Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Artikel : Tetap berbakti apapun keadaannya

Kajian Online Pekanan
Pekan ke-2: Seri Anak dan Keluarga
Edisi XLV/Tahun ke-II/Agustus/2018
Program “Go Islamic”
FIKES UMMagelang

 

Tetap berbakti apapun keadaannya

 

Dr. Saad Al Atiq* dalam salah satu kajiannya bercerita tentang kisah nyata perjuangan seorang anak yang berbakti kepada ibunya. Berikut penuturan beliau:

 

Ada dokter wanita di Saudi Arabia bercerita, seorang laki-laki bernama Muhammad yang umurnya sekitar 30 tahun datang bersama ibunya yang tengah ia peluk karena memberontak ingin kabur.

 

Si ibu tersebut kemudian melempar tutup kepalanya dan Muhammad merapikannya kembali. Kemudian, si Ibu menggigitnya, mencakarnya bahkan meludahinya. Namun, Muhammad hanya tersenyum. Ibu tadi semakin bertingkah aneh dan mulai tertawa sendiri seperti orang yang sudah kehilangan akal (gila). Ia juga berputar-putar mengelilingi meja dokter.

 

Dokterpun bertanya kepada Muhammad, "Siapa dia?". "Beliau adalah ibuku" jawabnya.

 

"Ada apa dengannya?" tanya si dokter. Muhammad menjawab, "Beliau lahir dalam keadaan sudah kehilangan akalnya (gila)".

 

"Lalu bagaimana bisa dia melahirkanmu?" Dokter kembali bertanya.

 

Muhammad pun menjawab, "Kakekku menikahkannya dengan ayahku dengan harapan punya keturunan, tapi diceraikan oleh ayahku di tahun pertama pernikahan dalam keadaan beliau tengah hamil aku saat itu. Kemudian semenjak aku berumur 10 tahun, aku mulai berbakti kepadanya. Aku yang memasak untuknya, jika hendak tidur aku ikat kakinya di kakiku agar beliau tidak kabur".

 

Dokterpun bertanya, "Kamu ingin periksa apa?". Muhammad menjawab, "Ibuku ada penyakit gula (diabetes) dan darah tinggi".

 

Lantas si ibu tiba-tiba tertawa dan berkata, "Aku ingin kentang!!" dan akhirnya diberilah kentang oleh Muhammad. Lantas si ibu malah meludahkan ke wajah Muhammad sambil tertawa. Muhammad pun tetap bersabar dan membersihkan wajahnya.

 

Dokterpun kembali bertanya, "Ini ibumu tidak mengenalmu?". Muhammad menjawab, "Iya, beliau tidak tahu kalau aku adalah anaknya. Akan tetapi Allah yang menciptakanku tahu bahwa dia adalah ibuku".

 

Ibunya pun langsung berkata,"Wahai anakku kamu bohong!! Kapan kamu akan ajak aku ke Mekkah?". Ia berkata seperti itu karena ia melihat Kabah di TV. Akhirnya dengan sabar, Muhammad menjawab, "Nanti hari Kamis, wahai Ibu".

 

Dokter bertanya lagi, "Kamu akan ajak dia umroh padahal sudah tidak wajib lagi untuknya (ibadah)?" Muhammad menjawab, "Setiap kali ibuku ingin ke Mekkah, aku turuti. Aku tidak ingin harapan ibuku tidak terkabul, padahal aku sanggup melakukannya".

 

Setelah mereka selesai diperiksa dan keluar, Dokter tadi mengunci pintu ruangannya dan mulai menangis tersedu-sedu. Dia kemudian berkata:

 

"Aku sering mendengar kisah bakti kepada orang tua tapi hari ini nyata di depanku, bahkan ibunya tidak mengenalnya. Namun anaknya begitu sabar dan ikhlas melayaninya, padahal bisa saja ia menitipkan ibunya di Rumah Sakit Jiwa. Tapi dia memilih untuk berbakti di sampingnya, agar pintu surga tetap terbuka untuknya".

 

Demikian kisah yang disampaikan oleh Dr. Saad Al Atiq.

 

Muhammad sudah merawat ibunya yang dalam keadaan seperti itu selama kurang lebih 20 tahun. Ia mendapat perlakuan yang jelas sangat tidak nyaman, namun ia tetap memberikan atensi (perhatian) yang terbaik, bersabar, dan mengharap pahala dari Allah subhaanahu wa taala.

 

Bagaimana dengan kita?...

 

Dan di antara pelajaran penting dari kisah di atas adalah tetaplah berbakti kepada kedua orang tua, apapun keadaan mereka.

 

Semoga Allah subhaanahu wa taala senantiasa menjaga orang tua kita, baik di dunia dan akhirat, Aamiin.

 

Keterangan:

* Beliau adalah salah satu juru dakwah di Saudi Arabia. 

 

Video ceramah Dr. Saad Al Atiq:

https://www.youtube.com/watch?v=F428Hki35U8&t=165s