Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Artikel : Aqidah tentang perjalanan ruh (1) - Ruh seorang muslim

Kajian Online Pekanan
Pekan ke-1: Seri Aqidah
Edisi I/Tahun ke-III/Oktober/2018
Program “Go Islamic”
FIKES UMMagelang

 

Aqidah tentang perjalanan ruh (1) - Ruh seorang muslim

 

Berikut adalah intisari awal perjalanan ruh ketika terpisah dari raga bani Adam yang telah pupus:

 

Bilamana seorang mukmin sedang dalam keadaan sakaratul maut, maka turun kepadanya sejumlah Malaikat yang berwajah putih, membawa kain kafan dan wewangian dari surga. Mereka duduk di dekat si mukmin, yang kemudian diikuti dengan datangnya Malaikat Maut yang juga duduk, namun ia berada di sisi kepala si Mukmin sembari mengatakan:

 

“Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan dan keridhaan Allah subhaanahu wa taala”.

 

Ruh pun akhirnya keluar dengan mudah seperti mengalirnya air dari wadah tempat minum. Dengan sigap, Malaikat yang berwajah putih tadi langsung membungkus ruh dengan kain kafan, memberinya wewangian sehingga menjadikannya sangat harum.

 

Kemudian ruh tersebut dibawa menuju langit ke-1, 2, 3, 4, 5, 6, dan ketika sampai langit ke-7, terdengar suara Allah subhaanahu wa taala yang berfirman:

 

“Tulislah catatan amal hamba-Ku ini di Illiyin dan kembalikanlah ia ke bumi. Karena dari tanah mereka Aku ciptakan, ke dalam tanah mereka akan Aku kembalikan, dan dari dalam tanah mereka akan Aku keluarkan pada kesempatan yang lain".

 

Dalam waktu sangat singkat, ruh si mukmin tadi dikembalikan ke jasadnya yang sudah terkubur. Di saat itulah ia dapat mendengar suara sandal orang-orang yang mengantarkannya ke kuburan, mulai pergi meninggalkannya, dan ia-pun ditinggal sendirian dalam kubur.

 

Tidak berselang lama, datanglah dua Malaikat yang sangat keras suaranya, tiba-tiba mendudukkan jasadnya, kemudian bertanya:

 

“Siapakah Rabbmu?”, “Apa agamamu?”, “Siapakah lelaki yang diutus di tengah kalian?”

 

Si mukmin mampu menjawab 3 pertanyaan tersebut dengan benar.

 

Kemudian, tibalah pertanyaan terakhir:

 

“Apa amalmu?”

 

“Aku membaca Kitabullah, lalu aku beriman dan membenarkannya" jawabnya.

 

Ia dapat merespon dengan tepat pertanyaan-pertanyaan tadi, karena semasa hidupnya ia serius dalam mengenal, beriman, dan beramal dengannya (QS. Ibrahim ayat 27).

 

Sesaat setelah itu, terdengarlah suara dari langit:

 

“Telah benar hamba-Ku. Maka bentangkanlah untuknya permadani dari surga. Pakaikanlah ia pakaian dari surga, dan bukakan untuknya sebuah pintu ke surga".

 

Kemudian, kubur si mukmin tadi diluaskan sejauh mata memandang, diikuti dengan Allah subhaanahu wa taala mendatangkan amalnya dalam bentuk seorang berwajah bagus, berpakaian indah, dan juga harum. Ia pun mengatakan:

 

“Bergembiralah dengan apa yang menggembirakanmu. Inilah harimu yang pernah dijanjikan kepadamu. Demi Allah, aku tidak mengetahui dirimu melainkan seorang yang bersegera menaati Allah subhaanahu wa taala dan lambat dalam bermaksiat kepadaNya Semoga Allah subhaanahu wa taala membalasmu dengan kebaikan".

 

Kemudian dibukakan untuknya pintu surga dan pintu neraka, lalu dikatakan lagi:

 

“Ini adalah tempatmu (neraka), seandainya engkau dulu bermaksiat, lalu Allah menggantikan bagimu dengan surga".

 

Lantas si mukmin tadi berdoa:

 

“Wahai Rabbku, segera datangkan Hari Kiamat agar aku dapat kembali kepada keluarga dan hartaku".

 

Kala itu, sekalipun sudah meninggal dunia, seorang mukmin masih tetep kangen ngumpul keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga adalah hal yang sangat berarti bagi seorang mukmin.

 

Akhirnya, dikatakan kepadanya: “Tinggallah engkau”. Maksudnya, ia diminta tinggal sementara di dalam kubur hingga Hari Kiamat tiba.

 

Semoga sudi kiranya Allah subhaanahu wa taala memberikan akhir yang baik kehidupan kita sebagai seorang mukmin, Aamiin.

 

(Diringkas dengan adaptasi bahasa dari: HR. Abu Dawud no.3212, 4753. Shahih dalam Shahih Abi Dawud dan Ahkamul Janaiz karya Al Albani; HR. Ahmad dalam Al Musnad no.30/499-503 dan dishahihkan oleh Al Hakim dalam Al Mustadrak).

 

Bersambung ke episode dua, Insya Allah.