Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Artikel : Aqidah tentang perjalanan ruh (3) - Nikmat kubur

Kajian Online Pekanan
Pekan ke-1: Seri Aqidah
Edisi X/Tahun ke-III/Desember/2018
Program “Go Islamic”
FIKES UMMagelang

 

Aqidah tentang perjalanan ruh (3) - Nikmat kubur

 

Nikmat dan adzab kubur adalah dua peristiwa penting di alam kubur yang merupakan bagian dari rangkaian perjalanan kehidupan setelah kematian. Mengetahui dua hal tersebut adalah sebuah keharusan untuk mengokohkan Aqidah, sekaligus sebagai upaya memikirkan bagaimana caranya agar mendapatkan nikmat dan terhindar dari adzab. Berawal dari latar belakang tersebut, tulisan ini dirangkai.

 

Supaya lebih ringkas, topik ini akan dibagi menjadi dua bagian, dan di bagian perdana ini akan fokus tentang nikmat kubur terlebih dahulu. Berikut keterangannya:

 

Pertama. 
Seorang mayat akan merasa senang jika setelah dikubur, ada beberapa orang shalih yang duduk di sebelah makamnya (HR. Muslim no.121. Shahih). Maksudnya, seorang yang paripurna mengurus jenazah di kuburan, disunnahkan untuk tidak terburu-buru pulang, karena hal tersebut akan menyenangkan hati si mayat. Misalnya, sejenak dengan disambi berdzikir atau membicarakan sesuatu yang bermanfaat di sekitar makamnya.

 

Kedua.
Allah subhaanahu wa taala akan menampakkan tempat tinggalnya di surga setiap pagi dan petang hari. Tentunya jika ia ditakdirkan menjadi penduduk surga (HR. Bukhari no.1290, Muslim no.5110. Shahih).

 

Ketiga.
Seorang yang ditakdirkan masuk surga, maka di alam kubur ia akan mendapatkan tikar, pakaian, wangi-wangian yang semuanya dari surga. Ia juga akan ditemani oleh seorang yang rupawan, sebagai perwujudan dari amal shalihnya ketika di dunia. Kuburnya juga akan diluaskan sejauh mata memandang (HR. Abu Dawud no.2/281. Dishahihkan Al Albani dalam Ahkamul Janaiz).

 

Keempat. 
Termasuk kenikmatan kubur adalah ketika seorang Muslim dihindarkan dari siksa kubur, dimana hal ini berlaku bagi:

 

Seorang yang mati syahid (Shahih Al Jaami no.4/164 karya Al Albani), seorang yang gugur (prajurit) ketika bertugas di jalan Allah subhaanahu wa taala (Hadits shahih dalam Misykatul Mashabih no.2/355 karya At Tibrizi), seorang yang meninggal di hari Jumat (HR. Ahmad no.6739 dan dihasankan Al Albani dalam Ahkamul Janaiz), dan seorang yang meninggal karena sakit perut (HR. An Nasai dan dishahihkan Al Albani dalam Ahkamul Janaiz).

 

Kelima. 
Para penghuni kubur dapat saling mengunjungi satu sama lain, sehingga disunnahkan untuk memakaikan kain kafan yang terbaik kepada si mayat (Shahih Ibnu Majah no.1205 karya Al Albani).

 

Keenam. 
Jika mayat adalah orang yang beriman, maka ia akan akan mendapatkan cahaya sehingga kuburnya menjadi terang (Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah no.1391 karya Al Albani).

 

Ketujuh. 
Jika seorang penghuni kubur dapat selamat dari fitnah atau siksa kubur, maka ia diminta tidur hingga Hari Kiamat tiba sebagai bentuk istirahat atas kelelahannya selama menjalani berbagai aktifitas dunia-nya (Shahih Al Jaami no.724 karya Al Albani).

 

Kedelapan. 
Ruh orang mukmin dapat terbang untuk menikmati sebagian hidangan buah-buahan dari surga, sehingga ia kembali kepada jasadnya pada hari dimana ia dibangkitkan (Shahih Ibnu Majah no.3446 karya Al Albani).

 

Poin ketujuh dan kedelapan ini nampaknya bertentangan. Satunya meminta tidur hingga Hari Kiamat tiba. Satunya meminta untuk menikmati buah-buahan hingga Hari Pembangkitan tiba. Hal-hal seperti ini tidak perlu dikritisi (make 5W+1H, misalnya), nanti malah pusing dan bingung sendiri. Karena ada banyak hal dalam topik Aqidah yang sejatinya tidak bisa dijangkau analisisnya oleh akal manusia, sekalipun level IQ-nya sudah mencapai extraordinary genius.

 

Shortcut (jalan pintas) untuk mensikapi hal ini yaitu cukup menerapkan prinsip: "kami mendengar, mengimani dan mentaatinya". Juga tidak perlu skeptis (merasa ragu-ragu). Terlebih lagi, jika dua hal tersebut sama-sama berlandaskan pada evidence yang shahih.

 

Di samping itu, Allah subhaanahu wa taala memiliki terlalu banyak cara untuk merealisasikan hal yang nampak bertentangan dalam pandangan akal manusia, menjadi hal yang sangat mungkin dapat terjadi. Begitu mudah, atau bahkan sangat sangat dan sangat mudah bagi Allah subhaanahu wa taala.

 

Kesembilan. 
Mayat dapat menjawab salam dari orang yang mengucapkannya, kenal kepada orang yang menziarahinya dan juga senang ketika diziarahi (HR. Ibnu Abdil Bar dalam Al Istidzkar no.1/185. Ibnu Taimiyyah mengatakan hadits tersebut shahih dalam Majmu Fatawa no.24/331; Ar Ruh karya Ibnul Qayyim).

 

Demikian sejumlah peristiwa tentang nikmat kubur yang dirangkum dari sejumlah literatur yang shahih. Peristiwa tersebut merupakan "hadiah" yang diberikan oleh Allah subhaanahu wa taala kepada mereka yang wafat dalam keadaan mukmin, memiliki perbendaharaan amal shalih, dan mampu menjawab pertanyaan dari Malaikat.

 

Mekanisme detail bagaimana terjadinya, apakah berurutan atau tidak, seberapa banyak porsinya, tidak begitu penting diketahui dari peristiwa tersebut (Al Minhah Ilahiyah Syarah Aqidah Ath Thahawiyah karya Abdul Akhir Al Ghunaimi). Yang terpenting adalah bagaimana caranya agar kita dapat stabil di atas Islam dan Iman, dan senantiasa berharap agar diwafatkan dalam dua keadaan tersebut.

 

Akhirnya, semoga Allah subhaanahu wa taala memberikan kesudahan yang sangat baik kepada kehidupan kita, yang dengannya nikmat kubur dapat kita rasakan, Aamiin.