Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Artikel : Akan lupa keluarga

Kajian Online Pekanan 

Pekan ke-2: Seri anak dan keluarga
Edisi XV/Tahun ke-IV/Januari/2020
Program “Go Islamic”
FIKES UMMagelang
 
Akan lupa keluarga
 
Aisyah radhiyallahu anha pernah menangis lantaran ingat neraka. Ia pun kemudian bertanya kepada Rasulullah shallaallahu alaihi wa sallam tentang apakah kita akan masih ingat keluarga di Hari Kiamat nanti? Kemudian dijawab:
 
 
"...Ada tiga keadaan dimana kita akan lupa dengan keluarga:
 
1) Ketika berada di sisi timbangan amal, sampai mengetahui hasil timbangannya ringan atau berat
 
2) Saat fase pembagian buku catatan amal, hingga mengetahui apakah akan menerimanya dari kanan, kiri, atau belakang
 
3) Ketika berada di atas Shirath (jembatan) yang dibentangkan di atas neraka jahannam (HR. Abu Dawud no.4755, Shahih)
 
 
Topik ini masih berkaitan dengan topik minggu lalu di seri Aqidah, di mana di Padang Mahsyar nanti akan ada sebuah episode dimana kita akan benar-benar lupa dengan keluarga. Hal ini disebabkan karena kondisi di sana yang berlipat-lipat rumitnya yang menjadikan setiap orang super sibuk dengan urusannya masing-masing. Dan akhirnya wajar, jika kondisi yang sedemikian rupa itu menyebabkan seseorang terdistraksi dari memperhatikan keluarganya sendiri.
 
 
Lain halnya di dunia, jika seorang Muslim lupa atau melupakan keluarganya, maka akan menjadi sebuah hal yang memprihatinkan dan keterlaluan. Karena sesibuk-sibuknya aktifitas seseorang di dunia, adalah akan sangat sulit melupakan keluarganya sendiri.
 
 
Kemudian dalam hadits di atas, Aisyah radhiyallahu anha menangis ketika menanyakan perihal keluarganya di Hari Kiamat. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga memiliki kedudukan yang penting dalam sanubari seorang Muslim.
 
 
Oleh karena itu, sebelum datang masa dimana kita akan lupa dengan mereka, bukanlah hal yang mengherankan bilamana Islam memerintahkan secara khusus untuk berbuat baik dan memberi perhatian kepada keluarga, semaksimal mungkin (Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah no.285 karya Al Albani). Berikut ada sebagian kecil contoh dari bentuk "perhatian" tersebut:
 
 
Rutin mendoakan untuk kebaikan dunia dan akhirat mereka, menjaga komunikasi agar tetap terjalin baik, memenuhi kebutuhan atau keperluannya semampu kita, berbaik sangka kepada mereka, memperhatikan kondisi kesehatannya, dan mengingatkannya tentang ibadah. 
 
 
Di samping itu, juga tidak semestinya meninggikan suara di hadapan mereka, tidak berlaku kasar baik secara verbal atau fisik kepada mereka, tidak menyusahkan mereka, tidak memaksakan kehendak pribadi kita kepada mereka, dan tidak menuntut sesuatu di luar batas kemampuan finansial, fisik serta psikis mereka.
 
 
Akhirnya, semoga Allah subhaanahu wa taala senantiasa menjaga keluarga kita kapanpun dan dimanapun mereka berada, baik di dunia maupun di Akhirat, Aamiin.