Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Artikel : Yang baik tidak selalu baik, dan yang buruk tidak selalu buruk

Kajian Online Pekanan 
Pekan Ke-5: Suplemen
Edisi XVIII/Tahun ke-III/Januari/2019
Program “Go Islamic”
FIKES UMMagelang

 

Yang baik tidak selalu baik, dan yang buruk tidak selalu buruk

 

Abul Abbas Ibnu Taimiyyah pernah mengatakan:

 

"Sebuah musibah yang semakin mendekatkan diri kepada Allah subhaanahu wa taala adalah lebih baik, daripada sebuah kenikmatan yang semakin menjauhkan diri dari mengingat Allah subhaanahu wa taala".

 

(Jamiul Masail no.9/387 karya Ibnu Taimiyyah; Al Wabilush Shayyib no.110 karya Ibnul Qayyim Al Jauziyyah).

 

Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda:

 

"Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah subhaanahu wa taala padanya kebaikan, maka ia akan diuji dengan berbagai musibah".

 

(HR. Bukhari no.5645. Shahih).

 

Dua nasehat di atas memberikan hikmah yang sangat berharga bahwa:

 

Dalam situasi dan kondisi tertentu, terkadang Allah subhaanahu wa taala menyadarkan kelalaian seorang Muslim melalui musibah yang membuatnya bertaubat dan semakin mendekatkan diri kepada Allah subhaanahu wa taala (Penjelasan Abdul Aziz bin Baz, ex Mufti Saudi Arabia, dalam buku Ensiklopedi Shalat hal.198 karya Dr. Saad bin Ali bin Wahf Al Qahthani).

 

Hal-hal seperti ini sudah terbukti dan seringkali tampak dari sebagian orang yang telah tertimpa musibah, dimana ia kemudian hijrah dan menjadi "lebih baik" keadaannya. Konteks "lebih baik" di sini misalnya, ia menjadi semakin semangat mengikuti shalat berjamaah di masjid, semangat belajar agama, ada perubahan positif akhlak sehari-hari, menjadi rajin membaca Al Quran, semakin rutin shalat tahajud, memakai hijab yang sesuai syariat dan lain sebagainya.

 

Oleh sebab itu, setiap Muslim setidaknya memiliki kepekaan terhadap segala kenikmatan yang ia dapatkan dan musibah yang ia rasakan. Terlepas mana yang dialami dari kedua hal di atas, pengaruh dari rasa peka tersebut diharapkan dapat lebih menyadarkan untuk semakin mengabdikan diri kepada Allah subhaanahu wa taala di sisa waktu hidup seorang Muslim.

 

Akhirnya, apapun keadaan kita hari ini, asa terbaiknya adalah:

 

"Setiap satu kenikmatan yang kita peroleh, semestinya semakin membuat kita satu langkah lebih dekat kepada Allah subhaanahu wa taala".

 

Alhamdulillahi rabbil aalamiin.