Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Stress. The promise and the reality (part I)

Selasa, 01 Agustus 2017 oleh Administrator

Stress. The promise and the reality (part I)

Oleh Sumarno Adi Subrata*

 

[Introduction]

        Stress merupakan bagian dari elemen kehidupan manusia yang sulit untuk dipisahkan. Terkadang stress menjadi motivator untuk sebuah transformasi ke arah yang lebih adaptif (Tache & Selye, 1985). Namun terkadang sebaliknya, menjadi pemicu kondisi yang merugikan. Beberapa studi telah menjelaskan secara detail bahwa episode kehidupan yang penuh tekanan memiliki hubungan yang positif terhadap timbulnya penyakit kronis seperti penyakit jantung iskemik (Engstrom, Hedblad, & Rosvall, 2006), diabetes tipe 2 (Kelly & Ismail, 2015; Pyykkönen et al., 2010), dan kegemukan (Barry & Petry, 2008).

 

        Tekanan hidup/ stress yang tidak termanajemen dengan baik sangat erat kaitannya dengan timbulnya depressi (Cutrona, Russel, & Brown, 2005) yang pada akhirnya memicu bunuh diri (Currier et al., , 2016; Ibrahim, Amit, & Suen, 2014; Rosiek et al., 2016). Hal ini sangat logis jika kita mengamati insiden bunuh diri beberapa waktu terakhir ini mulai dari artis di luar negeri seperti Chester Bennington vokalis band Linkin Park (20 Juli 2017), Chris Cornell vokalis band Audioslave dan Soundgarden (17 Mei 2017) hingga di Indonesia kasus kakak beradik di Bandung yang melakukan aksi bunuh diri dengan melompat dari lantai 5 sebuah Apartemen (24 Juli 2017), kasus seorang pria umur 25 tahun yang bunuh diri dengan melompat dari jembatan Pasupati kota Bandung karena persoalan asmara (27 Juli 2017) dan puluhan kasus lainnya. Survey tahun 2015 oleh World Health Organization mengungkapkan bahwa kasus bunuh diri di Indonesia sejumlah 4.5 kasus per 100.000 populasi di Indonesia (WHO, 2015). Bahkan sebagai salah satu solusi, WHO telah menjadikan tanggal 10 September sebagai Hari pencegahan bunuh diri sedunia / World Suicide Preventing Day (WHO, 2017).

 

            Berdasarkan beberapa studi dan temuan kasus di atas, artikel ini disusun dalam rangka mengenalkan tentang seluk beluk stress dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Harapannya, setelah mengenali atau bersahabat dengan stress, kita lebih mampu memanajemennya dengan baik sehingga tidak menimbulkan dampak negatif terhadap aktifitas sehari-hari.

 

[Definition, theories and triggers of stress]

        Terdapat tiga jenis teori mendasar yang menjelaskan tentang konsep stress. Di antaranya:

 

>>Response based models

         Teori yang pertama dikembangkan oleh Dr. Hans Selye, seorang dokter ahli Endokrinologi. Beliau dikenal sebagai “father of the field of stress research”. Pada publikasi pertama beliau di salah satu Jurnal di Nature pada tahun 1936 beliau mengatakan tentang stress yaitu: “…The nonspecific response of the body to any demand made on it” (Selye, 1976 disitasi dalam Rice, 2012). Maksudnya, stress merupakan respon nonspesifik tubuh terhadap tuntutan lingkungan sekitar. Beliau mengistilahkan respon tersebut dengan General Adaptation Syndrome (GAS) model. Secara detail, respon yang dimaksud berupa meningkatnya respirasi, denyut jantung, tekanan darah, sekresi hormone kortisol, epinefrin (adrenalin), non epinefrin (neuro transmitter yang jika jumlahnya meningkat akan meningkatkan denyut jantung dan lain sebagainya), dan menurunnya fungsi sistem imun tubuh (Rice, 2012).

 

       Teori ini juga mengungkapkan bahwa semua event kehidupan menyebabkan stress, stress tidaklah buruk namun perlu dihindari sebisa mungkin, stressor adalah stimulus yang memerlukan adaptasi yang berupa respon, terkadang penyakit menandakan bahwa seseorang sedang mengalami stress, stress perlu dipantau dan ketika stressor dihilangkan maka stress-pun akan ikut hilang (Tache & Selye, 1985 disitasi dalam Rice, 2012).

 

     Kesimpulannya, teori ini fokus berbicara tentang stress adalah sebuah respon terhadap stimulus/rangsangan. Jadi menurut teori ini jika seseorang mengalami peningkatan jumlah pernafasan melebihi normal permenit (>20x permenit), nadi (>100x permenit), tekanan darah (>120/80 mmHg), gula darah meningkat (puasa > 108 mg/dl dan tidak puasa >140 mg/dl) maka dikatakan orang tersebut sedang mengalami stress sebab peningkatan nilai melebihi batas normal tersebut merupakan respon. Teori ini juga menjelaskan bahwa jika ingin terhindar dari stress maka kenali dan hindarilah stressor dan inilah tugas kita sehari-hari karena boleh jadi setiap orang memiliki stressor yang berbeda-beda meskipun tinggal dalam satu keluarga.

 

>>Stimulus based models

         Teori kedua menjelaskan tentang stress sebagai sebuah stimulus. Teori ini dirumuskan pertama kali pada tahun 1960 (Stangor, 2010) dengan definisi: “stress as a significant life event or change that demands response, adjustment, or adaptation. Maksudnya, stress adalah even kehidupan dan perubahan yang menuntut respon, penyesuaian atau adaptasi. Teori inipun terus berkembang yang kemudian pada tahun 1967, Holmes dan Rahe menyusun instrument dengan nama Social Readjustment Rating Scale (SRRS) yang berisi 42 event kehidupan yang berpotensi menyebabkan stress misalnya pernikahan, perceraian, kehilangan pekerjaan, kehilangan orang yang dicintai dan lain sebagainya (Holmes & Rahe, 1967).

 

          Kesimpulannya, teori ini fokus pada stimulus yang berpotensi menyebabkan stress mulai dari keluarga, pekerjaan, pasangan dan lain sebagainya. Berbeda dengan teorinya Hans Selye yang fokus pada respon.

 

>>Transactional theory of stress and coping

        Teori yang ketiga dikenal dengan Transactional theory of stress and coping yang dirumuskan pertama kali oleh Lazarus dan Folkman pada tahun 1966, meskipun di tahun-tahun berikutnya teori ini mengalami beberapa kali revisi yang cukup signifikan. Di edisi terakhir tahun 1991, teori ini menjelaskan bahwa stress adalah sebuah korelasi atau hubungan (transaction) antara individu dengan lingkungannya (Lazarus, 1991). Di samping itu, teori ini juga menjelaskan tentang definisi coping yaitu sebuah proses kognitif yang spesifik untuk menentukan apakah seorang individu memiliki keyakinan bahwa dia memiliki sumber untuk merespon secara efektif atas tantangan stressor atau perubahan (Folkman & Lazarus, 1988; Lazarus & Folkman, 1987). Teori ini juga mempertimbangkan aspek personal, sosial dan lingkungan yang berperan penting terhadap pengalaman terkait stress (Stangor, 2010). 

 

         Kesimpulannya, teori ini menjelaskan bahwa ketika stress terjadi maka sedang ada problem antara individu dengan lingkungannya, entah dengan orang lain, kesehatan dan lain sebagainya. Teori ini juga menjelaskan tentang koping atau kemampuan untuk menentukan strategi untuk menyelesaikan atau menuntaskan stress. Contohnya, jika kita mengamati seseorang sedang terkena penyakit diabetes, maka menurut teori ini orang tersebut sedang ada problem interaksi dengan lingkungan dan ia diharapkan memilki strategi untuk menyelesaikan masalahnya tersebut. Intinya, teori ini berusaha memandang stress dari beberapa sisi yaitu dari manusia itu sendiri, sosial dan lingkungan sekitarnya. Lebih komprehensif (lengkap/menyeluruh).

 

          Singkatnya, tiga teori tentang stress di atas setidaknya dapat memberikan gambaran bahwa ternyata stress dapat diamati dari beberapa aspek yaitu dari stimulus/rangsangan yang membuat stress (stressor), kemudian dari respon terhadap stimulus itu sendiri dan yang terakhir, stress terjadi sebagai efek dari hubungan antara manusia dengan lingkungannya. Maka dari itu jika ada seseorang berbicara tentang stress, barangkali tidak lepas dari tiga hal tadi karena teori-teori di atas pada dasarnya saling melengkapi.

 

Artikel ini akan dilanjutkan ke bagian kedua, Insya Allah…

 

 

Referensi

 

Barry, D., & Petry, N. (2008). Gender differences in associations between stressful life events and body mass index. Prev Med, 47, 498-503.

 

Currier, D., Spittal, M. J., Patton, G., & Pirkis, J. (2016). Life stress and suicidal ideation in Australian men – cross-sectional analysis of the Australian longitudinal study on male health baseline data. BMC Public Health, 16(Suppl 3), 43-49. doi:10.1186/s12889-016-3702-9

 

Cutrona, C., Russel, D., & Brown, P. (2005). Neighborhood context, personality, and stressful life events as predictors of depression among African American women. Journal Abnorm Psychol, 114, 3-15.

 

Engstrom, G., Hedblad, B., & Rosvall, M. (2006). Occupation, marital status, and low-grade inflammation: mutual confounding or independent cardiovascular risk factors? Arterioscler Thromb Vasc Biol, 26, 643-648.

 

Folkman, S., & Lazarus, R. (1988). Coping as a mediator of emotion. Journal of Personal and Social Psychology, 54, 466-475.

 

Holmes, T., & Rahe, R. (1967). The Social Readjustment  Rating Scale. Journal of Psychosomatic Research, 12(4), 213–233.

 

Ibrahim, N., Amit, N., & Suen, M. W. Y. (2014). Psychological Factors as Predictors of Suicidal Ideation among Adolescents in Malaysia. PLoS ONE, 9(10), e110670. doi:10.1371/journal.pone.0110670

 

Kelly, S., & Ismail, M. (2015). Stress and type 2 diabetes: a review of how stress contributes to the development of type 2 diabetes. Annu Rev Public Health, 36, 441-462. doi:10.1146/annurev-Publhealth--031914-122921

 

Lazarus, R. (1991). Emotion and Adaptation. New York: Oxford University Press.

 

Lazarus, R., & Folkman, S. (1987). Transactional theory and research on emotions and coping. European Journal of Personality, 1, 141-169.

 

Pyykkönen, A.-J., Räikkönen, K., Tuomi, T., Eriksson, J. G., Groop, L., & Isomaa, B. (2010). Stressful Life Events and the Metabolic Syndrome: The Prevalence, Prediction, and Prevention of Diabetes (PPP)-Botnia Study. Diabetes Care, 33(2), 378-384. doi:10.2337/dc09-1027

 

Rice, V. (2012). Handbook of Stress, Coping, and Health: Implications for Nursing Research, Theory, and Practice. Detroit, United States of America: SAGE Publishing.

 

Rosiek, A., Rosiek-Kryszewska, A., Leksowski, Ł., & Leksowski, K. (2016). Chronic Stress and Suicidal Thinking Among Medical Students. International Journal of Environmental Research and Public Health, 13(2), 212. doi:10.3390/ijerph13020212

 

Selye, H. (1976). The stress of life (Rev.ed). New York: McGraw-Hill.

 

Stangor, C. (2010). Introduction to Psychology – 1st Canadian Edition: B.C. Open Textbook Project.

 

Tache, J., & Selye, H. (1985). On stress and coping mechanisms. Issues in Mental Health Nursing, 7, 3–24.

 

World Health Organization. (2015). Suicide rate (per 100.000 population). Retrieved from: http://www.who.int/gho/mental_health/suicide_rates/en/ (30 July 2017)

 

World Health Organization. (2017). World Suicide Prevention Day (WSPD). Retrieved from: http://www.who.int/mental_health/prevention/suicide/wspd/en/ (30 July 2017)

 

 

*Doctoral Student in Nursing, Mahidol University, Thailand

*Awardee Beasiswa LPDP Kementerian Keuangan Republik Indonesia Tahun 2016 (Program Doktor Luar Negeri)

*Dosen Keperawatan, FIKES UMMagelang