Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Artikel : Sombong (2 - Terakhir)

Kajian Online Pekanan
Pekan ke-5: Seri Adab dan Tazkiyatun Nufus (Suplemen)
Edisi IX/Tahun ke-III/November/2018
Program “Go Islamic”
FIKES UMMagelang

 

Sombong (2 - terakhir)

 

Atribut pertama dari sifat sombong, yaitu menolak kebenaran (HR. Muslim no.91. Shahih), telah disampaikan di pekan lalu. Sebagai kelanjutannya, berikut penjelasan atribut kedua yaitu:

 

Kedua. Meremehkan orang lain.

 

Maksudnya, orang yang sombong ia akan merasa bahwa dirinya sempurna, superior, sehingga ia akan memandang rendah dan menganggap orang lain tidak ada apa-apanya (Bahjatun Nadzirin Syarah Riyadhus Shalihin no.I/664, karya Salim bin Ied Al Hilali; Syarah Riyadhus Shalihin no.II/301 karya Ibnu ‘Utsaimin).

 

Atribut ini muncul disebabkan karena adanya ujub, yaitu sejenis perasaan merasa takjub (kagum) terhadap kelebihan yang ada pada diri sendiri.

 

Untuk lebih memahaminya, berikut sketsa-nya:

 

Adalah hal yang mungkin pernah dialami ketika Allah subhaanahu wa taala memberikan kelebihan tertentu kepada kita, dimana terkadang hal tersebut belum atau sama sekali tidak dimiliki orang lain. Merasa senang yang terkadang, secara serasi bercampur dengan perasaan bangga dan bersyukur, adalah sekumpulan reaksi perasaan yang umumnya muncul.

 

Namun, perasaan tersebut perlu dikendalikan dengan baik, guna mencegah munculnya ujub. Karena ketika sudah merasa ujub, secara teori, akan mendatangkan sifat overconfidence (kepedean) serta memandang secara berlebihan kepada dirinya sendiri, bahwa ia punya kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Sehingga hal seperti ini, cepat atau lambat, dapat memicu sikap meremehkan orang lain (Penjelasan Dr. Abdurrazaq Al Badr, Professor di Bidang Aqidah, Universitas Islam Madinah).

 

Oleh karena itu, apa-apa yang sudah ditakdirkan menjadi kelebihan kita, semestinya tidak menjadi dalih untuk meremehkan orang lain. Hal tersebut justru lebih menstimulasi kita untuk semakin humble (rendah hati) dan caring (peduli) kepada orang lain. Karena termasuk karakter yang jempolan, ketika seorang sudah punya kelebihan tertentu, ditambah ia juga punya dua sifat tadi. Di samping itu, Allah subhaanahu wa taala akan meninggikan derajatnya (di dunia dan akhirat) dan manusia akan semakin respek serta simpatik kepadanya (Syarah Shahih Muslim, no.16:142 karya An Nawawi).

 

Treatment lain agar terhindar dari sikap meremehkan orang lain adalah dengan menerapkan norma:

 

"Perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan" (HR. Muslim no.1844. Shahih).

 

Atau dapat dikatakan: Jika kita tidak suka diperlakukan X, maka jangan suka memperlakukan X ke orang lain. Jika kita tidak suka diremehkan, maka jangan suka meremehkan orang lain, misalnya.

 

Pada prinsipnya, meskipun kita tahu bahwa orang lain akan selalu memaafkan, bukan berarti kita menjadi semaunya sendiri memperlakukannya. Senantiasa berfikir kritis sebelum melakukan sebuah perbuatan adalah esensial untuk mencegah dampak negatif perbuatan tersebut. Lebih jauh lagi, jangan sampai pikiran dan kehidupan orang lain menjadi serba sulit dan rumit, hanya gara-gara perbuatan dan sifat egosentris kita sendiri.

 

Kemudian..

 

Treatment selanjutnya yang dapat ditempuh yaitu dengan berusaha secara realistis untuk mengerti, memahami, serta menumbuhkan rasa bahwa berada dalam posisi diremehkan adalah sangat tidak nyaman, karena serasa harga dirinya dijatuhkan. Di antara efek positif ketika poin ini disadari yaitu sikap meremehkan orang lain dapat dihindari semaksimal mungkin.

 

Semoga Allah subhaanahu wa taala senantiasa menghindarkan kita secara sempurna dari sikap meremehkan orang lain, Aamiin.