Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Artikel : Bom bunuh diri: 100 % murni bukan jihad

Kajian Online Pekanan 
Pekan ke-2: Seri Anak dan Keluarga
Edisi XLI/Tahun ke-III/Juli/2019
Program “Go Islamic”
FIKES UMMagelang

 

Bom bunuh diri: 100 % murni bukan jihad

 

Berikut beberapa fatwa terkait hal tersebut:

 

Pertama
Abdul Aziz bin Baz, eks Ketua Lembaga Riset dan Fatwa Saudi Arabia menyampaikan:

 

"...Telah berulang kali kami ingatkan bahwa hal ini tidaklah benar, termasuk suatu kesalahan yang tidak boleh dilakukan. Wajib bagi mereka berdakwah ke jalan Allah subhaanahu wa taala dengan pendidikan, pengarahan, dan nasehat, tanpa meledakkan diri seperti ini".

 

(Al Fatawa Asy Syariiyyah fi Al Qadhaya Al Ashriyyah hal.125)

 

Kedua
Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, eks Anggota Haiah Kibarul Ulama Saudi Arabia, juga memberikan penekanan:

 

"Adapun yang telah dilakukan oleh sebagian orang dengan bom bunuh diri, maka hal tersebut bukanlah sebuah kemaslahatan dalam Islam. Pelakunya tidak dianggap mati syahid".

 

(Syarah Riyadhus Shalihin no.1/165 karya Ibnu Utsaimin).

 

Dua fatwa internasional di atas muncul karena dilatarbelakangi oleh maraknya pemikiran takfiri* dari sebagian pemuda, yang sering atau hampir selalu membuahkan peledakan di berbagai tempat, termasuk di Indonesia. Parahnya, yang menjadi korban tidak hanya dari kalangan non muslim saja. Namun, seringkali juga dari para pekerja, pedagang serta orang-orang miskin dari kaum muslimin. Belum lagi, mereka telah merusak fasilitas umum milik negara tanpa mau ganti rugi atau tanggung jawab, dan berbagai mudharat lainnya.

 

Urgen untuk diketahui bahwa, metode dakwah yang tergolong ekstrim seperti itu justru secara dramatis akan menjauhkan masyarakat dari Islam. "Menjauhkan" maksudnya adalah memunculkan rasa phobia, atau bahkan enggan mendalami atau mengamalkan sebagian ajaran Islam karena kuatir akan dicurigai sebagai teroris.

 

Kemudian, bila topik ini dikorelasikan dengan konteks kehidupan anak dan keluarga, maka sudah menjadi tugas orang tua untuk mengarahkan anak-anaknya khususnya dalam hal memilih tempat belajar agama. Dan juga, sangat perlu bagi orang tua untuk memiliki wawasan yang adekuat, sehingga dapat merekomendasikan kepada anak terkait: nama-nama ustadz atau ustadzah, tempat ngaji, referensi buku-buku Islam yang berlandaskan dalil yang shahih, website Islam yang ilmiah, amanah serta bebas dari pemikiran takfiri.

 

Di samping itu, orang tua juga perlu memantau serta menanyakan kepada anak-anak tentang: dimana ia belajar agama, kepada siapa ia menimba ilmu agama, teman pengajiannya siapa saja, apa yang diajarkan saat ngaji, sering surfing di website Islam apa saja, sering nonton kajiannya siapa dan pertanyaan lain yang sekiranya relevan.

 

Agar tercipta suasana yang nyaman, hal-hal di atas perlu ditanyakan dalam konteks yang santai (misalnya, sambil ditraktir makan atau jalan-jalan), sehingga anak tidak merasa menjadi tersangka yang tengah diinvestigasi. Dalam hal ini, masing-masing orang tua tentu lebih paham akan bagaimana menciptakan suasana komunikasi yang kondusif dan seluwes mungkin bersama anak-anak.

 

Tidak hanya itu saja, aktifitas anak di sosial media (sosmed) juga butuh untuk diawasi, khususnya tentang postingan-postingan mereka yang bernuansa dakwah Islam. Dan juga penting untuk memantau following nya apa saja, jika anak tergolong user setia di Instagram, facebook, dan sosmed lain yang masih satu haluan.

 

Begitu juga sebaliknya dan biar terkesan lebih fair, anak-anak pun juga perlu terbuka ke orang tua tentang berbagai hal yang berkaitan erat dengan belajar agama, demi meminimalkan konflik di rumah. Karena dalam sebagian konteks, sering anak yang kuliah di luar kota, lantas ikut pengajian di sana sini, kemudian ketika pulang ke kampung halaman, sudah dalam keadaan yang berbeda. Terkadang orang tua menjadi bertanya-tanya dan juga, tidak sedikit yang menaruh rasa curiga.

 

"Dimana ia belajar agama, kepada siapa, apa yang dipelajari?" adalah serangkaian pertanyaan yang muncul di benak sebagian orang tua. Jika anak terbuka kepada orang tua, maka setidaknya dapat menepis rasa kekuatiran orang tua terhadap keadaan baru anak-anaknya.

 

Akan tetapi jika setelah "hijrah", perilaku (rajin berjamaah ke masjid bagi anak laki-laki, misalnya), penampilan semakin sempurna (semakin rapat menutup aurat bagi anak perempuan, misalnya) dan juga prestasi belajar di sekolah atau kampus semakin meningkat secara signifikan, maka adakalanya orang tua perlu memberikan ruang bagi anak untuk beradaptasi dengan "hal baru" nya, selama itu positif, dan orang tua layak untuk bersyukur dengan keadaan tersebut.

 

Sebagaimana disampaikan dalam sebuah nasehat, bahwa:

"Tidak hanya perlu berprestasi dalam urusan dunia saja, namun jauh lebih penting, anak-anak masa kini juga harus punya prestasi dalam urusan akhirat".

 

Walhasil, semoga kita tidak henti-hentinya untuk terus berharap, agar Allah subhaanahu wa taala senantiasa menjaga anak-anak kita dari bahaya pemahaman takfiri, kapanpun dan dimanapun mereka berada, Aamiin.

 

Footnote:
*Takfiri: sebuah pemahaman menyimpang dimana ketika ia melihat seorang yang tidak berhukum dengan hukum Allah subhanaahu wa taala, maka orang yang dilihatnya akan dihukumi kafir (meski sebenarnya masih Muslim) dan boleh dihilangkan nyawanya dengan cara apapun, baik dibom atau yang lainnya, naudzubillah (Penjelasan dari Professor Dr. Ibrahim bin Amir Ar Ruhaily - Dosen Ushuluddin, Universitas Islam Madinah. Beliau juga cukup gencar dalam menjelaskan bahaya pemahaman takfiri di beberapa kajiannya).

 

Ribuan tahun yang telah lalu, Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam pun sudah memberikan warning akan bahaya pemahaman takfiri tersebut (HR. Bukhari no.XII/283, Shahih).