Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Alergi pisang – rewording of a case report

Rabu, 04 Oktober 2017 oleh Administrator

Alergi pisang – rewording of a case report

Oleh Sumarno Adi Subrata*

 

       Secara umum, temuan kasus alergi karena makanan sangat rendah prevalensinya yaitu kisaran 3 % - 5 % pada populasi umum dan sekitar 8 % untuk populasi anak-anak. Di lain sisi, sebuah survey menunjukkan bahwa prevalensi kasus alergi sebagai akibat konsumsi buah sekitar 2.2 – 11.5 % pada anak-anak dan 0.4 – 6.6 % pada orang dewasa. Data ini telah memberikan gambaran bahwa angka kejadian alergi makanan ternyata tinggi pada anak-anak, meskipun data pada orang dewasa juga tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Dengan kata lain, semua umur berpotensi terkena alergi makanan hanya saja anak-anak lebih beresiko.

 

          Sebuah kasus yang sangat menarik dan hampir tidak terpikirkan oleh kami sebelumnya bahwa buah pisang dapat menyebabkan alergi bagi sebagian orang, sebagaimana kasus yang telah diinvestigasi oleh Wongsa dan koleganya pada tahun 2016 yang kemudian dipublikasikan di The Bangkok Medical Journal tahun 2017. Kasus alergi ini dikenal dengan nama "raw banana anaphylaxis".

 

      Seorang lansia perempuan berumur 59 tahun, warga Negara Thailand, datang ke IGD dengan tanda urtikaria (biduran), rhinorrhea (hidung dipenuhi cairan), nasal obstruction (sumbatan pada hidung) dan nafas yang pendek. Sekelompok tanda ini terjadi 30 menit setelah pasien tadi mengkonsumsi dua pisang awak bersama paracetamol dengan dosis 1.000 mg. Barangkali ia tengah mengalami sakit kepala atau demam sehingga mengkonsumsi obat tersebut. Tanda lain yang ditemukan saat pengkajian adalah tekanan darah 160/90 mmHg, denyut nadi 80 x / menit, respirasi 15 x / menit dan suhu tubuh 37.2 derajat celcius. Hasil pemeriksaan fisik lainnya, pasien tidak ada gangguan kesadaran, suara ronchi ditemukan di dua sisi paru-paru, hidung bengkak, angioedema (bengkak di lapisan bawah kulit) di kelopak mata, dan keadaan organ lain masih dalam batas normal atau tidak ada gangguan. Pasien tadi kemudian mendapatkan injeksi adrenalin via intramuscular sejumlah 0.5 ml. Sebelum kejadian ini pasien tersebut juga pernah mengalami hal yang sama setelah mengkonsumsi pisang awak dan jamur. Untuk konsumsi buah jenis lain seperti nangka, kiwi, ia sama sekali tidak mengalami reaksi alergi sebagaimana yang telah disebutkan.

 

          Untuk memastikan bahwa pasien tadi alergi pisang atau tidak, tim dokter dari divisi Alergi, Immunologi dan Rheumatologi di Ramathibodi Hospital, Mahidol University, Thailand telah melakukan skin prick test yaitu sejenis test kulit yang berfungsi untuk membuktikan adanya IgE spesifik yang terikat dengan salah satu sel mastosit pada kulit. Ketika IgE dan sel tersebut terikat, maka akan menyebabkan keluarnya zat histamine yang berdampak melebarkan pembuluh darah dan peningkatan permeabilitasnya sehingga menyebabkan kemerahan, bentol, dan gatal pada kulit seperti temuan kasus urtikaria tadi. Hasil dari test tersebut adalah positif artinya si pasien tadi memang alergi pada pisang. Dokterpun menyarankan untuk menghindari mengkonsumsi semua jenis pisang karena dalam buah tersebut terdapat beberapa zat allergen yang cukup sensitive dengan IgE yaitu Mus a 2, Mus a 4 and Mus a 5.

 

      Dari kasus ini dapat disimpulkan bahwa sebagian makanan khususnya buah-buahan (contohnya buah pisang) dapat menimbulkan reaksi alergi bagi sebagian orang. Maka dari itu ketika ada seseorang yang melaporkan beberapa gejala alergi seperti pada kasus ini, kita perlu melakukan anamnesis terhadap riwayat makanan yang telah dikonsumsi dalam beberapa jam terakhir. Bisa jadi ia alergi karena makanan. Sementara itu untuk lebih memastikan bahwa ia alergi terhadap makanan tertentu atau tidak, sangat disarankan untuk dilakukan skin prick test. Tes ini dapat mengetahui seseorang alergi terhadap makanan dari berbagai jenis mulai yang berbahan kacang, bawang, jamur, pisang dan lain sebagainya.

 

Referensi:

Wongsa, C., Intapiboon, P., Dechapaphapitak, N., Tongdee, M., Oncham, S., Kafaksom, T., Laisuan, W. (2017). Tolerance to Baked Banana in Adult with Banana Anaphylaxis. A Case Report. The Bangkok Medical Journal, 13 (1): 53-56.

 

 

*Doctoral Student in Nursing, Mahidol University, Thailand

*Awardee beasiswa LPDP Kementerian Keuangan Republik Indonesia Tahun 2016 (Program Doktor Luar Negeri)

*Dosen Keperawatan, FIKES UMMagelang