Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Artikel : Aqidah tentang perjalanan ruh (15): Padang mahsyar 8

Kajian Online Pekanan 
Pekan ke-1: Seri Aqidah
Edisi XIV/Tahun ke-IV/Januari/2020
Program “Go Islamic”
FIKES UMMagelang

 

Aqidah tentang perjalanan ruh (15): Padang mahsyar 8

 

Setelah Yaumul Hisab selesai, fase selanjutnya adalah pembagian buku catatan amal kepada setiap manusia. Buku tersebut diibaratkan seperti buku catatan harian yang berisi seluruh aktifitas setiap manusia secara detail di sepanjang hidupnya (QS. Al Qamar ayat 52 dan 53).

 

Buku tersebut terisi, karena ada Malaikat yang telah diberi amanah secara khusus untuk mencatat, yakni Malaikat pencatat amal baik yang berada di sebelah kanan manusia dan Malaikat pencatat amal buruk yang berada di sebelah kiri manusia (QS. Qaf ayat 17 dan 18; Abdurrahman bin Nashir As Sadi dalam Tafsir Karimirrahman akan ayat tersebut).

 

Sebagian referensi menjelaskan bahwa dua Malaikat itu bukanlah "Raqib" dan "Atid". Karena sebenarnya, dua istilah tersebut adalah dua sifat yang diberikan oleh Allah subhaanahu wa taala kepada Malaikat pencatat amal.

 

"Raqib" bermakna: senantiasa mengawasi siang dan malam, tidak pernah berpisah dengan manusia. Sedangkan "Atid" bermakna: senantiasa hadir, tidak mungkin absen atau mewakilkan tugas kepada yang lain (Tafsir Al Quran Al Karim karya Ibnu Utsaimin hal. 93,  Surat Al-Hujurat – Al Hadid).

 

Kemudian, sebelum buku catatan amal tersebut dibagikan, seluruh manusia akan berada dalam keadaan bertekuk lutut, menanti panggilan dari Allah subhaanahu wa taala.

 

"Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya...” (QS. Al Jatsiyah ayat 28).

 

Menarik untuk diketahui bahwa, terdapat beragam proses dalam pembagian buku catatan amal. Di antaranya, ada yang menerima buku tersebut dari arah kanan, yang menunjukkan bahwa urusan berikutnya dari si penerima akan menjadi mudah (QS. Al Insyiqaq ayat 7-9). Bahkan, mereka akan diminta membaca isi bukunya, yang pada akhirnya mereka bahagia, karena buku tersebut berisi hal-hal yang baik (QS. Al Haqqah ayat 19; Penjelasan Dr. Shalih Al Fauzan, Anggota Haiah Kibarul Ulama, Saudi Arabia).

 

Namun, ada juga yang menerima buku catatan amal dari arah kiri atau bahkan belakang. Hal ini menjadi pertanda, bahwa urusan berikutnya dari si penerima tersebut akan menjadi sulit (Al Haqqah ayat 25-29; QS. Al Insyiqaq ayat 10; Syarah Aqidah Wasithiyyah no.2/150-151 karya Ibnu Utsaimin).

 

Oleh sebab itu, fase pembagian buku catatan amal ini merupakan di antara penentu apakah seorang Manusia akan bahagia atau sengsara.

 

Mengingat akan betapa pentingnya hal ini, maka selagi kita masih diberikan kesehatan badan dan waktu luang, hendaknya memperbanyak amal baik, agar kelak buku catatan amal kita penuh berisi hal-hal yang baik.

 

Karena di dalam Islam, berniat baik saja akan dicatat sebagai amal baik, apalagi jika sampai merealisasikannya. Pahalanya akan dilipat gandakan sebanyak 10 hingga 700 kali, dan hingga tak terhitung jumlahnya (HR. Bukhari no.6491, Shahih).

 

Begitu juga sebaliknya, jika kita tergelincir dalam sebuah kesalahan, maka bersegeralah memohon ampun kepada Allah subhaanahu wa taala tanpa perlu menunggu nanti-nanti, apalagi besuk-besuk, Karena...

 

"Malaikat yang berada di sebelah kiri, akan mengangkat penanya selama enam jam, dari mencatat amal seorang hamba yang berbuat dosa. Jika dia menyesal dan memohon ampun kepada Allah subhaanahu wa taala atas dosa itu, maka malaikat itu tidak akan mencatatnya. Jika tidak (maksudnya, jika tidak bertaubat selama 6 jam tersebut), maka perbuatan dosa itu akan dicatat sebagai satu dosa" (Shahih Al Jami Ash Shaghir no.2/212 karya Al Albani).

 

Semoga bermanfaat.

 

Bersambung...