Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Artikel : Aqidah tentang perjalanan ruh (4): Adzab kubur

Kajian Online Pekanan 
Pekan ke-1: Seri Aqidah
Edisi XIV/Tahun ke-III/Januari/2019
Program “Go Islamic”
FIKES UMMagelang

 

Aqidah tentang perjalanan ruh (4): Adzab kubur

 

Berikut adalah sejumlah peristiwa yang berkaitan dengan adzab kubur. Peristiwa-peristiwa di bawah ini memungkinkan terjadi secara random (acak), jadi bukanlah rangkaian urutan.

 

Pertama.
Apakah adzab kubur menimpa ruh dan jasad?

 

Betul, adzab kubur akan menimpa ruh dan jasad. Hal ini pernah terbukti dalam sebuah penggalian kubur, karena ada keperluan khusus, yang kemudian didapati bahwa mayat sudah dalam keadaan babak belur badannya, padahal kondisi sebelumnya tidak seperti itu (Fatawa Anil Iman wa Arkaniha karya Abu Muhammad Asyraf bin Abdul Maqshud).

 

Kedua. 
Apakah adzab kubur berlangsung terus-menerus atau akan berhenti? Hal ini terdapat perincian:

 

Bagi mereka yang wafat dalam keadaan non muslim, maka akan mendapatkan azab yang terus-menerus (QS. Al Mukmin ayat 45-46).

 

Namun, jika wafat dalam keadaan mukmin dan masih membawa dosa, maka ada beberapa "keadaan" yang tergantung berat ringannya dosa. "Keadaan" yang dimaksud adalah bisa di adzab terus-menerus, atau hanya sementara, atau adzab tersebut menjadi ringan karena amalan tertentu. Misalnya, istighfar, sedekah, doa dan lain sebagainya (Fatwa Ibnu Utsaimin; Tahdzib Syarah Ath Thahawiyah karya Abdul Akhir Hammad Al Ghunaimi).

 

Ketiga. 
Mereka yang ditakdirkan menjadi penghuni neraka, maka Allah subhaanahu wa taala akan menampakkan neraka di hadapannya setiap pagi dan petang (HR. Bukhari no.1290, Muslim no.5110. Shahih).

 

Keempat.
Mereka yang tidak menjaga diri dari percikan urin dan gemar namimah, juga akan mendapatkan adzab (HR. Bukhari no.216; Muslim no.292. Shahih).

 

Berdasarkan hadits di atas, maka proteksi terhadap percikan urin menjadi hal yang sangat urgent. Sebisa mungkin kita memilih metode urinasi yang dapat meminimalkan resiko paparan urin khususnya di pakaian, terlebih lagi jika pakaian tersebut juga digunakan untuk shalat. Via berdiri atau jongkok adalah dua metode urinasi yang dibolehkan dalam syariat, jadi tinggal dipilih saja mana yang lebih feasible (mudah dilakukan) dan secure (aman dari paparan urin).

 

Juga, hindarilah menimbulkan kebencian di tengah-tengah manusia yang membuat mereka menjadi saling bermusuhan, atau yang diistilahkan dengan: namimah.

 

Kelima.
Seorang yang wafat dalam keadaan non muslim, maka di antara bentuk adzabnya adalah akan didatangkan kepadanya orang yang bisu, tuli dan di tangannya ada palu yang kemudian dipukulkan kepada si mayat tadi hingga hancur. Kemudian dikembalikan lagi wujudnya seperti semula, kemudian dipukul lagi, hancur, dan hal tersebut diulang terus-menerus (HR. Hakim no.1/37-40, dan dishahihkan Al Albani dalam Ahkamul Janaiz).

 

Keenam. 
Setiap mayat akan dihimpit oleh kuburnya, termasuk juga anak kecil. Hanya saja, himpitan tersebut akan lepas atas izin Allah subhaanahu wa taala (Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah no. 1695 karya Al Albani).

 

Ketujuh.
Mereka yang "membawa dosa" sombong, riba, tidak mau menyusui anaknya tanpa sebab yang dibenarkan syariat,  ghibah, dan zina akan mendapatkan siksaan khusus sebagaimana telah dipaparkan dengan sangat jelas dalam beberapa literatur yang shahih. Namun, bentuk detail siksaannya seperti apa, kami sengaja men-sensornya, karena tidak sampai hati (ngga tega) untuk menuliskannya di sini. Intinya, hindari saja 5 hal di atas.

 

Makna kalimat "membawa dosa" di atas adalah dosa-dosa tersebut belum sempat ditaubati hingga pelakunya wafat, dan di situlah letak masalah serta adzab itu berasal.

 

Kedelapan. 
Mayat mendapatkan adzab karena tangisan ratapan dari keluarganya (HR. Bukhari no.1291. Shahih). Bentuk adzabnya seperti apa, tidak dijelaskan dalam dalil tersebut.

 

"Tangisan ratapan" adalah tangisan yang menunjukkan rasa denial (penolakan, protes), tidak ridha terhadap takdir kematian keluarganya. Bentuknya bervariasi, yaitu bisa jerit-jerit, teriak-teriak, sambil mbantingi atau ngacak-acak barang, dan atau sambil mengucapkan sesuatu yang intinya tidak terima terhadap keputusan Allah subhaanahu wa taala. Di zaman sekarang, ucapan tersebut terkadang terekspresikan di sebagian status-status pribadi di sosial media, khususnya bagi yang tengah tertimpa musibah atau yang teringat kembali musibah yang mungkin sudah berlalu sekian waktu.

 

Adapun jika sebatas tangisan kesedihan biasa dengan tetap ridha terhadap takdirNya, maka tidak apa-apa dan tidak termasuk ratapan. Bahkan Nabi shallallaahu alaihi wa sallam pun pernah menangis ketika putranya yang bernama Ibrahim wafat dalam usia 16 atau 17 bulan. Beliau shallallaahu alaihi wa sallam mengatakan:

 

"Sungguh mata menangis dan hati bersedih, akan tetapi kami tidak mengatakan sesuatu melainkan yang diridhai oleh Allah, dan sungguh kami sangat bersedih berpisah denganmu wahai Ibrahim” (HR. Bukhari no.1303. Shahih).

 

Tidak hanya itu, bahkan beliau memiliki 3 anak cowok dan semuanya wafat saat kisaran umur batita atau balita yaitu: Qashim bin Muhammad, Abdullah bin Muhammad, dan Ibrahim bin Muhammad. Sedih, itu sudah pasti. Namun kesedihannya tersebut, tidaklah membuat beliau mengucapkan kata-kata yang tidak diridhai Rabb-nya.

 

Oleh sebab itu, seorang muslim semestinya mensikapi takdir buruk dengan sikap yang sewajarnya dan jangan terlalu tenggelam dalam duka nestapa. Mempertebal kesabaran dan berharap pahala dari perasaan tersebut akan jauh lebih baik dan adaptif terhadap situasi yang tengah terjadi. Daripada meratapi, larut dalam kesedihan yang kronik (berkepanjangan) hingga sampai depresi, kehilangan semangat hidup serta nafsu makan minum, dan lain sebagainya, yang justru hal tersebut sama saja dengan menambah musibah di atas musibah.

 

Singkat kalimat, di antara bentuk kasih sayang kita terhadap anggota keluarga yang sudah wafat, adalah dengan tidak meratapi kematiannya. Karena ratapan akan memberikan dampak yang sangat tidak baik bagi si mayat di alam kubur, sebagaimana keterangan dalil di atas.

 

Dan sebagai closing statements...

 

Utsman bin Affan radhiyallahu anhum pernah mengatakan: "Kubur adalah persinggahan pertama dari perjalanan menuju akhirat. Bila seseorang selamat dari keburukannya, maka setelahnya akan lebih mudah. Namun, bila tidak selamat dari keburukannya, maka setelahnya akan lebih berat".

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: "Aku tidak melihat suatu pemandangan yang lebih menakutkan daripada apa yang ada di alam kubur".

 

Dua statements di atas diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Al Albani menghasankannya.

 

Akhirnya, semoga Allah subhaanahu wa taala menyelamatkan kita secara sempurna dari adzab kubur dan semua penyulit yang ada di dalamnya, Aamiin.