Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Artikel : Tidak perlu menunggu sempurna

Kajian Online Pekanan
Spesial bulan Syawal
Edisi XL/Tahun ke-II/Juli/2018
Program “Go Islamic” 
FIKES UMMagelang

 

Tidak perlu menunggu sempurna

 

Nasehat memang perlu untuk terus disampaikan, sekalipun ketika kita sendiri belum bisa mengamalkannya.

 

Dr. Anis bin Ahmad bin Thahir Jamal Al Indunisi¹ menjelaskan masalah tersebut yang kurang lebih maknanya:

Bedakan, antara Anda menasehati seorang, sementara Anda belum ada daya untuk melakukan apa yang Anda nasehatkan. Dengan Anda menasihati seorang, sementara Anda mampu melakukan apa yang Anda nasehatkan.

 

Terdapat dua tipe orang dalam masalah ini:

 

Pertama
Orang yang menasehati orang lain, sementara dia benar-benar belum mampu melakukan apa yang disampaikan.

 

Boleh jadi karena masih mengikuti hawa nafsu atau karena faktor lain sehingga setiap menerjang nasehatnya sendiri, dia merasa bersalah, menyesal, dan akhirnya terus memperbarui taubatnya.

 

Tipe orang seperti ini dimaklumi dan disarankan untuk terus semangat menyampaikan kebaikan. Karena tidak menutup kemungkinan, pada suatu hari nanti atas petunjuk dari Allah subhaanahu wa taala, dia akan menjadi orang pertama yang paling konsisten dengan nasehatnya.

 

Kedua
Orang yang menasehati orang lain, sementara dia sendiri sebenarnya mampu untuk melakukan apa yang disampaikan.

 

Sayangnya, dia malah menyepelekan kemampuannya yang akhirnya dengan penuh kesadaran menerjang nasehatnya sendiri. Tanpa merasa bersalah, apalagi menyesal. Parahnya, dia justru nyaman-nyaman saja dengan kesalahannya tersebut.

 

Tipe orang yang kedua inilah yang terkena ancaman ayat Al Quran yang artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kemurkaan Allah bila kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (QS. Ash Shaf ayat 2 - 3).

 

(Penjelasan Dr. Anis Thahir saat membahas kitab Iqtidha Ash Shiratal Mustaqim karya Ibnu Taimiyyah, di Masjid Nabawi, 20 Rabius Tsani 1436 H).

 

Tambahan dari kami:

 

Satu-satunya cara untuk membedakan antara tipe orang yang pertama dengan kedua adalah dengan menilik kejujuran niat. Jika orang yang akan memberi nasehat kepada orang lain tersebut adalah kita, maka kita harus jujur kepada diri kita sendiri akan nasehat yang akan disampaikan. Apakah kita yang tergolong mampu mengamalkan atau sebaliknya.

 

Seorang muslim yang benar-benar tidak mampu maka dia termasuk kategori pertama dan dimaklumi atas keterbatasannya. Sebaliknya, mereka yang pura-pura tidak mampu, padahal sebenarnya mampu atau malah menidakmampukan atas kemauannya sendiri maka ia termasuk kategori kedua dan terancam mendapatkan murka Allah subhaanahu wa taala berdasarkan QS. Ash Shaff ayat 2 - 3.

 

Said bin Jubair pernah mengatakan yang artinya: “Jika tidak boleh melakukan amar maruf dan nahi mungkar,  kecuali orang yang sempurna niscaya tidak ada satupun orang yang boleh melakukannya” (Tafsir Al Qurthubi no.1/410 karya Al Qurthubi). Maksudnya, apapun kondisi kita saat ini, seharusnya tidak menjadi barrier atau penghalang untuk berbagi sesuatu yang dianggap baik oleh syariat. Karena menjadi pribadi yang sempurna (bebas dosa) terlebih dahulu bukanlah sebuah syarat mutlak dalam menyampaikan sebuah kebaikan atau nasehat.

 

Begitu juga, sikap terbaik terhadap mereka yang menerjang nasehatnya sendiri adalah berbaik sangka semoga saja ia adalah tipe orang pertama. Kita juga ngga perlu menuduhnya "Jarkoni versi dua²" atau "pribadi yang kontroversi" atau ungkapan lainnya. Karena sejatinya kita juga ngga benar-benar tahu atas alasan apa dia melanggar nasehatnya sendiri.

 

Kita yang diberi nasehat juga ngga perlu membela diri dengan menjawab: "Halah kamu yo belum ngelakuin apa yg kamu nasehatin, kok udah maen nasehatin orang aja". Ucapkan saja "terimakasih atas nasehatnya" dan jika nasehatnya benar, tinggal diamalkan saja sesuai kemampuan kita.

 

Seorang yang menasehati sebenarnya dia telah mencurahkan sebagian waktu dan kemampuannya untuk memperhatikan kondisi kita, yang kemudian dia inisiatif berbuat baik dengan memberikan sesuatu yang namanya nasehat yang barangkali sedang atau akan kita butuhkan pada suatu hari nanti. Hal inilah yang seharusnya kita apresiasi, terlepas dia -si pemberi nasehat- bakal mengamalkan nasehatnya sendiri atau tidak.

 

Alhamdulillaahi rabbil aalamiin.

 

Keterangan:
¹ Beliau adalah Professor, Doktor keturunan Indonesia yang kini menjadi pengajar di masjid Nabawi. Beliau lahir di Mekah, Januari 1959. Abi-nya orang Lampung dan umi-nya orang Semarang. Meskipun beliau berdarah Indonesia, beliau kurang begitu lancar berbahasa Indonesia. Malah justru bahasa Arabnya lebih fasih karena sejak kecil sudah tinggal di Saudi Arabia. Kajian-kajian ilmiah beliau sudah banyak tersedia di Youtube.

 

² Jarkoni (adjective/kata sifat) yaitu sebuah ungkapan dari bahasa jawa yang artinya "Iso ngajar ora iso ngelakoni". Ungkapan ini diberikan kepada orang yang omongannya saja, tidak ada action atau tindakannya.

 

Ungkapan ini sebenarnya ada dua versi, versi pertama: Iso ngajar iso ngelakoni. Versi kedua: Iso ngajar ora iso ngelakoni. Namun, yang banyak tersebar di masyarakat adalah versi kedua.