Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



9 hal yang dapat membahayakan liver (bagian 1)

Rabu, 04 Januari 2017 oleh Administrator

9 hal yang dapat membahayakan liver

(bagian 1)

oleh Sumarno Adi Subrata*

 

Liver atau hati adalah organ tubuh yang terletak tepat di bawah paru-paru sebelah kanan. Beberapa fungsi organ tersebut adalah untuk membersihkan darah, memproduksi protein, empedu hingga menyimpan energi. Untuk menjaga organ tersebut agar tetap sehat, kita perlu mengetahui beberapa jenis makanan dan minuman yang dapat merusaknya. Artikel ini adalah penjabaran dari tulisan Cassoobhoy (2016) tentang Surprising Things That Can Damage Your Liver. Beberapa riset terkini juga telah ditambahkan untuk memperluas pembahasan. Di antara penyebab yang dimaksud adalah:

 

Pertama. Gula

Konsumsi gula jenis fruktosa dapat membahayakan fungsi hati dalam jangka panjang. Bahkan gula sama bahayanya dengan alkohol ketika keduanya sampai di hati, meskipun orang yang mengkonsumsnya tidak sedang mengalami kegemukan. Karena keduanya dapat memicu kerusakan sel hati yang berakibat menurunnya fungsi hati. Sebagian ahli menamainya nya dengan NAFLD/Nonalcoholic Fatty Liver Disease/ penyakit perlemakan hati bagi penderita yang tidak mengkonsumsi alkohol (Basaranoglu, Basaranoglu, & Bugianesi, 2015).

 

Beberapa riset pendukung di antaranya adalah konsumsi tinggi fruktosa juga mengakibatkan penyakit perlemakan hati, obesitas, penurunan fungsi insulin, peningkatan kolesterol, baik pada anak-anak atau orang dewasa (Vos & Lavine, 2013). Ketika seseorang mengkonsumsi banyak makanan atau minuman berfruktosa dan menjadi gemuk, maka dapat memicu gangguan fungsi hati melalui penyakit NAFLD (Basaranoglu, Basaranoglu, Sabuncu, & Senturk, 2013). Secara nyata, fruktosa juga menyebabkan NAFLD sehingga seorang yang memiliki potensi/gen gemuk/penderita NAFLD sangat disarankan untuk membatasi konsumsi fruktosa (Jin & Vos, 2015)

 

Gula jenis fruktosa buatan dapat ditemukan pada makanan/minuman jenis jus buah kemasan, sirup jagung, minuman bersoda, permen, makanan cepat saji yang dibekukan, beberapa jenis saos.

 

Sebenarnya fruktosa dapat kita temukan pada beberapa jenis buah yang tergolong “manis” misalkan semangka, apel, pir, pisang, melon, mangga, leci, jambu biji. Hanya saja bagi seorang yang telah disarankan oleh ahli gizi untuk diet rendah fruktosa (misalkan pada penderita NAFLD) konsumsi buah-buahan tersebut wajib dibatasi.

 

Bagi orang yang sehat –Alhamdulillah- tetap boleh mengkonsumsi buah-buhan berfruktosa alami tersebut namun tetap harus diimbangi dengan gaya hidup lain yang sehat misalkan olah raga atau melakukan aktifitas yang dapat mengeluarkan keringat. Hal tersebut untuk mencegah penimbunan gula berlebih pada hati.

 

Ke dua. Suplemen herbal

Herbal menjadi pokok bahasan ke dua dari penyebab kerusakan fungsi hati. Sebenarnya dalam kondisi normal/sehat, kita tidak perlu mengkonsumsi makanan/minuman yang tergolong herbal, baik untuk melangsingkan tubuh atau perawatan yang lain. Kita bisa memenuhi kebutuhan gizi harian / memodifikasi gaya hidup dengan makanan yang secara alami kita proses dengan memasak, merebus, mengukus dan lain sebagainya. Namun jika –terpaksanya- kita akan mengkonsumsi herbal, maka sangat disarankan untuk konsultasi terlebih dahulu dengan ahlinya untuk memastkan bahwa herbal yang akan kita konsumsi adalah aman, baik untuk jangka pendek/panjang. Misalkan apoteker, dokter ahli gizi klinik, nutrisionis/ahli nutrisi, herbalist. Jadi kita tidak mengkonsumsinya secara “asal-asalan” sehingga dapat membahayakan fungsi hati.

 

Beberapa riset berikut adalah sebagai peringatan bahwa tidak setiap yang dikatakan “herbal” adalah aman untuk dikonsumsi. Tahun 2010 terdapat laporan kasus bahwa ada tiga pasien yang telah menggunakan herbal untuk menurunkan berat badan. Namun akhirnya mereka harus menanggung resiko mengalami kerusakan hati akut atau Acute Liver Injury. Salah satu pasien harus diterapi dengan cangkok hati (Chen et al., 2010).

 

Sebuah studi di Amerika juga menerangkan bahwa herbal yang berfungsi untuk menurunkan berat badan bersifat hepatotoksik/meracuni hati sehingga konsumsinya tidak boleh tanpa konsultasi terlebih dahulu. Pada tahun 2009, telah ditemukan 23 kasus kerusakan hati akibat konsumsi herbal pelangsing (Kaswala, Shah, Patel, Raisoni, & Swaminathan, 2014; Zheng & Navarro, 2015). Single-case report tahun 2015 juga telah melaporkan bahwa terdapat korelasi antara konsumsi herbal pelangsing dengan kerusakan hati (Araujo & Worman, 2015)

 

Solusinya, jika ingin memiliki badan dengan berat badan ideal, maka hindarilah mengkonsumsi herbal sebagai langkah aman pencegahan kerusakan hati. Diet dengan modifikasi jenis makanan harian yang alami serta memperbanyak aktifitas fisik jauh lebih efektif dan aman, baik untuk jangka pendek atau panjang.

 

Ke tiga. Kelebihan berat badan

Kelebihan lemak tubuh dapat menstimulasi sel hati untuk aktif menyimpan lemak sehingga hati menjadi membesar dan dapat memicu Non-alcoholic Fatty Liver Disease/NAFLD. Kondisi tersebut dalam jangka panjang sangat berbahaya karena hati dapat semakin mengeras sehingga menimbulkan penyakt sirosis hepatis. Kami pernah menulis artikel tentang sirosis dalam link ini:

http://fikes.ummgl.ac.id/artikel-101-cirrhosis-hepatic-%E2%80%93-health-and-islamic-perspectives---.html

 

Sebuah studi di Amerika menjelaskan bahwa anak-anak yang mengalami obesitas beresiko terkena perlemakan hati. Sedangkan gold standar (terapi standar) untuk mengatasi kegemukan pada anak adalah dengan family-based behavioral therapy. Sayangnya, program tersebut menunjukkan keberhasilan setelah diikuti selama 10 tahun (Feldstein, Patton-Ku, & Boutelle, 2014). Dalam sebuah review telah dijelaskan bahwa 80 % pasien dengan perlemakan hati adalah mengalami obesitas dengan skor BMI > 30 kg/m2. Artinya seorang yang memiliki BMI (Body Mass Index) dengan skor tersebut beresiko terkena gangguan perlemakan hati/NAFLD (Milic, Lulic, & Stimac, 2014). Obesitas, selain memicu perlemakan hati, juga dapat menyebabkan kanker hati. Bahkan seorang anak dengan obesitas dapat memicu munculnya kanker hati pada saat ia dewasa (Berentzen, Gamborg, Holst, Sørensen, & Baker, 2014; Kikuchi, Oliveira, & Carrilho, 2014)

 

Solusinya, bagi yang terlanjur gemuk, disarankan untuk mulai program penurunan berat badan tanpa herbal. Bagi yang belum gemuk, disarankan untuk tetap memantau berat badan dengan mengukur BMI, menjaga pola makan dan aktifitas.

 

Terkait obesitas, kami pernah menulis artikel tentang masalah tersebut. Silahkan bisa dibaca di link ini: http://fikes.ummgl.ac.id/artikel-99-overweight-and-obesity-%E2%80%93-health-and-islamic-perspective-.html

 

 

Artikel ini akan bersambung ke bagian dua, Insya Allah

 

Referensi:

Araujo, J., & Worman, H. (2015). Acute liver injury associated with a newer formulation of the herbal weight loss supplement Hydroxycut. BMJ Case Rep, 6. doi:10.1136/bcr-2015-210303

 

Basaranoglu, M., Basaranoglu, G., & Bugianesi, E. (2015). Carbohydrate intake and nonalcoholic fatty liver disease: fructose as a weapon of mass destruction. Hepatobiliary Surgery and Nutrition, 4(2), 109-116. doi:10.3978/j.issn.2304-3881.2014.11.05

 

Basaranoglu, M., Basaranoglu, G., Sabuncu, T., & Senturk, H. (2013). Fructose as a key player in the development of fatty liver disease. World Journal of Gastroenterology: WJG, 19(8), 1166-1172. doi:10.3748/wjg.v19.i8.1166

 

Berentzen, T., Gamborg, M., Holst, C., Sorensen, T., & Baker, J. (2014). Body mass index in childhood and adult risk of primary liver cancer. J Hepatol, 60(325-330).

 

Cassoobhoy, A. (2016). Surprising Things That Can Damage Your Liver. Retrieved from http://www.webmd.com/hepatitis/ss/slideshow-surprising-liver-damage

 

Chen, G. C., Ramanathan, V. S., Law, D., Funchain, P., Chen, G. C., French, S., . . . Pham, B. V. (2010). Acute liver injury induced by weight-loss herbal supplements. World Journal of Hepatology, 2(11), 410-415. doi:10.4254/wjh.v2.i11.410

 

Feldstein, A. E., Patton-Ku, D., & Boutelle, K. N. (2014). Obesity, Nutrition and Liver Disease in Children. Clinics in liver disease, 18(1), 219-231. doi:10.1016/j.cld.2013.09.003

 

Jin, R., & Vos, M. (2015). Fructose and liver function--is this behind nonalcoholic liver disease? Curr Opin Clin Nutr Metab Care, 18(5), 490-495. doi:10.1097/MCO.0000000000000203

 

Kaswala, D. H., Shah, S., Patel, N., Raisoni, S., & Swaminathan, S. (2014). Hydroxycut-induced Liver Toxicity. Annals of Medical and Health Sciences Research, 4(1), 143-145. doi:10.4103/2141-9248.126627

 

Kikuchi, L., Oliveira, C., & Carrilho, F. (2014). Nonalcoholic fatty liver disease and hepatocellular carcinoma. Biomed Res Int.

 

Milic, S., Lulic, D., & Stimac, D. (2014). Non-alcoholic fatty liver disease and obesity: Biochemical, metabolic and clinical presentations. World Journal of Gastroenterology: WJG, 20(28), 9330-9337. doi:10.3748/wjg.v20.i28.9330

 

Vos, M., & Lavine, J. (2013). Dietary fructose in nonalcoholic fatty liver disease. Hepatology, 57(6), 2525-2531. doi:10.1002/hep.26299

 

Zheng, E. X., & Navarro, V. J. (2015). Liver Injury from Herbal, Dietary, and Weight Loss Supplements: a Review. Journal of Clinical and Translational Hepatology, 3(2), 93-98. doi:10.14218/JCTH.2015.00006

 

*Doctoral student in nursing, Mahidol University, Thailand

*Dosen keperawatan, FIKES UMMagelang