Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Artikel : Wajibkah isteri melakukan pekerjaan rumah?

Kajian Online Pekanan 
Pekan Ke-2 : Seri Anak dan Keluarga 
Edisi XV/Tahun ke-III/Januari/2019
Program “Go Islamic”
FIKES UMMagelang

 

Wajibkah isteri melakukan pekerjaan rumah?

 

Berkaitan dengan hal tersebut, Dr. Utsman bin Muhammad Al Khamis* memberikan jawaban yang sangat menarik berikut ini:

 

Dalam hal ini, para Ulama berselisih menjadi tiga pendapat yaitu:

 

Pendapat pertama. 
Kebanyakan Ulama berpandangan bahwa suami harus mendatangkan pembantu untuk melakukan pekerjaan rumahnya, sehingga dengan hal tersebut istri dapat secara maksimal berbakti kepada suaminya.

 

Pendapat kedua. 
Sebagian Ulama tabiin yaitu Abu Tsaur mengatakan: "Istri wajib melakukan hal itu, yaitu melayani suaminya dan ini ketaatan pada hal yang maruf".

 

Singkatnya, Istri wajib melakukan pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, dan aktifitas beres-beres lainnya.

 

Pendapat ketiga. 
Ibnul Qayyim Al Jauziyyah mengatakan:

 

"Perlu dilihat dulu keadaan istri sebelum menikah. Jika sebelum menikah dia ada pembantu yang melayaninya di rumah keluarganya, maka suami juga harus mendatangkan pembantu yang juga melayani istrinya di rumah suaminya. Maksudnya, suami jangan merubah keadaan istri dari ketika masih berada di rumah keluarganya, dengan ketika istri sudah berada di rumah suaminya. Namun, jika istri sudah terbiasa mandiri (tanpa rewang) melakukan pekerjaan rumah sebelum ia menikah, maka ia juga mestinya melakukan hal yang sama ketika sudah berada di rumah suaminya".

 

Intinya, bahwa permasalahan ini diperselisihkan oleh para Ulama, dan kebanyakan dari mereka berpendapat:

 

"Istri tidak wajib melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci, dan yang lainnya. Namun, suami-lah yang berkewajiban mendatangkan pembantu, yang akan mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga tersebut".

 

-Selesai-

 

Implementasi topik dalam kehidupan rumah tangga:

 

Terlepas pendapat mana yang akan dipilih, idealnya ditempuh via diskusi yang santai hingga tercapai sebuah kesepakatan. Prinsip "fleksibilitas, sabar dan ngalah sama pasangan" nampaknya juga perlu dilibatkan untuk mencapai kesepakatan yang dimaksud, tanpa harus ada acara saling memaksakan pendapat dan berdebat panjang lebar. Karena hal tersebut rasanya kok menghabiskan energi dan membuang waktu saja.

 

Oleh sebab itu, bukanlah hal yang baik dan fair (adil/wajar), ketika suami seolah-olah menjadi seperti raja di rumahnya yang senantiasa memerintah isterinya untuk melakukan semua atau hampir semua pekerjaan rumah dari A sampai Z, dari Alif sampai Yak, dari matahari terbit sampai mata suami terbenam, tanpa sedikitpun inisiatif mau mengulurkan tangannya untuk membantu.

 

Dan juga, bukanlah hal yang baik dan fair, ketika isteri seolah-olah menjadi seperti ratu di rumahnya, yang setelah mengetahui bahwa melakukan pekerjaan rumah ternyata bukanlah kewajibannya (menurut pendapat mayoritas Ulama), lantas ia menjadi males berbuat apa-apa di rumah dengan alasan "kan ngga wajib, kan masih ada suami, kan ini, kan itu...". Serta menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang trivial (sepele).

 

Kami meyakini bahwa, dalam sebagian keadaan menyatukan dua kutub pendapat antara suami dengan istri tidaklah segampang membalikkan telapak tangan. Terlebih lagi dalam hal yang sifatnya aktifitas pekerjaan harian rumah tangga, yang sangat potensial menimbulkan friksi (konflik). Namun...

 

"Sulitnya melakukan sebuah hal yang maruf, tidak otomatis hal tersebut menjadi sesuatu yang tidak bisa atau tidak mungkin untuk diupayakan di kemudian hari".

 

Semoga Allah subhaanahu wa taala senantiasa menjaga keluarga kita di dunia dan akhirat, Aamiin. 


  
Catatan:
*Terdapat banyak video di youtube terkait topik ini. Namun, kami lebih memilih penjelasan Dr. Utsman Al Khamis dari Kuwait, karena penjelasannya ilmiah, lugas dan tidak bertele-tele. Di samping itu kami juga mempertimbangkan aqidah, akhlak, dan manhajnya, kapasitas keilmuannya, riwayat pendidikan formalnya, buku-buku yang pernah ditulisnya dan juga pengalamannya dalam dakwah Islam.

 

Link video: 

https://www.youtube.com/watch?v=fNbA0AsA2V8