Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Artikel : Hijrah musiman

Kajian Online Pekanan
Spesial bulan Syawal
Edisi XXXIX/Tahun ke-II/Juni/2018
Program “Go Islamic” 
FIKES UMMagelang

 

Hijrah musiman

 

Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan, anggota komite tetap penelitian dan fatwa Islam di Saudi Arabia, pernah memberikan nasehat yang kurang lebih maknanya:

 

Bertaqwalah kalian kepada Allah subhaanahu wa taala, dan ikutilah amalan-amalan kebaikan setelah Ramadhan. Sejatinya bulan Ramadhan ada dengan tujuan untuk membuat seseorang semangat melakukan kebaikan, taubat, serta amal shaleh lainnya. Maka, termasuk tanda diterimanya taubat dan amalan-amalan seorang hamba pada bulan Ramadhan adalah: 
“Seseorang ketika keluar dari bulan Ramadhan, keadaannya lebih baik dalam ketaatannya dibandingkan sebelum ramadhan".

 

Begitu juga sebaliknya...

 

Termasuk tanda tertolak dan kegagalan seorang muslim setelah Ramadhan adalah:
“Seseorang setelah keluar dari bulan Ramadhan lebih jelek keadaannya dari pada sebelumnya.”

 

Oleh sebab itu, perhatikanlah diri kalian dan lihatlah keadaan kalian setelah berlalunya bulan Ramadhan. Apakah semakin baik atau semakin buruk.

 

Jagalah (istiqomahlah) apa-apa yang telah kalian usahakan dari amal kebaikan di bulan Ramadhan. Janganlah kalian merusaknya, dengan kembali berbuat maksiat dan kejelekan² setelah Ramadhan.

 

Berakhirnya Ramadhan bukan berarti berakhirnya amal dan taubat, karena seorang muslim akan terus beramal hingga Allah subhaanahu wa taala mentakdirkannya meninggal dunia di suatu hari nanti.

 

(Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/14046)

 

Di antara intisari ucapan beliau adalah pentingnya menstabilkan berbagai amalan yang telah dilakukan selama bulan Ramadhan, baik itu membaca Al Quran, shalat malam, sedekah, bertaubat dan lain sebagainya. Boleh jadi setiap muslim memiliki kuantitas amal yang berbeda-beda, namun, sekalipun terkesan sedikit, jika dilakukan secara kontinyu maka akan lebih dicintai oleh Allah subhaanahu wa taala (HR. Muslim no.485. Shahih).

 

Poin berikutnya yang juga sangat fundamental adalah jangan sampai kita hanya terkesan ber-"hijrah musiman" atau hanya menjadi shalih atau shalihah selama Ramadhan saja. Setelah itu kembali seperti sedia kala yang keadaannya tidak lebih baik atau cenderung lebih buruk dari sebelum Ramadhan.

 

Sebagian Salaf (ulama terdahulu) pernah mengatakan yang artinya:

"Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang tidak mengenal Allah subhaanahu wa taala kecuali hanya di bulan Ramadhan saja".

 

Abdul Aziz bin Baz, ex-Mufti Saudi Arabia, menegaskan bahwa ucapan tersebut adalah benar adanya (Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/14863/الحكم-على-قول-لا-يفلح-قوم-لا-يعرفون-الله-الا-في-رمضان).

 

Meskipun realitanya begitu, seorang muslim yang ber-"hijrah musiman" adalah keadaannya jauh lebih baik daripada yang tidak berhijrah sama sekali, baik itu di dalam atau luar Ramadhan. Namun bagaimanapun juga, dapat istiqomah setelah Ramadhan adalah yang benar-benar diharapkan untuk saat ini dan seterusnya.

 

Semoga Allah subhaanahu wa taala menjadikan kita hamba yang lebih baik dan istiqomah setelah berakhirnya Ramadhan, Aamiin.