuah hormon yang juga turut berperan dalam produksi sperma (Simoni, Weinbauer, Gromoll, & Nieschlag, 1999).

 

   Kaitannya dengan stres, ketika seseorang mengalami stres khususnya stres akut, maka akan mengacaukan metabolisme hormon ini sehingga menyebabkan beberapa keadaan sebagaimana dijelaskan dalam sebagian riset berikut. Stres dapat mengganggu proses pematangan sel telur pada wanita (Puder, Freda, Goland, Ferin, & Wardlaw, 2000). Stres juga dapat mengacaukan siklus menstruasi (Xiao & Ferin, 1997). Stres jangka panjang dapat mengganggu fungsi reproduksi wanita (Lachelin & Yen, 1978). Bahkan, stres dapat menyebabkan infertilitas (mandul) pada pria (Nargund, 2015). Beberapa studi di atas menggunakan gonadotropin sebagai penanda stres.

 

   Kesimpulannya, beberapa studi di atas yang menggunakan hormon sebagai penanda stres telah membuktikan bahwa stres memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap kesehatan manusia mulai dari menyebabkan penyakit diabetes, penyakit jantung hingga memicu gangguan fungsi reproduksi baik pada pria atau wanita. Maka dari itu, meskipun stres dan stresor (pemicu stres) sulit untuk dihindari, setidaknya kita memiliki kemampuan untuk mengendalikan dua hal tadi sehingga tidak menimbulkan dampak negatif dalam tubuh kita.

 

Artikel ini akan dilanjutkan ke bagian ketiga, Insya Allah…

 

Referensi

 

Alescio-Lautier, B., Paban, V., & Soumireu-Mourat, B. (2000). Neuromodulation of memory in the hippocampus by vasopressin. European Journal of Pharmacology, 405(1-3), 63-72.

 

Anderson, R., Birnie, A., Koblesky, N., Romig-Martin, S., & Radley, J. (2014). Adrenocortical status predicts the degree of age-related deficits in prefrontal structural plasticity and working memory. Journal of Neuroscience, 34(25), 8387-8397.

 

Caffé, A., Leeuwen, F. v., & Luiten, P. (1987). Vasopressin cells in the medial amygdala of the rat project to the lateral septum and ventral hippocampus. Journal of Comparative Neurology, 261(2), 237-252.

 

Christensen, A., Bentley, G. E., Cabrera, R., Ortega, H. H., Perfito, N., Wu, T. J., & Micevych, P. (2012). Hormonal Regulation of Female Reproduction. Hormone and metabolic research = Hormon- und Stoffwechselforschung = Hormones et metabolisme, 44(8), 587-591. doi:10.1055/s-0032-1306301

 

Di Dalmazi, G., Pagotto, U., Pasquali, R., & Vicennati, V. (2012). Glucocorticoids and Type 2 Diabetes: From Physiology to Pathology. Journal of Nutrition and Metabolism, 2012, 525093. doi:10.1155/2012/525093

 

Goldstein, D. (1987). Stress-induced activation of the sympathetic nervous system. Baillieres Clinical Endocrinology and Metabolism, 1(2), 253-278.

 

Hillier, S. (1994). Current concepts of the roles of follicle stimulating hormone and luteinizing hormone in folliculogenesis. Human Reproduction, 9(2), 188-191.

 

Jezova, D., Skultetyova, I., Tokarev, D. I., Bakos, P., & Vigas, M. (1995). Vasopressin and Oxytocin in Stress. Annals of the New York Academy of Sciences, 771(1), 192-203. doi:10.1111/j.1749-6632.1995.tb44681.x

 

Kalsbeek, A., Fliers, E., Hofman, M. A., Swaab, D. F., & Buijs, R. M. (2010). Vasopressin and the Output of the Hypothalamic Biological Clock. Journal of Neuroendocrinology, 22(5), 362-372. doi:10.1111/j.1365-2826.2010.01956.x

 

Lachelin, G., & Yen, S. (1978). Hypothalamic chronic anovulation. American Journal of Obstetric and Gynecology, 130(7), 825-831.

 

Li, J.-D., Burton, K. J., Zhang, C., Hu, S.-B., & Zhou, Q.-Y. (2009). Vasopressin receptor V1a regulates circadian rhythms of locomotor activity and expression of clock-controlled genes in the suprachiasmatic nuclei. American Journal of Physiology - Regulatory, Integrative and Comparative Physiology, 296(3), R824-R830. doi:10.1152/ajpregu.90463.2008

 

Mostl, E., & Palme, R. (2002). Hormones as indicators of stress. Domestic Animal Endocrinology, 23(1-2), 67-74.

 

Nargund, V. (2015). Effects of psychological stress on male fertility. Nature Review Urology, 12(7), 373-382. doi:10.1038/nrurol.2015.112

 

Oka, Y., Wakayama, S., Oyama, T., Orkin, L., Becker, R., Blaufox, M., & Frater, R. (1981). Cortisol and antidiuretic hormone responses to stress in cardiac surgical patients. Canadian Anaesthetists Society Journal, 28(4), 334-338.

 

Pimenta, E., Wolley, M., & Stowasser, M. (2012). Adverse cardiovascular outcomes of corticosteroid excess. Endocrinology, 153(11), 5137-5142.

 

Puder, J., Freda, P., Goland, R., Ferin, M., & Wardlaw, S. (2000). Stimulatory effects of stress on gonadotropin secretion in estrogen-treated women. The Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism, 85(6), 2184-2188.

 

Raju, G. A. R., Chavan, R., Deenadayal, M., Gunasheela, D., Gutgutia, R., Haripriya, G., . . . Patki, A. S. (2013). Luteinizing hormone and follicle stimulating hormone synergy: A review of role in controlled ovarian hyper-stimulation. Journal of Human Reproductive Sciences, 6(4), 227-234. doi:10.4103/0974-1208.126285

 

Rashid, S., & Lewis, G. F. (2005). The mechanisms of differential glucocorticoid and mineralocorticoid action in the brain and peripheral tissues. Clinical Biochemistry, 38(5), 401-409. doi:https://doi.org/10.1016/j.clinbiochem.2004.11.009

 

Robertson, G. (2001). Antidiuretic hormone. Normal and disordered function. Endocrinology & Metabolism Clinics of North America, 30(3), 671-694.

 

Sapolsky, R., Krey, L., & McEwen, B. (1986). The Neuroendocrinology of Stress and Aging: The Glucocorticoid Cascade Hypothesis. Endocrine Reviews, 7(3), 284-301. doi:https://doi.org/10.1210/edrv-7-3-284

 

Schommer, N., Hellhammer, D., & Kirschbaum, C. (2003). Dissociation between reactivity of the hypothalamus-pituitary-adrenal axis and the sympathetic-adrenal-medullary system to repeated psychosocial stress. Psychosomatic Medicine, 65(3), 450-460.

 

Simoni, M., Weinbauer, G., Gromoll, J., & Nieschlag, E. (1999). Role of FSH in male gonadal function. Annales d”Endocrinologie (Paris), 60(2), 102-106.

 

Walker, W., & Cheng, J. (2005). FSH and testosterone signaling in Sertoli cells. Reproduction, 130(1), 15-28.

 

Wittstein, I. (2012). Stress cardiomyopathy: a syndrome of catecholamine-mediated myocardial stunning? Cellular and Molecular Neurobiology, 32(5), 847-857. doi:10.1007/s10571-012-9804-8

 

Xiao, E., & Ferin, M. (1997). Stress-related disturbances of the menstrual cycle. Annals of Medicine, 29(3), 215-219.

 

*Doctoral Student in Nursing, Mahidol University, Thailand

*Awardee Beasiswa LPDP Kementerian Keuangan Republik Indonesia Tahun 2016 (Program Doktor Luar Negeri)

*Dosen Keperawatan, FIKES UMMagelang