Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Artikel : Yang memaafkan, akan dimaafkan

Kajian Online Pekanan 
Pekan ke-4: Seri Adab dan Tazkiyatun Nufus
Edisi LII/Tahun ke-III/September/2019
Program “Go Islamic”
FIKES UMMagelang

 

Yang memaafkan, akan dimaafkan

 

Ibnul Qayyim Al Jauziyyah pernah menyampaikan:

 

Wahai anak cucu Adam, sungguh antara engkau dan Allah ada dosa-dosamu yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. Maka, jika engkau senang dengan pengampunan-Nya untuk engkau, maka bermurahlah untuk memaafkan hamba-Nya.

 

Dan jika engkau senang agar Dia memaafkan engkau, maka maafkanlah hamba-hamba-Nya. Karena balasan itu disesuaikan dengan jenis amalan.

 

(Badaiu Al Fawaid no. 2/468 karya Ibnul Qayyim Al Jauziyyah)

 

Ucapan Ibnul Qayyim di atas mengingatkan tentang sebuah kaidah:

 

"Balasan akan diberikan sesuai dengan jenis amalan".

 

Maksudnya adalah setiap perbuatan yang kita lakukan maka balasannya akan kembali kepada kita dalam beberapa bentuk di antaranya: baik atau buruk atau mungkin keduanya sekaligus.

 

Jika kita berbuat baik, maka kita akan dibaiki. Jika kita memaafkan, maka kita akan dimaafkan. Jika kita membantu, maka kita akan dibantu, dan seterusnya.

 

Lebih spesifik tentang topik ini, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda:

 

"Jika ada seseorang yang menghinamu dan mempermalukanmu dengan sesuatu yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang engkau ketahui ada padanya. Akibat buruk biarlah ia yang menanggungnya” (HR. Abu Daud no. 4084. Hadits ini dishahihkan oleh Al Hafizh Abu Thohir dan Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani).

 

Sahabat Ibnu Abbas pernah mengatakan:

“Allah memerintahkan pada orang beriman untuk bersabar ketika ada yang membuat marah, membalas dengan kebaikan jika ada yang buat jahil, dan memaafkan ketika ada yang buat jelek”

 

Lantas, Ibnu Katsir-pun berkomentar:

“Namun yang mampu melakukan seperti ini adalah orang yang memiliki kesabaran. Karena membalas orang yang menyakiti kita dengan kebaikan adalah suatu yang berat bagi setiap jiwa.” (Tafsir Al Quran Al Azhim no. 6: 529-530 karya Ibnu Katsir).

 

Beberapa penjelasan di atas mengindikasikan  bahwa Islam mengedukasi dan memerintahkan umatnya agar dapat menjadi seorang muslim yang berjiwa besar, mudah berlapang dada dan juga mudah memaafkan kesalahan orang lain. Siapapun orangnya dan apapun bentuk kesalahannya, baik besar atau kecil, baik yang menimbulkan mudharat besar atau kecil.

 

Barangkali akan timbul rasa yang -mungkin- berat untuk memaafkan. Namun, ketika merasakannya, ingatlah bahwa sejatinya kita juga membutuhkan pengampunan nanti di Alam Barzakh atau di Padang Mahsyar. Oleh sebab itu, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Ibnul Qayyim di atas, dengan memaafkan orang lain, semoga apa yang kita butuhkan di Hari Kiamat, yaitu berupa maghfirah atau ampunan dari Allah subhaanahu wa taala atas semua dosa-dosa, dapat kita peroleh secara sempurna, utuh dan tidak berkurang sedikitpun.

 

Semoga dan semoga.