Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Artikel : Takhbib

Kajian Online Pekanan
Pekan ke-2: Seri Anak dan Keluarga
Edisi XXXII/Tahun ke-II/Mei/2018
Program “Go Islamic” 
FIKES UMMagelang
 
Takhbib*
 
Takhbib didefinisikan sebagai perilaku negatif yang berupa cheating (menipu) atau berusaha merusak rumah tangga orang lain (Aunul Mabud Syarah Sunan Abu Dawud no.6/159 karya Adzim Abadi). Takhbib juga diartikan merusak hati wanita terhadap suaminya (Al Kabair karya Adz Dzahabi). Makna "merusak" adalah mempengaruhi untuk meminta cerai dari pasangannya (Mausuah Fiqhiyyah no.5/291). Jadi takhbib adalah usaha merebut atau memisahkan atau mengganggu keharmonisan pasangan suami isteri yang sah dengan metode spesifik sebagaimana yang diimplementasikan oleh pelakor (perebut laki orang), pebikor (perebut bini orang) serta orang-orang yang berpotensi menjadi keduanya.
 
Takhbib termasuk kategori dosa besar karena Allah subhaanahu wa taala dan Nabi shallallaahu alaihi wa sallam melaknat para pelakunya (Al Jawab Al Kafi karya Ibnul Qayyim Al Jauziyyah). Maksud dari "laknat" adalah akan dijauhkan dari rahmat Allah subhaanahu wa taala dan berhak mendapatkan siksa (Lisanul Arab no.13:387-388 karya Ibnu Mandzur). Bahkan sebagian ulama melarang bermakmum shalat kepada seseorang yang terbukti melakukan takhbib (Majmu Fatawa no.23/363 karya Ibnu Taimiyyah).
 
Takhbib adalah terlarang berdasarkan dua hadits shahih berikut ini:
 
Pertama.
"Bukan bagian dariku seorang yang melakukan takhbib terhadap wanita sehingga dia melawan suaminya" (HR. Abu Dawud no.2175. Shahih).
 
Kedua.
"Barangsiapa yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya, maka dia bukan bagian dariku" (HR. Ahmad no.9157; Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah no.324 karya Al Albani).
 
Takhbib berlaku bagi laki-laki yang mengganggu isteri orang lain dan perempuan yang juga mengganggu suami orang lain. Seorang yang sudah overdose terkena fitnah takhbib akan berusaha berpisah dari pasangannya atau meminta cerai dengan sebab-sebab yang non-sense (tidak masuk akal). Bahkan sebagian dari mereka mengira sudah mendapatkan orang yang lebih baik dari pasangannya. Padahal realitanya tidak sebagaimana yang dikira.
 
Takhbib disebabkan karena beberapa hal utama berikut ini: Pertama, lemahnya iman, karena orang yang lemah iman akan mudah berbuat pelanggaran syariat. Kedua, ia sudah merasa lebih "Oke dan Wow" dari pasangan orang lain. "Oke dan Wow" maksudnya adalah merasa lebih mapan, lebih cantik, lebih ganteng, lebih kaya, lebih tinggi jabatannya, lebih pinter, lebih tinggi gelar pendidikannya dan lain sebagainya. Seorang yang "merasa lebih" dan terlalu bangga dengan apa yang sudah dicapainya, memiliki kecenderungan meremehkan orang lain yang keadaannya ada di bawahnya. Ketiga, lemahnya komitmen untuk loyal (setia) terhadap pasangannya. 
 
Patofisiologi takhbib diawali dari uncontrolled interaction (interaksi yang tidak terkontrol) misalnya obrolan. Ngobrol dengan lawan jenis pada dasarnya adalah mubah atau boleh-boleh saja jika memang ada kepentingan yang memang perlu diobrolkan panjang lebar. Baik lewat WhatsApp atau sosial media lainnya.
 
Yang jadi masalah adalah ketika niat dalam hatinya tidak hanya sekedar mau ngobrol tapi ingin lebih, lebih dan lebih. Seorang muslim yang memiliki niat seperti itu obrolannya akan menjadi semakin tidak terkendali. Hal inilah yang akan menjadi awal petaka di rumah tangga jika dilakukan oleh dua orang yang sama-sama masih memiliki pasangan yang sah.
 
Sangat disayangkan sebagian orang yang telah dikatakan mapan terkadang berusaha menebar pesona di hadapan lawan jenis yang juga sudah berkeluarga. Entah memberi perhatian yang berlebihan atau lainnya. Bahkan mereka terkesan "menguji" sejauh mana kesetiaan pasangan tersebut. Sekalipun niatnya iseng atau main-main saja, namun tetap saja berbahaya dan termasuk takhbib (Fatwa Islam no.84849).
 
Dari sini terdapat pelajaran khusus bahwa, kemapanan -khususnya suami- terkadang malah menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Tentunya hal ini berlaku bagi mereka yang lemah iman serta komitmen terhadap pasangannya. Meskipun realita pahitnya seperti itu, Alhamdulillah, Allah subhaanahu wa taala masih memiliki suami-suami tangguh yang kuat iman dan komitmennya, yang mereka tidak akan pernah melakukan takhbib sehingga kemapanan yang telah ia miliki akan menjadi berkah bagi diri, istri serta anak-anaknya.
 
Solusi bagi seorang yang terkena fitnah takhbib adalah hendaknya segera berhenti dari perbuatannya, kemudian bertaubat yang nashuha dan meminta maaf kepada pasangan yang telah diganggunya tadi. Karena akan menjadi panjang urusannya di akhirat jika pasangan tersebut masih merasa tidak ridha atas bentuk gangguan tersebut.
 
Oleh karena itu, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk melarang interaksi dengan lawan jenis, namun sebagai bentuk nasehat bahwa interaksi dengan lawan jenis tidaklah selalu baik dan juga tidaklah selalu buruk. Baik buruknya tergantung dari sejauh mana kita mampu mengendalikan diri. Karena dalam urusan-urusan tertentu kita memang masih butuh interaksi dengan lawan jenis.
 
Semoga Allah subhaanahu wa taala senantiasa menjaga diri kita dari dosa takhbib, Aamiin.
 
Catatan tambahan:
*Ruang lingkup takhbib adalah untuk suami atau isteri atau seorang single yang nekat mengganggu pasangan yang sah.