Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Artikel : Qailulah

Kajian Online Pekanan
Spesial Ramadhan
Edisi XXXV/Tahun ke-II/Mei/2018
Program “Go Islamic” 
FIKES UMMagelang
 
Qailulah
 
Qailulah adalah tidur di siang hari yang dapat dilakukan setelah waktu zhuhur (Al Mausuah Al Fiqhiyyah no.34:130 karya Kementerian Urusan Wakaf dan Agama, Kuwait). Referensi lain menjelaskan bahwa Qailulah adalah istirahat di siang hari meskipun tidak tidur (Subulus Salam Syarah Bulughul Maram no.1/398 karya Ash Shanani). Singkatnya, Qailulah adalah istirahat dalam bentuk tidur atau hanya sekedar bersantai-santai yang dilakukan di siang hari setelah shalat Zhuhur.
 
Hukum mengamalkan Qailulah adalah sunnah, artinya dianjurkan untuk dilakukan (Shahih Al Jami Ash Shaghir no.4431 karya Al Albani).
 
Dalil tentang diperintahkannya Qailulah adalah Nabi Muhammad shallallaahu alaihi wa sallam pernah bersabda yang artinya: "Qailulah-lah kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat siang" (Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah no.1647 karya Al Albani).
 
Apalagi di bulan Ramadhan, tentunya Qailulah menjadi salah satu aktifitas idola di siang hari, khususnya setelah shalat Zhuhur berjamaah. Kadang kita bisa benar-benar tidur hingga menjelang waktu shalat Ashar atau hanya sekedar slonjoran rileks di Masjid atau Mushola atau tidur-tiduran di sofa sambil chatting, baca-baca update-an bermanfaat, updating status yang berfaedah di sosial media. Semuanya tidak masalah dan termasuk bagian dari sunnah Nabi Muhammad shallallaahu alaihi wa sallam.
 
Berkaitan dengan tidur di bulan Ramadhan, sebenarnya terdapat satu hadits yang menjelaskan keutamaan dari aktifitas tersebut yaitu "tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah". Hanya saja hadits tersebut Dhaif atau lemah sehingga tidak bisa dijadikan dalil bahwa tidur bagi yang berpuasa adalah ibadah (Silsilah Al Ahadits Adh Dhaifah Wal Maudhuah no.4696 karya Al Albani).
 
Oleh karena itu, seorang muslim yang tidur siang di bulan Ramadhan terdapat dua perincian: Pertama, jika ia akan tidur siang dan berniat dengan dalil hadits Qailulah maka ia benar. Kedua, jika ia berdalil dengan hadits yang lemah tadi, maka ia perlu diluruskan. Tidur-pun ternyata juga butuh niat dan dalil, demi untuk mendapatkan pahala dari Allah subhaanahu wa taala di bulan Ramadhan.
 
Selain Qailulah, terdapat dua jenis tidur yang lain, di antaranya:
 
Pertama. 
Tidur setelah shalat subuh.
Hukumnya adalah makruh atau kurang disukai, karena waktu tersebut waktu datangnya keberkahan dari Allah subhaanahu wa taala (Madarijus Salikin no.1: 369 karya Ibnul Qayyim Al Jauziyyah). Namun, ada sebagian Ulama yang membolehkan jika memang tidur setelah subuh dapat membangkitkan semangat bekerja (Fatwa Al Islam no.2063 karya Muhammad Shalih Al Munajjid).
 
Jadi, tidur setelah shalat subuh adalah sebuah pilihan. Jika memang sangat dibutuhkan maka tidak masalah. Namun jika tidak, maka lebih afdhal digunakan untuk aktifitas-aktifitas bermanfaat lainnya. Misalnya, membaca Al Quran, olah raga, belanja ke pasar, memasak dan lain sebagainya.
 
Kedua. 
Tidur setelah shalat Ashar.
Hukumnya adalah mubah atau boleh-boleh saja jika dibutuhkan, karena hadits yang melarang tidur setelah Ashar adalah Dhaif atau lemah (Fatwa Lajnah Daimah Saudi Arabia no.17915).
 
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Islam juga mengajarkan untuk istirahat di tengah padatnya aktifitas, jadi tidak melulu fokus bekerja atau belajar saja. Ada kalanya kita istirahat, tidur, bersantai, menghibur diri, dan refreshing sejenak untuk sekedar melepas lelah dan mengembalikan semangat.
 
Alhamdulillaahi rabbil aalamiin.