Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Artikel : Bersyukur atas nikmat dapur

Kajian Online Pekanan 
Pekan Ke-2: Seri Anak dan Keluarga
Edisi XXIV/Tahun ke-III/Maret/2019
Program “Go Islamic”
FIKES UMMagelang

 

Bersyukur atas nikmat dapur

 

Berikut sebagian literatur shahih tentang kondisi dapur Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam:

 

Mungkin sampai tiga kali bulan sabit lewat di atas rumah mereka, belum juga dari dapur mereka asap mengepul (HR. Bukhari no.2517; Muslim no.2972. Shahih).

 

Numan bin Basyir radhiyallahu anhuma pernah bercerita: "Demi Allah, pernah kulihat Nabi kalian tidak mendapatkan sebutir kurma terjelek sekalipun untuk mengganjal perutnya" (HR. Muslim no.2978. Shahih).

 

Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah bertanya kepada Aisyah radhiyallahu anha: "Apakah engkau punya sesuatu (untuk dimakan)?". Aisyah menjawab: "Tidak". Nabi pun berkata: "Kalau begitu, aku berpuasa saja" (HR. Muslim no.3/160. Shahih).

 

Implementasi hadits:

 

Demikianlah sebagian realita dari kondisi dapur Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Kesederhanaan beliau adalah pilihan hidup, bukan sebuah keterpaksaan. Sebab bila beliau mau, maka gunung Uhud akan dirubah (oleh Allah subhaanahu wa taala) menjadi emas untuknya, namun beliau menolak tawaran tersebut. Juga, hadits-hadits di atas tidak mengajarkan agar kita selalu lapar dan miskin. Namun, beliau mengajarkan kepada kita agar mempunyai pola hidup sederhana (Aan Chandra Thalib El Gharantaly, Madinah, Di sisi Raudhoh As Syarif, 03 Rabi As Tsani 1438 H).

 

Dan sekarang, bagaimana dengan kondisi dapur kita?

 

Seringkali stok makanan, cemilan melimpah, hingga tinggal milih saja mana yang mau dimakan. Di sebuah momen, terkadang kita sampai bingung mau masak apa dulu, karena saking lengkapnya bahan makanan yang ada. Bahkan terkadang sampai "turah-turah" hingga dibagi-bagikan ke tetangga sebelah. Apalagi kalau sudah musim lebaran tiba, Masya Allah, kenikmatan makanannya semakin berlipat-lipat adanya. Berdasarkan hal tersebut, sepertinya sudah lebih dari cukup sebagai notifikasi untuk membesarkan rasa terimakasih serta syukur kita atas semua kenikmatan yang ada di dapur. Mungkin hal ini tergolong sepele, namun terkadang kita lalai.

 

Oleh karena itu, supaya rasa terimakasih dan syukur tersebut dapat lebih terimplementasikan dan tercerminkan dengan baik dalam kehidupan sehari-hari, berikut ada beberapa contoh praktis yang dapat diterapkan, di antaranya: 

 

Pertama.
Tepat guna dalam memanfaatkan bahan makanan di dapur dan tidak bermudah-mudahan membuangnya kecuali sudah basi, busuk, kejatuhan najis atau karena faktor lain yang membuatnya tidak bisa diolah.

 

Kedua.
Menerapkan prinsip:

 

"Bilamana akan makan, ambillah porsi sedikit demi sedikit, kemudian dihabiskan terlebih dahulu. Kalau masih kurang, bisa nambah lagi dengan tetap mempertimbangkan porsi".

 

Adab seperti ini juga penting untuk diajarkan kepada anak-anak, agar mereka dapat terbiasa menakar kebutuhan perutnya dan juga dapat mampu menghindarkan diri dari sikap bermudah-mudahan membuang makanan.

 

Terlebih lagi, menghabiskan makanan adalah salah satu adab makan yang sangat ditekankan oleh Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam (HR. Muslim no.III/1607. Shahih).

 

Poin kedua ini dengan pertimbangan bahwa, terkadang terlihat pemandangan kurang sedap di sebagian warung makan, dimana sebagian konsumen kurang bisa menakar porsi makannya sendiri, sehingga ia mengambil lauk ini itu ini itu yang seolah-olah akan habis dalam sekali makan (foodaholic). Padahal, akhirnya, baru makan beberapa suap saja sudah menyerah kenyang, lalu berhenti kemudian ditinggal pulang. Makanan pun tersisa dan berakhir tragis di tempat sampah. Bukankah akan lebih baik mengambil sedikit demi sedikit dulu, kemudian dihabiskan? Bilamana masih kurang, toh masih bisa nambah lagi.

 

Maka sebagai antisipasi terbuangnya makanan, bukanlah hal yang sulit untuk mengatakan kepada si penjual makanan saat kita akan njajan: "Jangan banyak-banyak porsi nasinya, sayurnya atau lauknya" atau kalimat yang semisal lainnya.

 

Karena, rasanya kurang etis saja, ketika masih banyak orang di luar sana, baik yang tidak mampu atau tengah tertimpa musibah, yang masih pada kebingungan mau makan apa, sementara di lain sisi, sebagian orang kok malah bermudah-mudahan membuang makanan.

 

Ketiga.
Mengkalkulasi sebaik mungkin ketika akan shopping sayuran sehingga terhindar dari shopaholic, yaitu perilaku agresif saat belanja tanpa mempertimbangkan kebutuhan. Lebih spesifik lagi, asalkan pingin, sayur apa aja dibeli tanpa memperkirakan ini akan habis dimasak atau tidak.

 

Di sebagian fakta, dampak perilaku sophaholic ini sering berujung terbuangnya banyak bahan makanan, padahal kondisinya masih layak masak. Sangat eman-eman dan justru terkesan pemborosan. Padahal Allah subhaanahu wa taala telah melarang sikap tersebut (QS. Al Isra ayat 26-27; HR. Muslim no.1715. Shahih).

 

Yang juga tidak kalah penting saat belanja adalah mempertimbangkan kebutuhan gizi. Apalagi jika di rumah masih memiliki anak kecil yang masih dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan. Sebagaimana yang sudah diketahui, mereka lebih butuh banyak gizi misalnya untuk otak serta kognitifnya, untuk fungsi matanya, yang aman untuk ginjalnya, untuk kesehatan tulangnya dan yang sebagainya. Ibu-ibu Muslimah nampaknya lebih banyak tahu dalam hal-hal seperti ini.

 

Akhirnya sebagai kesimpulan, apa yang menjadi fakta dari kondisi dapur Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam di atas, semoga dapat menjadi media refleksi bagi kehidupan pribadi kita, khususnya ketika berinteraksi dengan makanan.

 

Alhamdulillaahi rabbil aalamiin.