Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



19 Kebiasaan yang dapat merusak gigi (Bagian 3)

Rabu, 07 Desember 2016 oleh Administrator

19 Kebiasaan yang dapat merusak gigi (Bagian 3)

written by Sumarno Adi Subrata*

 

Artikel ini adalah kelanjutan dari artikel sebelumnya tentang kebiasaan yang dapat merusak gigi, diantaranya adalah:

 

Ke sebelas. Fruit Juice

Jus buah menjadi penyebab berikutnya dari kerusakan gigi. Sebagian dari kita tentu bisa heran, kok bisa? Ya karena pada dasarnya buah sudah terasa manis sehingga tidak perlu penambahan gula. Ketika  kita minum jus buah manis, pada dasarnya kita sedang mengkonsumsi buah (semangka misalnya) plus gula pasir. Tentunya ini juga kurang baik jika dilakukan secara continue. Yang menjadi sorotan adalah konsumsi gulanya. Sebagaimana yang telah dijelaskan pada artikel sebelumnya bahwa gula yang menempel pada gigi akan dimetabolisme oleh bakteri untuk dirubah menjadi asam sehingga dapat merusak gigi (Kawashita, Kitamura, & Saito, 2011).

 

Beberapa penelitian ini akan memberikan penjelasan detail tentang efek jus buah terhadap kesehatan gigi. Diantaranya,

 

Jus jeruk (tidak dijelaskan apakah jus alami atau kemasan) merupakan agen penyebab erosi (kondisi menghilangnya lapisan keras gigi yang dapat menyebabkan gigi berlubang) (Rajavardhan et al., 2014). Sebuah studi di Nigeria menjelaskan bahwa jeruk mengandung asam sitrat, malic, tartaric, benzoic dan asam succinic yang diketahui sebagai agen (penyebab) erosi pada gigi. Meskipun sebenarnya jeruk mengandung banyak nutrisi seperti vitamin, mineral dan serat yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan normal manusia (Bamise & Oziegbe, 2013).

 

Beberapa jus buah seperti jus apel, anggur, buah persik, pir and pisang jika dikonsumsi terlalu sering dapat memicu erosi gigi pada anak dan orang dewasa (Salas et al., 2015)

 

Solusinya, jus buah –bukan kemasan- tetap dianjurkan dengan melihat dosis. Jika dikonsumsi tanpa gula, akan aman. Jika akan ditambah gula maka bisa setengah porsi. Namun jika kita mengkonsumsi buah tanpa dijus akan lebih aman, selain mendapatkan manfaat serat dari buah tersebut plus minimal dapat mengurangi konsumsi gula dalam sehari.  Sebagian pedagang jus sering menyaring sisa blenderan nya, hal ini sangat eman-eman karena sisa saringan tersebut justru memberikan manfaat dalam memudahkan mencerna makanan.

 

Jika jus tersebut -kemasan jadi- seperti di beberapa minimarket/supermarket, maka kurang direkomendasikan untuk dikonsumsi rutin. Karena terdapat beberapa zat yang memicu erosi gigi seperti pemanis buatan.

 

Ke dua belas. Potato Chips

Potato Chips dalam lingkungan kita dikenal dengan ceriping/sejenis keripik kentang. Makanan ini tergolong starchy food atau makanan yang mengandung zat tepung. Makanan ini akan menjadi beresiko menimbulkan kerusakan gigi jika dalam memprosesnya dikombinasikan dengan gula (Campain et al., 2003). Sebuah jurnal klasik juga menjelaskan hal yang sama, bahwa makanan berzat tepung dapat merusak gigi melalui proses demineralisasi/ proses larutnya mineral pada enamel gigi sehingga proteksi gigi menjadi berkurang dan memicu kerusakan gigi (Lingström, Birkhed, Ruben, & Arends, 1994).

 

Mekanisme kerusakan gigi nya karena bakteri pada plak gigi akan merubah zat tepung makanan menjadi asam dan kondisi asam tersebut akan mulai merusak gigi setelah 20 menit. Hal ini dikarenakan makanan berzat tepung dapat menimbulkan hiposalivasi/ menurunnya jumlah saliva (air liur) yang berfungsi sebagai protector gigi. Jadi ya wajar kalau terjadi kerusakan gigi  (Lingström, Houte, & Kashket, 2000)

 

Solusinya, segera melakukan oral hygiene setelah mengkonsumsi starchy food. Sikat gigi, berkumur dan lain sebagainya.

 

Ke tiga belas. Constant Snacking

Constant snacking dapat diterjemahkan dengan “ngemil aja”. Kebiasaan sering ngemil ternyata juga kurang sehat. Apalagi yang dicemil adalah makanan yang memicu hiposalivasi seperti pada makanan berzat tepung, maka ini dapat memicu kerusakan gigi. Akan tetapi jika ngemilnya sehat, Insya Allah tidak apa-apa. Misalnya ngemil buah segar. Karena tidak setiap istilah “ngemil” identik dengan mengkonsumsi makanan yang tidak sehat.

 

Beberapa penelitian menunjukkan adanya korelasi antara kebiasaan “ngemil” yang kurang sehat plus mengkonsumsi minuman bersoda dengan kerusakan gigi pada anak-anak (Punitha, Amudhan, Sivaprakasam, & Rathanaprabu, 2015). Frekuensi ngemil yang bergula pada anak-anak juga memiliki kontribusi dalam memicu kerusakan gigi (Johansson, Holgerson, Kressin, Nunn, & Tanner, 2010; Watanabe et al., 2014). Kondisi ini akan diperparah jika anak kurang memiliki kebiasaan gosok gigi.

 

Selain kebiasaan ngemil, ternyata kebiasaan menyusui hingga anak tertidur dalam posisi putting susu masih menempel di gigi dapat memicu kerusakan gigi pada anak (Mohebbi, Virtanen, Vahid-Golpayegani, & Vehkalahti, 2008)

 

Solusi, kita perlu memberikan edukasi ke anak terkait kebiasaan ngemil yang benar. Membiasakan untuk membilas gigi dengan air putih atau gosok gigi setelah semua proses makan selesai.

 

Ke empat belas. Chewing on Pencils

Chewing on pencils bisa diterjemahkan menjadi kebiasaan sedikit menggigit-gigiti bagian atas yang bukan untuk menulis pada pensil. Jadi tidak diterjemahkan letter lux menjadi “mengunyah pensil”. Karena pensil terbuat dari kayu/plastik dan arang jadi bukan kategori makanan, terlebih lagi jika pensil benar-benar dikunyah kemudian ditelan dapat menyebabkan injuri pada gigi, gusi, lidah, tenggorokan bahkan bisa hingga ke lambung, usus dan akhirnya terjadi kasus luar biasa dengan nama “intoksikasi pensil”.

 

Kebiasaan chewing on pencil dapat menyebabkan keretakan gigi atau istilah medisnya dengan cracked tooth syndrome (Hasan, Singh, & Salati, 2015; Mathew et al., 2012). Tentunya jika ini dilakukan hingga menjadi sebuah kebiasaan dan kekuatan gigitannya juga kuat.

 

Solusinya, kebiasaan mengunyah pencil bisa diganti dengan mengunyah sugarless gum atau permen karet tanpa gula. Jika ada. Jika tidak ada ya harus berusaha sekuat tenaga untuk stop mengunyah pencil saat belajar. Karena selain menjadi penyebab keretakan gigi, sebuah studi menunjukkan bahwa pencil juga merupakan home sweet home-nya virus influenza. Selain pada tempat seperti keyboard, kran air, dinding (Bright, Boone, & Gerba, 2010). Jadi -sedikit diluar topik- untuk mencegah terjadinya influenza khususnya pada anak-anak, maka hindari kebiasaan chewing on pencils.

 

Ke lima belas. Drinking Coffee

Kopi menjadi penyebab berikutnya dari kerusakan gigi yang diawali dari terjadinya erosi gigi  (Kitchens & Owens, 2007). Sebuah studi terbaru di Korea menyimpulkan bahwa terlalu sering konsumsi kopi dapat menyebabkan periodontitis (peradangan dan infeksi pada bagian penyangga gigi/gusi) (Han, Hwang, & Park, 2016). Studi lain juga menjelaskan bahwa kopi juga dapat merubah warna gigi yang semula putih menjadi agak kekuningan atau discolorisasi gigi (Karadas & Seven, 2014).

 

Solusinya, hindari kebiasaan minum kopi. Namun jika sesekali minum tidak menjadi masalah asalkan tetap membilas gigi atau melakukan oral hygiene setelah selesai. Selain efek erosi, juga akan menimbulkan bau yang akan mengganggu aspek sosial. Misalkan saat ngobrol dan lain sebagainya.

 

Sebenarnya kopi juga memiliki efek yang sangat bagus untuk mengurangi resiko kanker pada organ di rongga mulut/oral cavity cancer jika sering dikonsumsi. Sebuah studi telah menjelaskan hal tersebut khususnya untuk populasi di Eropa (Zhang, Wang, & Cui, 2015). Selain kopi, teh juga memiliki fungsi untuk mengurangi resiko oral cavity cancer melalui mekanisme antioksidan yang memiliki peran untuk memperbaiki kerusakan sel, khususnya pada area oral (Radoï et al., 2013)

 

Terkait kopi, terdapat pro dan kontra efek, maka kita harus bijak dalam mengkonsumsinya.

 

Artikel akan bersambung ke bagian empat, Insya Allah…

 

Referensi:

 

Bamise, C., & Oziegbe, E. (2013). Laboratory analysis of pH and neutralizable acidity of commercial citrus fruits in Nigeria. Adv Biol Res, 7, 72-76.

 

Bright, K., Boone, S., & Gerba, C. (2010). Occurence  of bacteria and viruses on elementary classroom surfaces and the potential role of classroom hygiene in the spread of infectious diseases. J Sch Nurs, 26(1), 33-41. doi:10.1177/1059840509354383. Epub 2009 Nov 10.

 

Campain, A., Morgan, M., Evans, R., Ugoni, A., Adams, G., Conn, J., & Watson, M. (2003). Sugar-starch combinations in food and the relationship to dental caries in low-risk adolescents. Eur J Oral Sci, 111(4), 316-325.

 

Han, K., Hwang, E., & Park, J.-B. (2016). Association between Consumption of Coffee and the Prevalence of Periodontitis: The 2008–2010 Korea National Health and Nutrition Examination Survey. PLoS ONE, 11(7), e0158845. doi:10.1371/journal.pone.0158845

 

Hasan, S., Singh, K., & Salati, N. (2015). Cracked tooth syndrome: Overview of literature. International Journal of Applied and Basic Medical Research, 5(3), 164-168. doi:10.4103/2229-516X.165376

 

Johansson, I., Holgerson, P., Kressin, N., Nunn, M., & Tanner, A. (2010). Snacking habits and caries in young children. Caries Res, 44(5), 421-430.

 

Karadas, M., & Seven, N. (2014). The effect of different drinks on tooth color after home bleaching. European Journal of Dentistry, 8(2), 249-253. doi:10.4103/1305-7456.130622

 

Kawashita, Y., Kitamura, M., & Saito, T. (2011). Early Childhood Caries. International Journal of Dentistry, 2011, 725320. doi:10.1155/2011/725320

 

Kitchens, M., & Owens, B. (2007). Effect of carbonated beverages, coffee, sports and high energy drinks, and bottled water on the in vitro erosion characteristics of dental enamel. J Clin Pediatr Dent, 31(3), 153-159.

 

Lingström, P., Birkhed, D., Ruben, J., & Arends, J. (1994). Effect of Frequent Consumption of Starchy Food Items on Enamel and Dentin Demineralization and on Plaque pH in Situ. J Dent Res, 73(3), 652-660.

 

Lingström, P., Houte, J. v., & Kashket, S. (2000). Food Starches and Dental Caries. Crit Rev Oral Biol Med, 11(3), 366-380.

 

Mathew, S., Thangavel, B., Mathew, C. A., Kailasam, S., Kumaravadivel, K., & Das, A. (2012). Diagnosis of cracked tooth syndrome. Journal of Pharmacy & Bioallied Sciences, 4(Suppl 2), S242-S244. doi:10.4103/0975-7406.100219

 

Mohebbi, S., Virtanen, J., Vahid-Golpayegani, M., & Vehkalahti, M. (2008). Feeding habits as determinants of early childhood caries in a population where prolonged breastfeeding is the norm. Community Dent Oral Epidemiol, 36(4), 363-369.

 

Punitha, V. C., Amudhan, A., Sivaprakasam, P., & Rathanaprabu, V. (2015). Role of dietary habits and diet in caries occurrence and severity among urban adolescent school children. Journal of Pharmacy & Bioallied Sciences, 7(Suppl 1), S296-S300. doi:10.4103/0975-7406.155963

 

Radoï, L., Paget-Bailly, S., Menvielle, G., Cyr, D., Schmaus, A., Carton, M., . . . Luce, D. (2013). Tea and coffee consumption and risk of oral cavity cancer: results of a large population-based case-control study, the ICARE study. Cancer Epidemiol, 37(3), 284-289. doi:10.1016/j.canep.2013.02.001. Epub 2013 Feb 28.

 

Rajavardhan, K., Sankar, A. J. S., Kumar, M. G. M., Kumar, K. R., Pranitha, K., & Kishore, K. K. (2014). Erosive Potential of Cola and Orange Fruit Juice on Tooth Colored Restorative Materials. Annals of Medical and Health Sciences Research, 4(Suppl 3), S208-S212. doi:10.4103/2141-9248.141960

 

Salas, M. M. S., Nascimento, G. G., Vargas-Ferreira, F., Tarquinio, S. B. C., Huysmans, M. C. D. N. J. M., & Demarco, F. F. (2015). Diet influenced tooth erosion prevalence in children and adolescents: Results of a meta-analysis and meta-regression. Journal of Dentistry, 43(8), 865-875. doi:10.1016/j.jdent.2015.05.012

 

Watanabe, M., Wang, D.-H., Ijichi, A., Shirai, C., Zou, Y., Kubo, M., . . . Ogino, K. (2014). The Influence of Lifestyle on the Incidence of Dental Caries among 3-Year-Old Japanese Children. International Journal of Environmental Research and Public Health, 11(12), 12611-12622. doi:10.3390/ijerph111212611

 

Zhang, Y., Wang, X., & Cui, D. (2015). Association between coffee consumption and the risk of oral cancer: a meta-analysis of observational studies. International Journal of Clinical and Experimental Medicine, 8(7), 11657-11665.

 

*Doctoral student in nursing, Mahidol University, Thailand

*Dosen Keperawatan, FIKES UMMagelang