Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Artikel : Mereka yang hadir karena istighfar

Kajian Online Pekanan
Pekan ke-2: Seri anak dan keluarga
Edisi II/Tahun ke-III/Oktober/2018
Program “Go Islamic”
FIKES UMMagelang

 

Mereka yang hadir karena istighfar

 

Dr. Muhammad bin Abdillah Al Habdan, anggota Rabithah Ulama Al Muslimin, Saudi Arabia, dalam kajiannya* menceritakan:

 

Seseorang pernah datang kepada Ibnu Abbas dan berkata: "Doakan aku agar dikaruniai anak". Ibnu Abbas menjawab: "istighfarlah". Lalu, datang sebagian orang dengan hal yang senada, namun jawaban beliau selalu saja sama, yaitu istighfar.

 

Akhirnya, ditanyakan kepada beliau, "Wahai Ibnu Abbas, setiap kali ada yang meminta sesuatu, kenapa anda menyuruhnya istighfar?". Beliau menjawab: "Apakah kalian tidak membaca firman Allah:

 

"... Maka aku katakan kepada mereka mohonlah ampun kepada tuhanmu, sesungguhnya dia maha pengampun, niscaya dia akan mengirimkan kepadamu hujan lebat. Dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan pula di dalamnya untukmu sungai-sungai" (QS. Nuh ayat 10-12).

 

Nabi Muhammad shallallaahu alaihi wa sallam juga pernah bersabda:

"Barangsiapa yang memperbanyak istighfar,  maka Allah akan memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka" (HR. Ahmad no.2123. Dishahihkan oleh Al Hakim dan Ahmad Syakir).

 

Dr. Al Habdan melanjutkan ceritanya:

 

Kemudian, telah datang kepada kami sejumlah orang yang diuji dengan tidak atau belum memiliki anak. Kamipun menyarankan: "istighfarlah kamu dan istrimu secara terus-menerus". Setelah dua atau tiga minggu berikutnya, dia mengabarkan bahwa istrinya hamil. Padahal sebelumnya, mereka telah membayar mahal ratusan juta guna berobat, akan tetapi belum tampak hasilnya.

 

Berikutnya, juga ada yang telah 18 tahun menikah dan belum kunjung memperoleh momongan. Kemudian, kamipun merekomendasikan hal yang sama yaitu istighfar. Selang beberapa waktu, mereka mendatangi kami, menyampaikan kabar gembira bahwa mereka sudah dikaruniai dua anak perempuan.

 

(Selesai cerita beliau dengan adaptasi bahasa).

 

Terkandung makna dari penuturan Dr. Al Habdan bahwa, di antara solusi primer tertundanya rezeki (dalam konteks keturunan) adalah melalui taubat nashuha dan istighfar seperti perintah dari Al Quran dan hadits shahih di atas.

 

Di samping itu, juga perlu untuk ditempuh secara serius dan konsisten, solusi sekunder dalam bentuk ikhtiar praktis, misalnya: memeriksa kondisi terkini kesehatan reproduksi pasutri, patuh terhadap treatment dari experts dan menerapkan pola hidup sehat yang secara ilmiah dapat mengoptimalkan atau menjaga kinerja organ reproduksi.

 

Sebagai contoh, sebuah systematic review menyimpulkan bahwa, infertilitas pria ada korelasinya dengan kesehatan organ oral (Kellesarian et al., 2016)**. Maksudnya, beberapa penyakit gigi, gusi dan sekitarnya ternyata berdampak pada status kesehatan reproduksi. Maka, penting untuk tetap menjaga kesehatan di bagian oral tersebut, khususnya bagi pria dan secara umum bagi wanita, sebagaimana juga sedikit disinggung dalam artikel tersebut.

 

Semoga Allah subhaanahu wa taala senantiasa menganugerahkan keadaan yang terbaik bagi keluarga kita, Aamiin.

 

*Referensi kajian: https://www.youtube.com/watch?v=rUWLlmNetFg
(Channel Twit Ulama di youtube).

 

**Referensi artikel:
Kellesarian, S. V., Yunker, M., Malmstrom, H., Almas, K., Romanos, G. E., & Javed, F. (2016). Male Infertility and Dental Health Status: A Systematic Review. American Journal of Mens Health, 0(0), 1-9. doi:10.1177/1557988316655529.