Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Dr. Robert Waldinger revealed the good life is built with good relationships (part II)

Selasa, 06 Juni 2017 oleh Administrator

Dr. Robert Waldinger revealed the good life is built with good relationships (part II)

oleh Sumarno Adi Subrata*

 

Bagian pertama dari tulisan ini telah menjelaskan tentang detail penelitian dan hal-hal menarik yang dilakukan oleh Dr. Robert Waldinger dan koleganya. Kemudian, pada bagian kedua ini, akan kami paparkan transkrip penjelasan Dr. Robert Waldinger pada tahun 2015 tentang “what makes a good life?”. Beliau mengatakan:

 

Apa yang membuat kita tetap sehat dan bahagia dalam menjalani hidup? Jika Anda ingin berinvestasi pada versi terbaik dari diri Anda di masa depan, dimanakah Anda akan memprioritaskan waktu dan energi Anda?

 

Sebuah survei terkini telah menanyakan kepada anak-anak muda tentang apa tujuan terpenting dalam hidup mereka. Lebih dari 80% menjawab adalah ingin menjadi kaya dan 50% lainnya menjawab ingin menjadi terkenal. Banyak orang selalu mengatakan bahwa kita harus fokus dalam pekerjaan, bekerja lebih keras dan mencapai yang lebih. Kita diberi kesan seakan-akan inilah yang harus kita kejar untuk mencapai hidup yang baik. Gambaran model kehidupan seperti ini adalah gambaran yang sangat sulit untuk diraih.

 

Untuk mengetahui tentang kehidupan manusia di masa lalu mereka, kita bisa bertanya  kepada mereka. Namun ini bukanlah cara yang akurat. Akan sangat menarik jika kita bisa melihat seluruh kehidupan seiring berjalannya waktu dan mempelajari kehidupan seseorang sejak remaja sampai dengan hari tuanya untuk melihat apa yang membuat orang bahagia dan sehat. Ya, kami telah melakukan hal tersebut. Sebuah penelitian dari Harvard University tentang tentang adult development menjadi studi terlama yang pernah dilakukan. Selama 75 tahun, kami telah mengobservasi sejumlah 724 pria dengan kehidupannya. Setiap beberapa tahun kami menanyakan tentang pekerjaan, rumah tangganya, kesehatan mereka dan tentu saja tanpa mengetahui akan seperti apa kehidupan mereka nantinya.

 

Penelitian seperti ini tergolong sangat langka. Hampir semua proyek yang semisal dengan ini bubar sebelum 10 tahun dengan berbagai sebab. Diantaranya, terlalu banyak orang keluar dari studi, pendanaan untuk penelitian habis, para penelitinya mulai kehilangan arah, mereka meninggal sehingga tidak ada yang melanjutkan penelitian tersebut. Akan tetapi, berkat gabungan dari keberuntungan dan kegigihan beberapa peneliti dari kami, bahkan dari generasi ke generasi, penelitian ini mampu bertahan selama 75 tahun.

 

Sekitar 60 dari 724 pria yang kami observasi selama ini masih hidup dan masih aktif berpartisipasi dalam studi ini. Kebanyakan dari mereka sudah berusia sekitar 90an tahun. Dalam penelitian ini saya menjadi direktur ke-4. Sejak tahun 1938, kami memonitor kehidupan dua kelompok pria. Kelompok pertama, mulai saat mereka menjadi mahasiswa baru di Harvard College. Mereka lulus kuliah saat Perang Dunia II, dan sebagian besar pergi untuk ikut berperang. Sementara untuk, kelompok kedua yang kami ikuti adalah sekelompok anak laki-laki dari kawasan paling miskin di Boston, mereka dipilih untuk studi ini karena mereka berasal dari keluarga yang bermasalah dan hidup miskin pada tahun 1930an. Sebagian besar dari mereka hidup di rumah petak, tanpa akses air panas maupun dingin dan saat kami mulai mengikuti studi ini dengan mewawancarai dan melakukan tes kesehatan, mereka tergolong masih remaja.

 

Kami juga mendatangi rumah mereka serta mewawancarai orang tua mereka. Pada akhirnya, para remaja tadi tumbuh dewasa dan memiliki profesi yang bermacam-macam. Ada yang menjadi buruh, pengacara, tukang bangunan, dokter. Bahkan ada satu orang responden kami menjadi Presiden Amerika Serikat. Ada yang menjadi pecandu minuman keras, beberapa responden menderita schizoprenia. Di sisi ekonomi, beberapa responden mengalami peningkatan strata sosial dari paling bawah hingga paling atas (maksudnya, dari paling miskin menjadi paling kaya) hingga ada yang sebaliknya yaitu dari paling kaya menjadi paling miskin.

 

Para perintis dari penelitian ini tidak pernah menyangka bahwa penelitian ini masih dapat bertahan hingga lebih dari 75 tahun kemudian. Setiap dua tahun, staf kami yang sabar dan berdedikasi menghubungi setiap partisipan, bertanya apakah kami masih bisa mengirimkan beberapa pertanyaan mengenai hidup mereka. Banyak partisipan dari kota Boston bertanya, "Kenapa kalian masih mau mempelajari saya? Hidup saya tidak semenarik itu." Untuk mendapatkan gambaran jelas dari kehidupan mereka, kami tidak sekedar mengirimi mereka daftar pertanyaan. Kami mewawancarai mereka di ruang tamu mereka. Memeriksa rekam medis mereka dari dokter, melakukan pemeriksaan darah lengkap, melakukan scaning pada otak mereka, berbicara dengan anak-anak mereka. Bahkan, kami juga merekam dialog mereka dengan istri tentang kekhawatiran terbesar dalam kehidupan mereka.

 

Dari puluhan ribu halaman data yang kami dapatkan dari hasil penelitian ini, apa yang kami dapatkan bukanlah tentang kekayaan, ketenaran atau bekerja lebih keras. Namun, pesan terjelas yang kami dapatkan dari penelitian selama 75 tahun ini adalah “a good relationship make us happier and healthier” (hubungan yang baik membuat kita semakin bahagia dan sehat). Titik.

 

Selain itu, kami juga telah mempelajari 3 hal penting seputar pentingnya menjalin hubungan yang baik dengan orang lain. Di antaranya:

 

Pertama

Ternyata hubungan sosial sangat baik bagi kita. Penelitian kami telah menjelaskan bahwa orang yang lebih terhubung secara sosial ke keluarga, teman, komunitas, akan lebih bahagia, secara fisik lebih sehat, dan hidup lebih lama dibanding dengan orang yang tidak terhubung dengan baik.

 

Sebaliknya, rasa kesepian ternyata sangat berbahaya. Orang yang terisolasi dari sosial, merasa diri mereka kurang bahagia, kesehatan mereka memburuk lebih cepat di usia paruh baya, fungsi otak mereka menurun lebih cepat, dan hidup mereka lebih singkat. Dan yang menyedihkan adalah ternyata setiap saat, 1 dari 5 orang Amerika merasa kesepian. Sebagaimana kita ketahui bahwa: “Anda bisa merasa kesepian di tengah keramaian, dan Anda bisa merasa kesepian dalam pernikahan

 

Kedua

Yang terpenting bukanlah jumlah teman yang kita miliki saat ini atau apakah kita berada dlam hubungan yang mengikat (menikah) atau tidak. Namun, kualitas hubunganlah yang paling penting. Hidup di tengah konflik sangat buruk bagi kesehatan. Pernikahan yang banyak konflik, tanpa kasih sayang, sangat buruk bagi kesehatan, bahkan lebih buruk dari perceraian itu sendiri. Sebaliknya, memiliki hubungan yang baik dan hangat akan melindungi kesehatan kita.

 

Setelah mengikuti kehidupan responden kami hingga usia 80an tahun, kami ingin melihat kembali hidup mereka saat paruh baya, hal apa yang menjadi prediktor kebahagiaan di masa tuakah dan kami juga ingin melihat kelompok mana yang dapat menikmati hal tersebut dan kelompok mana yang tidak bisa. Setelah kami menganalisa informasi di saat umur responden kami 50 tahun, ternyata mereka merasa bahagia dengan hubungan yang dimiliki. Orang yang paling puas dalam hubungan mereka di usia 50 tahun adalah yang paling sehat di usia 80 tahun. Hubungan yang baik di usia 50 tahun mampu melindungi dari berbagai macam penyakit ketika umur semakin menua.

 

Partisipan kami yang paling bahagia melaporkan, bahwa meskipun mereka sering sakit di usia 80an tahun, namun suasana hati mereka tetap bahagia. Berbeda dengan partisipan yang memiliki hubungan yang tidak baik, ketika jatuh sakit, mereka merasa sakitnya lebih parah. Karena hubungan yang tidak baik tadi ternyata dapat memparah kondisi sakit pada fisiknya.

 

Ketiga

Memiliki hubungan yang baik dengan orang lain tidak hanya melindungi tubuh, akan tetapi juga melindungi otak kita. Orang yang memiliki hubungan hubungan yang baik memiliki ingatan yang cukup tajam. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki hubungan baik, mengalami gangguan daya ingat di usia dini/ paruh baya

 

Hubungan yang baik tidak harus selalu mulus. Beberapa responden pasangan lansia menceritakan kepada kami bahwa mereka bisa cek cok dari hari ke hari. Hanya saja selama mereka dapat saling mengandalkan (dalam menyelesaikan permasalahan), sejatinya pertengkaran tersebut tidak berdampak pada kualitas ingatan mereka.

 

Maka dari itu, pesan tentang hubungan yang baik penting bagi kesehatan dan kebahagiaan seseorang sudah ada sejak lama. Sifatnya pun seumur hidup dan tidak pernah berakhir. Partisipan penelitian ini yang yang paling bahagia adalah mereka yang yang menyandarkan diri pada hubungan yang berkualitas baik dengan keluarga, teman, dan komunitas.

 

Bagaimana dengan Anda? Katakanlah usia Anda 25 tahun, atau 40 tahun, atau 60 tahun. Seperti apakah arti dari menyandarkan diri pada hubungan yang berkualitas? “The good life is built with good relationships”

 

Artikel ini akan dilanjutkan ke bagian ketiga, Insya Allah.

 

Catatan:

Referensi akan dicantumkan di bagian terakhir dari serial tulisan ini.

 

*Doctoral Student in Nursing, Mahidol University, Thailand

*Awardee Beasiswa LPDP Kementrian Keuangan Republik Indonesia Tahun 2016 (Program Doktor Luar Negeri)

*Dosen Keperawatan, FIKES UMMagelang