Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



19 Kebiasaan yang dapat merusak gigi (Bagian 2)

Sabtu, 03 Desember 2016 oleh Administrator

19 Kebiasaan yang dapat merusak gigi (Bagian 2)

written by Sumarno Adi Subrata*

 

            Artikel bagian pertama telah menjelaskan tentang beberapa kebiasaan yang dapat merusak gigi diantaranya konsumsi makanan/minuman yang terlalu dingin, tidak memakai pelindung gigi saat olah raga, menggunakan dot sebelum tidur, tongue piercing dan grinding teeth. Kemudian diantara penyebab lainnya adalah sebagai berikut:

 

Ke enam. Cough Drops

Istilah cough drops adalah sejenis obat batuk / pelega tenggorokan dalam bentuk permen yang ditambahkan pemanis. Obat ini tidak selalu dalam bentuk permen akan tetapi bisa dalam bentuk sirup, terlebih lagi jika penggunaannya pada anak-anak. Pemanis inilah yang menjadi sorotan para ahli karena dapat memicu kerusakan gigi. Salah satu hal yang terpenting adalah ternyata saliva (air ludah) dapat menjadi pelindung gigi dari kerusakan. Namun beberapa obat (anti kejang, sedative/penenang dan anti-histamin/anti alergi) dapat menurunkan kadar saliva sehingga proteksi gigipun berkurang dan memicu kerusakan gigi (Babu, Doddamani, Naik, & Jagadeesh, 2014; Nirmala et al., 2015).

 

Solusi, setelah mengkonsumsi obat batuk jenis ini maka segera melakukan oral hygiene instruction (OHI) misalnya dengan sikat gigi untuk menghindari endapan gula pada  gigi (Nirmala et al., 2015). Karena gula pada gigi dapat dirubah menjadi kondisi asam oleh bakteri jenis mutans streptococi sehingga bisa merusak lapisan gigi (Aas, Griffen, & Dardis, 2008). Bakteri tersebut sering disebut sebagai acidogenic pathogen, sejenis bakteri yang memicu kondisi asam pada gigi.

 

Atau solusi lain dengan menggunakan obat batuk yang sugar free yang tentunya harus ditanyakan terlebih dahulu kepada apoteker ahli tentang efek sampingnya terhadap gigi .

 

Ke tujuh. Gummy Candy

Gummy candy/permen karet adalah penyebab selanjutnya dari kerusakan gigi. Apalagi beberapa jenis yang agak alot (seperti gulali) sehingga seringkali meninggalkan sisa di gigi. Terlalu banyak studi yang menjelaskan bahwa endapan gula di gigi memicu kerusakan permukaan gigi.  Misalnya, semakin tinggi/banyak mengkonsumsi gula maka kejadian caries gigi juga akan meningkat (Peres et al., 2016), terdapat hubungan antara kerusakan gigi dengan pola diet tinggi gula (Sheiham & James, 2014) dan diet (tinggi gula) adalah faktor terbesar dalam memunculkan caries gigi selain beberapa faktor lain, saliva dan gigi, mikroflora/plak gigi, dan waktu (Gupta et al., 2013).

 

Yang menjadi masalah utama sebenarnya bukan konsumsi gulanya, namun perilaku seteleh mengkonsumsi. Jika segera melakukan oral hygiene, maka resiko kerusakan gigi dapat diminimalisir.

 

Ke delapan. Soda

Minuman bersoda mengandung artificial sweeteners (pemanis buatan), asam fosforik dan sitrat yang dapat merusak gigi. Soda bersifat acidogenik (pemicu kondisi asam pada gigi) dan cariogenik (pemicu caries) sehingga menimbulkan erosi pada gigi (Cheng, Yang, Shao, Hu, & Zhou, 2009). Konsumsi minuman bersoda pada anak juga memicu kerusakan gigi (Lim, Tellez, & Ismail, 2015)

 

Solusinya, tidak membiasakan minum minuman bersoda, setelah mengkonsumsi minuman bersoda baiknya segera melakukan oral hygiene (memakai obat kumur, gosok gigi) atau minum air putih untuk membilas gula dan soda yang menempel di permukaan gigi.

 

Ke sembilan. Membuka sesuatu dengan gigi

Kebiasaan ini juga baiknya dihindari sebisa mungkin, khususnya bagi anak-anak dan lansia. Seperti membuka botol minuman dengan gigi (dapat menyebabkan lecet pada gusi sehingga resiko infeksi), membuka sesuatu barang kemasan dengan gigi. Solusinya, kita bisa menggunakan gunting atau benda lain untuk membukanya sebagaimana yang telah lazim diketahui. Pada poin ini belum ditemukan riset terkait sehingga memahaminya menggunakan logika yang telah diamati dan pelajari melalui pengalaman.

 

Ke sepuluh. Sports Drinks

Sports drinks atau minuman berenergi adalah minuman yang dikonsumsi sebelum, selama dan setelah olahraga sebagai pengganti elektrolit dan cairan yang hilang (rehidrasi). Minuman ini dikonsumsi pada jenis oleh raga yang banyak mengeluarkan keringat seperti basket, sepakbola, lari maraton dan lainnya. Karena jenis olah raga tersebut akan mengeluarkan banyak keringat yang secara alami elektrolitpun juga akan mengikuti.

 

Minuman ini selain sebagai electrolyte replacement/pengganti elektrolit yang hilang, bisa sebagai pengganti karbohidrat jika minuman ini diminum sebelum olah raga ketika kita tidak sempat sarapan/makan.

 

Sisi lain yang perlu diperhatikan pada sport drink adalah dapat menimbulkan efek erosi pada gigi (Noble, Donovan, & Geissberger, 2011). Bahkan ada sebuah temuan kasus bahwa ada seorang laki-laki umur 40 tahun megalami gagal ginjal akut (angka kreatinin meningkat) setelah mengkonsumsi energi drink selama 2-3 minggu berturut-turut. Kemudian setelah disarankan berhenti, maka angka kreatinin (penanda fungsi ginjal) menurun dan kembali normal (Greene, Oman, & Lefler, 2014)

 

Solusinya, mengganti sports drinks dengan air putih karena relatif lebih aman selama olah raga. Dan terhindar dari efek samping, baik jangka panjang atau pendek.

 

Artikel ini akan bersambung ke bagian tiga, Insya Allah…

 

Referensi:

 

Aas, J., Griffen, A., & Dardis, S. (2008). Bacteria of dental caries in primary and permanent teeth in children and young adults. J Clin Microbiol, 46, 1407-1417

 

Babu, K. L. G., Doddamani, G. M., Naik, L. R. K., & Jagadeesh, K. N. (2014). Pediatric liquid medicaments – Are they cariogenic? An in vitro study. Journal of International Society of Preventive & Community Dentistry, 4(2), 108-112. doi:10.4103/2231-0762.137637

 

Cheng, R., Yang, H., Shao, M.-y., Hu, T., & Zhou, X.-d. (2009). Dental erosion and severe tooth decay related to soft drinks: a case report and literature review. Journal of Zhejiang University. Science. B, 10(5), 395-399. doi:10.1631/jzus.B0820245

 

Greene, E., Oman, K., & Lefler, M. (2014). Energy Drink–Induced Acute Kidney Injury. Annals of Pharmacotherapy, 48(10), 1366-1370.

 

Gupta, P., Gupta, N., Pawar, A. P., Birajdar, S. S., Natt, A. S., & Singh, H. P. (2013). Role of Sugar and Sugar Substitutes in Dental Caries: A Review. ISRN Dentistry, 2013, 519421. doi:10.1155/2013/519421

 

Lim, S., Tellez, M., & Ismail, A. I. (2015). Dental caries development among African-American children: results from a 4-year longitudinal study. Community dentistry and oral epidemiology, 43(3), 200-207. doi:10.1111/cdoe.12140

 

Nirmala, S., Popuri, V. D., Chilamakuri, S., Nuvvula, S., Veluru, S., & Minor Babu, M. S. (2015). Oral health concerns with sweetened medicaments: Pediatricians’ acuity. Journal of International Society of Preventive & Community Dentistry, 5(1), 35-39. doi:10.4103/2231-0762.151973

 

Noble, W., Donovan, T., & Geissberger, M. (2011). Sports drinks and dental erosion. J Calif Dent Assoc, 39(4), 233-238.

 

Peres, M., Sheiham, A., Liu, P., Demarco, F., Silva, A., Assunção, M., . . . Peres, K. (2016). Sugar Consumption and Changes in Dental Caries from Childhood to Adolescence. J Dent Res, 95(4), 388-394. doi:10.1177/0022034515625907. Epub 2016 Jan 12.

 

Sheiham, A., & James, W. P. T. (2014). A new understanding of the relationship between sugars, dental caries and fluoride use: implications for limits on sugars consumption. Public Health Nutrition, 17(10), 2176-2184. doi:10.1017/S136898001400113X

 

*Doctoral student in nursing, Mahidol University, Thailand

*Awardee beasiswa LPDP Kemenkeu RI tahun 2016 (Program Doktor Luar Negeri)

*Dosen keperawatan, FIKES UMMagelang