Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Seminar regional prodi Ners – An update of emergency care 2017

Rabu, 23 Agustus 2017 oleh Administrator

Seminar keperawatan regional – An update of emergency care 2017

Oleh tim publikasi FIKES

 

Optimalisasi manajemen unit gawat darurat menjadi bagian penting dari layanan primer sebagaimana dalam penanganan tata laksana asma akut, infark miokard akut, syok anafilaksis, koma hipoglikemi, kejang, cedera kepala dan beberapa kasus trauma. Di antara cara yang dapat ditempuh untuk optimalisasi tersebut adalah dengan secara berkala tenaga kesehatan termasuk perawat untuk meng-update ilmu pengetahuan melalui seminar atau pelatihan yang berkaitan dengan kegawat daruratan khususnya di area komunikasi dan skill. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memaksimalkan pelayanan primer yang tentunya secara langsung dapat menekan prevalensi mortalitas khususnya di unit gawat darurat (Ramanayake, Ranasingha, & Lakmini, 2014). Atas salah satu latar belakang di atas, Program Studi Ners Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Magelang pada tanggal 19 Agustus 2017 mengadakan seminar keperawatan regional dengan topic “Update Emergeny Nursing and Critical Case dengan Aplikasi Service Excellent” yang bertempat di Aula Gedung Unit III Universitas Muhammadiyah Magelang dari jam 08.30 – 12.00 WIB.

 

Kegiatan seminar ini dibuka oleh Ir. Eko Muh. Widodo, MT selaku rektor Universitas Muhammadiyah Magelang. Dalam sambutannya, beliau sangat mengapresiasi kegiatan tersebut dan berharap agar seminar seperti ini dapat diadakan kembali oleh mahasiswa profesi ners di periode selanjutnya. Tentunya dengan topik yang berbeda. Seminar ini dihadiri oleh 308 peserta yang terdiri dari dosen keperawatan serta mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Magelang program studi DIII (semester 6) dan S1 Keperawatan (semester 6 dan 8). Di samping itu, panitia seminar juga turut mengundang Ketua DPD PPNI Kabupaten Magelang, Clinical Instructor Stase Gawat Darurat RSUD Tidar Magelang, RSUD Muntilan dan PKU Muhammadiyah Temanggung. Mahasiswa umum dan beberapa perawat dari Rumah Sakit mitra juga menghadiri kegiatan ini.

 

Seminar tentang kegawatdaruratan ini menghadirkan tiga pembicara ahli yaitu Ns. Al Afik, S. Kep., M.Kep (Perawat RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta), Syaifudin, M.Kes dan Eri Yanuar S.Kep., MNsc (IC). Dalam pemaparan materinya, Al Afik menjelaskan bahwa serangan jantung merupakan penyebab kematian yang sering ditemui pada usia 50 tahun keatas. Di Indonesia kematian yang diakibatkan oleh serangan jantung mengalami peningkatan dari 40% menjadi 58%. BLS adalah fondasi untuk menyelamatkan nyawa setelah serangan jantung yang terdiri dari pertolongan langsung pada serangan jantung dan system tanggap darurat, CPR, dan pemberian kejut listrik dengan automated external defibrillator (AED). Institusi pendidikan dan Rumah sakit setidaknya memiliki alat bantu henti nafas untuk menolong korban yang mengalami serangan jantung. Pelatihan tentang bantuan hidup dasar dan sosialisasi tentang cara penggunaan AED juga sangat penting untuk diadakan kepada masyarakat dan tenaga medis dengan harapan agar korban dengan serangan jantung dapat segera mendapat pertolongan.

 

Sementara Syaifudin menjelaskan tentang pentingnya layanan prima. Beliau mengatakan bahwa layanan prima memiliki beberapa tingkat yaitu memenuhi kebutuhan dasar dari pengguna produk/jasa, memenuhi harapan pengguna produk/jasa, melebihi harapan pengguna jasa, dan mengerjakan lebih dari apa yang mereka harapkan sebelumnya. Beberapa hal yang termasuk pelayanan prima yaitu Menyapa dan memberi salam, ramah dan senyum manis, cepat dan tepat waktu, mendengar dengan sabar dan aktif, penampilan yang rapi dan bangga akan penampilan, terangkan apa yang anda lakukan, jangan lupa mengucapkan terimakasih, perlakukan teman sekerja seperti pelanggan, mengingat nama pelanggan. Beliau juga menambahkan tentang prinsip-prinsp layanan prima yaitu dengar, fahami dan responsif pada pelanggan, bangun visi dan strategi layanan prima, tetapkan standar dan ukur kinerja, pilih, latih, dan beri kekuasaan karyawan, akui prestasi dan beri hadiah.

 

Pembicara terakhir yaitu Eri Yanuar menyampaikan tentang aplikasi bahasa standar diagnosa keperawatan. Beliau menjelaskan bahwa bahasa standar diagnosa keperawatan adalah bahasa umum yang sudah dipahami oleh semua perawat yang berfungsi untuk mendeskripsikan kegiatan perawatan serta mampu memberikan makna yang mudah dipahami oleh perawat. Penggunaan bahasa standar ini penting karena Komunikasi yang lebih baik antara perawat dan tenaga kesehatan lain, meningkatkan visibilitas intervensi keperawatan, meningkatkan mutu perawatan pasien, meningkatkan pengumpulan data untuk evaluasi outcome keperawatan, meningkatkan kepatuhan pada standar keperawatan, assessment untuk kopetensi perawat dan untuk keperluan pendidikan, penelitian, dan administrasi.

 

Dari kegiatan seminar ini panitia berharap agar ilmu yang telah disampaikan oleh tiga narasumber dapat memberikan manfaat dan dapat diaplikasikan dalam layanan primer di unit kegawatdaruratan. Kegiatan seminar yang semisal juga diharapkan dapat diadakan kembali oleh angkatan profesi Ners periode selanjutnya.

 

 

Referensi:

Ramanayake, R., P., J., C., Ranasingha, S., & Lakmini, S. (2014). Management of emergencies in general practice: role of general practitioners. Journal of Family Medicine and Primary Care, 3(4), 305-308. doi:  10.4103/2249-4863.148089