Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Artikel : Nafkah

Kajian Online Pekanan
(Pekan ke-2: Seri Anak dan Keluarga) 
Edisi XV/Tahun ke-II/Januari/2018
Program “Go Islamic” 
FIKES UMMagelang
 
Nafkah
 
Secara syariat, nafkah didefinisikan sebagai sesuatu yang dikeluarkan oleh seseorang untuk keluarganya atau orang yang ditanggungnya dalam bentuk makanan, pakaian, tempat tinggal, dan hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari (Lisanul Arab, 3/693 karya Ibnu Mandzur; Fiqih Muyassar, 3/209 karya Dr. Abdullah Al Muthlaq; Fiqhus Sunnah, 2/266 karya Sayyid Sabiq).
 
Hukum memberi nafkah adalah wajib bagi orang yang memiliki tanggungan (QS. Ath Thalaq ayat 7; QS. Al Baqarah ayat 233). Misalnya, suami kepada isteri dan anak-anaknya, single mother atau father kepada anak-anaknya, anak-anak kepada orang tuanya yang karena suatu keadaan menjadi tanggungannya.
 
Memberi nafkah memiliki keutamaan sebagai berikut, nafkah lebih afdhal (lebih banyak pahalanya) daripada sedekah sunnah (HR.Muslim no.995. Shahih), pemberi nafkah akan mendapatkan pahala yang besar jika ikhlas memberinya (HR. Bukhari no.56. Shahih), memberi nafkah termasuk sedekah (HR. Ahmad no. 4/132. Hasan), dan nafkah sebagai penghalang dari api neraka (HR. Bukhari no.1417. Shahih).
 
Berkaitan dengan waktu pemberian nafkah, tidak ada ketentuan spesifik dari Al Quran dan Sunnah. Jadi semuanya dikembalikan kepada kondisi dan kesepakatan suami isteri. Mau diberikan per hari, per minggu, per bulan atau dirapel per tahun juga tidak apa-apa (Ahkamuz Zawaj karya Dr. Umar Sulayman Al Asyqar).
 
Besaran atau jenis nafkahnya juga tidak ada ketentuan yang spesifik, sehingga disesuaikan dengan kultur masyarakat dimana orang tersebut bermukim (Majmu Fatawa, 34:83 karya Ibnu Taimiyyah). Barangkali antara budaya Indonesia dengan Asia atau Eropa berbeda. Maka, seorang suami menyesuaikan jenis nafkahnya berdasarkan kultur tempat dimana ia bermukim. Seandainya membelikan mobil kepada isteri termasuk dalam konteks nafkah di daerah tersebut, maka seorang suami berkewajiban menunaikannya. Seandainya saja. Tentunya "kultur" yang dimaksud oleh referensi di atas adalah kultur yang masih dalam hal yang diperbolehkan syariat. Jika bertentangan, maka tidak diperkenankan untuk menunaikannya.
 
Referensi yang lain menjelaskan bahwa besaran dan jenis nafkah disesuaikan atau fleksibel dengan keadaan atau kondisi rumah tangga (Badai As Shanai 4/24 karya Abu Bakr Al Kasani). Misalnya, seorang suami yang bergaji 2 juta perbulan, maka ia menyesuaikan nafkahnya sesuai kebutuhan wajar rumah tangganya dan isteri nya juga tidak diperkenankan menuntut untuk dibelikan "ini-itu-ini-itu" yang sekiranya dapat memberatkan suami.
 
Dua referensi di atas saling melengkapi. Satu fokus di kultur nya. Sementara, lainnya di kondisi rumah tangganya. Tinggal suami dan isteri menyepakati akan memilih yang mana.
 
Seorang suami diwajibkan memberi nafkah karena beberapa sebab, di antaranya, karena pernikahan (HR. Muslim no. 2137. Shahih), karena hubungan kerabat, misalnya, anak yang menafkahi orang tuanya (Irwaul Ghalil no.3/322. Shahih), karena memiliki budak (HR. Muslim no.3239. Shahih), dan karena memiliki binatang peliharaan (At Tamhid, 22/9 karya Ibnu Abdil Barr). Jadi jika kita memiliki hewan peliharaan di rumah, entah itu kucing, kura-kura, ikan hias, sapi, kambing, ayam, monyet, hamster, kelinci, kuda, burung, maka wajib dinafkahi dengan memberinya makan, minum, dan tempat tinggal yang nyaman. Begitu juga bagi Zookeeper (penjaga/pemilik kebun binatang), wajib memberi nafkah kepada para binatang di tempat tersebut.
 
Berikut beberapa kondisi tertentu yang berkaitan nafkah, di antaranya: 
 
Uang jajan yang diberikan kepada isteri bukan sebagai nafkah, karena uang tersebut identik dengan hal yang sifatnya sekunder dan tersier. Suami sah-sah saja memberikan uang jajan kepada isteri sebagai bonus dan itu akan terhitung sedekah (Shahih Adabul Mufrad no.578). Suami juga berkewajiban memberikan nafkah biologis kepada isterinya (HR. Bukhari no.1968. Shahih), karena wanita memiliki "keinginan" sebagaimana laki-laki juga punya "keinginan" (Syarah Arbain Nawawiyah oleh Ibnu Utsaimin, hadits ke-15).
 
Suami isteri yang bercerai, maka suami tidak lagi memberi nafkah ke isterinya namun tetap wajib memberi nafkah kepada anak-anaknya (Al Mughni no.8/171 karya Ibnu Qudamah Al Maqdisi), dan nafkah yang telah diberikan kepada isteri tersebut -berapapun jumlahnya- tidak boleh didebet kembali (Ahkamuz Zawaj karya Dr. Umar Sulayman Al Asyqar). 
 
Jika suami miskin sehingga tidak mampu menafkahi, maka isteri boleh memberinya nafkah (Fiqhul Islam Syarah Bulughul Maram, 3/154-156 karya Abdul Qadir Al Hamd). Suami tetap wajib memberi nafkah kepada isteri yang sudah memiliki pekerjaan atau lebih kaya darinya (QS. At Thalaq ayat 7). Gaji dari pekerjaan isteri adalah 100 % murni milik isteri, seorang suami tidak boleh memanfaatkannya tanpa ijin dan keridhaan isteri, sekalipun suami tersebut miskin (Dr. Abdullah Al Jibrin dalam Fatwa Al Marah Al Muslimah). 
 
Demikian review singkat mengenai nafkah dan semoga bermanfaat.