Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



19 Kebiasaan yang dapat merusak gigi (Bagian 1)

Rabu, 30 November 2016 oleh Administrator

19 Kebiasaan yang dapat merusak gigi (Bagian 1)

 written by Sumarno Adi Subrata*

 

Gigi adalah salah satu bagian vital tubuh yang memiliki fungsi untuk pencernaan dan penampilan. Maka, untuk menjaga fungsinya agar tetap maksimal, penting untuk mengetahui hal apa saja yang dapat merusak/minimal membahayakanya. Artikel ini adalah ringkasan artikel yang berjudul 19 kebiasaan yang dapat merusak gigi yang telah di upload di WebMD (Friedman, 2016). Literatur lain juga telah ditambahkan untuk melengkapi pembahasan. Di antara kebiasaan tersebut adalah:

 

Pertama. Mengkonsumsi makanan/minuman yang terlalu dingin

Es batu adalah salah satu agen yang dapat mempengaruhi fungsi gigi, meskipun sebagian orang menyangka bahwa tidak berbahaya karena dikenal natural dan bebas gula. Kasus nyata yang sering terjadi ketika seseorang mengkonsumsi makanan/minuman yang terlalu dingin maka akan mengakibatkan rasa “ngilu” di gigi dengan karakteristik yang tajam serta menusuk dan inilah yang sering disebut sebagai thermal pain in teeth. “Ngilu” termasuk tanda bahwa gigi kita mengalami peradangan meskipun sementara atau istilahnya transient pain. Sebenarnya kondisi seperti ini kurang sehat dan bisa merusak gigi, apalagi jika berlangsung terus-menerus (Lin, Genin, Xu, & Lu, 2014).

 

Solusinya, jika kita ingin mengkonsumsi makanan/minuman, maka aturlah hingga jangan sampai terlalu dingin. Misalkan dengan mendiamkannya beberapa saat setelah keluar dari kulkas. Memang nikmat mengkonsumsinya dalam kondisi dingin, akan tapi kondisi tersebut tidaklah cukup untuk membuat gigi kita tetap sehat.

 

Ke dua. Berolahraga tanpa pelindung mulut

Beberapa olah raga memiliki efek menimbulkan injuri pada gigi (Biagi, Cardarelli, Butti, & Salvato, 2010). Salah satu cabang ilmu gigi yang membahas secara komprehensif masalah efek olah raga terhadap gigi adalah sport dentistry. Penjelasan dari Andresean & Andresean (1994) sebagaimana dikutip oleh Ramagoni, Singamaneni, Rao, & Karthikeyan, (2014) bahwa sport dentistry adalah sebuah tindakan pencegahan injuri pada area oral dan wajah yang disebabkan karena olah raga. Konsep ini terdiri dari dua bagian yaitu tindakan khusus ketika terjadi injuri (salah satunya adalah dengan merujuk ke dokter gigi atau bedah mulut) dan pencegahan agar tidak terjadi injuri (salah satunya dengan memakai pelindung gigi saat melakukan olah raga tertentu seperti football, hockey).

 

Jenis injuri yang biasa terjadi karena olah raga adalah patah gigi, tooth intrusion (gigi tertekan masuk ke gusi), extrusion (salah satu/ beberapa gigi sedikit terlepas dari gusi namun tidak sampai lepas total) dan avulsion (gigi terlepas total dari gusi) dan temporomandibular joint dislocation (dislokasi sendi tulang rahang). Maka dari itu solusinya adalah dengan menggunakan pelindung mulut ketika akan melakukan olah raga sebagaimana yang telah disebutkan dalam paragraf sebelumnya. Pelindung tersebut akan melindungi gigi dan tidak akan memililki efek ke proses respirasi dan bicara, asalkan pemakaiannya benar (Young, Macias, & Stephens, 2015)

 

Ke tiga. Kebiasaan menggunakan dot sebelum tidur

Kebiasaan memberikan minum lewat dot kepada bayi atau anak pada malam hari ternyata kurang baik, hal ini disebabkan karena kandungan gula (laktosa) dalam minuman -yang biasanya manis- botol tersebut dapat merusak gigi (Çolak, Dülgergil, Dalli, & Hamidi, 2013). Seorang anak yang memiliki caries gigi / gigi berlubang, umumnya memiliki pengalaman mengkonsumsi minuman berpemanis dalam waktu yang lama. Pemanis tersebut yang dimetabolisme oleh Mutans Streptococcus (MS) dan laktobasil ini dapat menyebabkan demineralisasi (hilangnya garam mineral jenis hidroksiapatit yang ada dipermukaan gigi) sehingga gigi kehilangan proteksi kemudian mudah rusak. (Kawashita, Kitamura, & Saito, 2011)

 

Solusinya adalah dengan menghindari pemakaian dot sepanjang malam. Atau sesaat setelah selesai mengkonsumsi minuman manis lewat dot, anak diberi minuman air putih sebagai pembilas gigi agar terbebas dari endapan gula. 

 

Ke empat. Tongue Piercing

Tongue piercing menjadi faktor keempat penyebab rusaknya gigi. Meskipun terlihat keren –bagi sebagian orang- sebenarnya tren ini cukup berbahaya bagi gigi. Karena ketika logam piercing menyentuh gusi gigi bawah dapat berakibat lecet dan berakibat infeksi sehingga dampak jangka panjang bisa menyebabkan rusaknya gigi (Plastargias & Sakellari, 2014; Plessas & Pepelassi, 2012). Bahkan dalam sebuah studi dijelaskan bahwa tongue piercing dapat menyebabkan keretakan gigi (Ziebolz et al., 2012)

 

Solusinya, menghindari mencoba tren ini. Selain tergolong pemborosan uang, kurang bermanfaat dapat juga mengakibatkan infeksi, dan juga merusak gigi.

 

Ke lima. Grinding Teeth

Grinding teeth dapat mempengaruhi kestabilan gigi jika berlangsung cukup lama dan tekanannya kuat. Grinding teeth adalah kebiasaan mengerat gigi/kondisi bersentuhan dan saling menggesekkan gigi antara bawah dan atas sehingga menimbulkan bunyi khas yang muncul dalam keadaan sadar (saat marah) atau tidak sadar (saat tidur). Nama lain kebiasaan ini adalah bruxism, sebuah kebiasaan yang dapat memicu nyeri rahang (Reddy, Kumar, Sravanthi, Mohsin, & Anuhya, 2014), gangguan tidur dan orofacial pain/nyeri pada wajah, rahang dan mulut (Khoury, Carra, Huynh, Montplaisir, & Lavigne, 2016).

 

Di antara solusi yang ditawarkan sebagaimana tercantum dalam artikel aslinya yaitu mengunakan pelindung gigi (seperti yang digunakan petinju), meskipun sebenarnya bagi sebagian orang cukup bersiko menimbulkan gangguan pernafasan, apalagi mereka yang berbadan gemuk.

 

Artikel ini bersambung ke bagian-2, Insya Allah…

 

Referensi

 

Andresean, J., & Andresean, F. (1994). Textbook of Color Atlas of Traumatic Injuries to the Teeth (3 ed.). Copenhagen: Munksgaard.

 

Biagi, R., Cardarelli, F., Butti, A., & Salvato, A. (2010). Sports-related dental injuries: knowledge of first aid and mouthguard use in a sample of Italian children and youngsters. Eur J Paediatr Dent, 11(2), 66-70.

 

Çolak, H., Dülgergil, Ç. T., Dalli, M., & Hamidi, M. M. (2013). Early childhood caries update: A review of causes, diagnoses, and treatments. Journal of Natural Science, Biology, and Medicine, 4(1), 29-38. doi:10.4103/0976-9668.107257

 

Friedman, M. (2016). 19 Habits That Wreck Your Teeth.   Retrieved from http://www.webmd.com/oral-health/ss/slideshow-teeth-wreckers

 

Kawashita, Y., Kitamura, M., & Saito, T. (2011). Early Childhood Caries. International Journal of Dentistry, 2011, 725320. doi:10.1155/2011/725320

 

Khoury, S., Carra, M., Huynh, N., Montplaisir, J., & Lavigne, G. (2016). Sleep Bruxism-Tooth Grinding Prevalence, Characteristic, and Familial Aggregation: A Large Cross-Sectional Survey and Polysomnographic Validation. Sleep, 39(11), 2049-2056.

 

Lin, M., Genin, G. M., Xu, F., & Lu, T. (2014). Thermal Pain in Teeth: Electrophysiology Governed by Thermomechanics. Applied Mechanics Reviews, 66(3), 0308011-03080114. doi:10.1115/1.4026912

 

Plastargias, I., & Sakellari, D. (2014). The Consequences of Tongue Piercing on Oral and Periodontal Tissues. ISRN Dentistry, 2014, 876510. doi:10.1155/2014/876510

 

Pleassas, A., & Pepelassi, E. (2012). Dental and periodontal complications of lip and tongue piercing: prevalence and influencing factors. Aust Dent J, 57(1), 71-78. doi:10.1111/j.1834-7819.2011.01647.x.

 

Ramagoni, N. K., Singamaneni, V. K., Rao, S. R., & Karthikeyan, J. (2014). Sports dentistry: A review. Journal of International Society of Preventive & Community Dentistry, 4(Suppl 3), S139-S146. doi:10.4103/2231-0762.149019

 

Reddy, S. V., Kumar, M. P., Sravanthi, D., Mohsin, A. H. B., & Anuhya, V. (2014). Bruxism: A Literature Review. Journal of International Oral Health : JIOH, 6(6), 105-109.

 

Young, E. J., Macias, C. R., & Stephens, L. (2015). Common Dental Injury Management in Athletes. Sports Health, 7(3), 250-255. doi:10.1177/1941738113486077

 

Ziebolz, D., Hildebrand, A., Proff, P., Rinke, S., Hornecker, E., & Mausberg, R. F. (2012). Long-term effects of tongue piercing — a case control study. Clinical Oral Investigations, 16(1), 231-237. doi:10.1007/s00784-011-0510-6

 

*Doctoral student in nursing, Mahidol University, Thailand

*Awardee beasiswa LPDP Kemenkeu RI tahun 2016 (Program Doktor Luar Negeri)

*Dosen keperawatan, FIKES UMMagelang