Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Artikel : Aqidah tentang perjalanan ruh (13): Padang mahsyar - 6

Kajian Online Pekanan 
Pekan ke-1: Seri Aqidah
Edisi VI/Tahun ke-IV/November/2019
Program “Go Islamic”
FIKES UMMagelang

 

Aqidah tentang perjalanan ruh (13): Padang mahsyar - 6

 

Setelah fase Syafaat, tahapan selanjutnya dari peristiwa di padang mahsyar adalah fase Yaumul Hisab.

 

Hisab memiliki beberapa makna yaitu menampakkan amal (baik atau buruk) yang disertai pengakuan dari manusia. Dalam sebagian kondisi juga disertai pengampunan dari Allah subhaanahu wa taala. Makna yang lainnya yaitu memeriksa amal secara detail satu per satu, sehingga semua hal baik atau buruk yang telah dilakukan setiap manusia selama di dunia, akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban (Mukhtashar Maarij Al Qabul Hafizh al Hakami karya Hisyam Ali Uqbah).

 

Sebelum manusia di hisab, para binatang akan dihisab terlebih dahulu.

 

Misalnya, jika ketika di dunia ada kambing bertanduk yang menyeruduk kambing tidak bertanduk hingga terluka, maka kelak di padang mahsyar, kambing yang tidak bertanduk tadi akan menyeruduk balik kepada kambing yang bertanduk. Yang menggigit akan digigit balik. Yang dicakar akan dicakar balik dan seterusnya hingga semua binatang yang terzhalimi mendapatkan keadilan. Setelah semuanya selesai, Allah subhaanahu wa taala merubah para binatang tersebut menjadi tanah (Tafsir Juz Amma karya Ibnu Ustaimin; QS. An Naba ayat 40).

 

Kemudian setelah itu, manusia pun mulai dihisab, dan dia akan berduaan dengan Allah subhaanahu wa taala. Tidak seorang pun yang melihat dan mendengarnya. Allah subhaanahu wa taala lalu menunjukkan kesalahan-kesalahannya dan berkata: “Apakah kamu mengetahui dosa ini? Apakah kamu mengakui dosa ini?” Maka si mukmin tadi menjawab, “Ya wahai Rabb-ku, aku mengetahuinya.” Tiap kali ditunjukkan dosa-dosanya, ia terus mengakuinya (HR. Muslim no.2768, Shahih).

 

Dari hadits di atas terkandung sebuah pelajaran bahwa seorang Mukmin sejati harus berani secara terus terang mengakui kesalahan-kesalahannya dan tidak berusaha menutup-nutupinya atau malah membela diri ketika ada seorang yang mengingatkannya.

 

Di antara kondisi yaumul hisab adalah mulut manusia tidak bisa bicara. Namun yang berbicara adalah organ tubuhnya. Allah subhaanahu wa taala berfirman:

 

"Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan" (QS. Yaasin ayat 65).

 

Juga dalam fase ini, amal kebaikan dan keburukan yang kecil atau sangat kecil atau bahkan sangat sepele, semuanya akan mendapatkan balasan yang seadil-adilnya (QS. Al Zalzalah ayat 7 dan 8).

 

Oleh sebab itu, perbuatan baik, sekecil apapun itu, sama sekali tidak akan pernah mendatangkan kerugian di Hari Kiamat, bahkan akan mendapatkan balasan yang sesuai kadar kebaikan tersebut. Namun, berlaku juga sebaliknya.

 

Bersambung...

 

Semoga bermanfaat.