Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Artikel : Fiqih puasa syawal

Kajian Online Pekanan
Spesial bulan Syawal
Edisi XXXVIII/Tahun ke-II/Juni/2018
Program “Go Islamic” 
FIKES UMMagelang

 

Fiqih puasa syawal

 

Puasa syawal adalah salah satu jenis puasa sunnah yang dilakukan selama 6 hari pada waktu bulan syawal (HR. Muslim no.1984. Shahih). Hukum melaksanakan puasa syawal adalah mustahab atau sunnah atau dianjurkan (Syarah Shahih Muslim no.8:51 karya An Nawawi; Al Mughni no.3/176 karya Ibnu Qudamah Al Maqdisi).

 

Seorang muslim yang berpuasa syawal maka akan mendapatkan keutamaan pahala seperti pahala puasa setahun penuh (HR. Muslim no.1164. Shahih). Sebagian ahli ilmu berpandangan lain, bahwa pahalanya seperti pahala puasa seumur hidup (Faidhul Qadir no.6/161 karya Al Munawi; An Nihayah Fi Gharibil Atsar no.2/355 karya Ibnu Atsir). Terlepas mana yang lebih kuat dari dua pendapat di atas, maka cukup bagi kita untuk tidak terlalu memikirkan hal tersebut. Tugas kita hanya puasa sunnah di bulan syawal, akan mendapatkan pahala seperti puasa setahun, ya Alhamdulillah. Namun jika ternyata pahalanya seperti pahala puasa seumur hidup, ya itu yang lebih kita harapkan, Alhamdulillah.

 

Puasa syawal direkomendasikan untuk diamalkan setelah selesai mengqadha puasa ramadhan agar bisa mendapatkan keutamaan sebagaimana penjelasan sebelumnya (Lathaiful Maarif hal. 391 karya Ibnu Rajab Al Hambali). Namun sebagian Ulama masa kini berpendapat lain, bahwa boleh melakukan puasa syawal dahulu sebelum qadha puasa ramadhan. Alasannya karena waktu qadha sangat longgar dan waktu puasa syawal sangat singkat. Yang menyatakan tidak boleh puasa sunnah sebelum qadha butuh bukti dalil yang kuat. Sementara di lain sisi, tidak ada dalil yang tegas dalam hal ini (Penjelasan Dr. Khalid Al Mushlih, Doktor di bidang Fiqih, Universitas Al Qashim, Saudi Arabia). Jadi, jalan tengah dalam masalah ini adalah dengan melihat peluang kapan kita bisa puasa syawal dan qadha ramadhan. Bilamana semua dapat segera diselesaikan di bulan syawal, nampaknya akan lebih ringan ketimbang ditunda-tunda hingga setelah bulan syawal habis.

 

Puasa syawal boleh dilakukan pada hari apa saja dari mulai senin hingga ahad, asalkan selama masih di bulan Syawal (Al Majmu Syarh Al Muhadzdzab no.6:309 karya An Nawawi). Tergantung di hari yang mana yang nampak lebih mudah bagi kita.

 

Puasa Syawal boleh dilakukan secara berurutan hari nya atau mau dirandom atau acak dan tidak berurutan harinya (Syarah Al Mumti no.6:465 karya Ibnu Utsaimin). Opsional bagi kita, mana yang lebih potensial untuk dipilih. Mau urut atau random, tidak menjadi masalah.

 

Sahur tetap dianjurkan dalam puasa syawal, karena akan dapat menguatkan badan selama puasa, dan tentunya akan memperoleh keberkahan atau kebaikan lainnya sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad shallallaahu alaihi wa sallam (HR. Bukhari no.1789. Shahih).

 

Niat puasa syawal boleh dilakukan setelah terbit matahari. Tidak diharuskan niat di malam hari, karena niat di malam hari dikhususkan untuk puasa wajib, semisal puasa Ramadhan (Syarah Shahih Muslim no.8/35 karya An Nawawi). Cukup niat dalam hati saja, tidak perlu diverbalkan atau diucapkan, karena tidak ada dalil shahih yang memaparkan hal tersebut.

 

Puasa syawal boleh dibatalkan seandainya kita dalam kondisi tertentu (Shahih Abu Dawud no.2456 karya Al Albani). Misalnya, kelaparan saat dalam perjalanan, mendapatkan undangan makan-makan, dan lain sebagainya. Jika mau diqadha di hari lain selama masih di bulan Syawal, akan lebih baik.

 

Seorang istri disarankan meminta izin kepada misua nya terlebih dahulu sebelum berpuasa syawal (HR. Bukhari no.5195. Shahih). Hal ini sebagai bentuk jaga-jaga saja, barangkali misua mau ngajak jalan atau mau ngajak makan di resto ini itu atau sedang akan ada kepentingan khusus yang perlu segera dipenuhi. Pasutri akan lebih paham dalam urusan yang satu ini.

 

Puasa syawal boleh digabungkan pelaksanaannya dengan puasa sunnah lainnya semisal puasa senin-kamis, puasa daud, puasa 3 hari setiap bulan pada tanggal 13,14,15 H dan puasa sunnah lainnya. Seorang muslim yang mengamalkannya akan mendapatkan pahala ganda yaitu pahala puasa syawal dan puasa sunnah lainnya yang ia gabungkan (Penjelasan Ibnu Utsaimin dalam Fatwa Al Islamiyah no.2/154). Adapun menggabungkan puasa syawal dengan qadha puasa ramadhan adalah tidak diperbolehkan (Fatwa Abdul Aziz bin Baz, ex-Mufti Saudi Arabia, dalam website beliau). Dua hal tadi terdapat penjelasan menarik dalam satu topik fiqih tentang "tasyrik ibadatain fi niyyah" yaitu menggabungkan beberapa niat ibadah dalam satu ibadah.

 

Demikian review singkat mengenai fiqih puasa syawal, semoga bermanfaat dan dapat kita amalkan, Aamiin.