Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Artikel : Andaikan dosa bagaikan bau badan

Kajian Online Pekanan
(Pekan ke-4: Seri Adab & Tazkiyatun Nufus) 
Edisi XIII/Tahun ke-II/Desember/2017
Program “Go Islamic” 
FIKES UMMagelang
 
Andaikan dosa bagaikan bau badan
 
Muhammad bin Wasi* rahimahullah** pernah mengatakan:
"Seandainya dosa memiliki bau, kalian tidak akan mampu berdekatan denganku karena busuknya bau dosaku" (Shifatus Shafwah III/268 karya Ibnul Jauzy; Siyar Alam An Nubala 6/120 karya Adz Dzahabi).
 
Terdapat beberapa keteladanan yang terkandung dari ucapan beliau, di antaranya:
 
Pertama.
Salah satu bentuk kasih sayang Allah subhaanahu wa taala kepada para hambaNya adalah dengan tidak mewujudkan dosa dalam bentuk bau badan. Hal tersebut bertujuan agar kita tidak merasa dipermalukan di depan manusia saat berbuat dosa. Namun bukan berarti kita diperbolehkan berbuat dosa.
 
Kedua.
Dosa terbagi menjadi dua yaitu dosa besar dan kecil. Dosa besar adalah dosa yang terdapat ancaman khusus seperti kalimat "tidak akan masuk surga..." dan yang sejenisnya. Contoh dosa besar: memutus silaturrahmi, zina, mencuri, dan lain sebagainya. Sementara dosa kecil tidak ada ancaman, hanya saja tetap berpotensi mendapatkan siksa di neraka jika pelakunya tidak bertaubat (Fatwa Ibnu Utsaimin dalam website beliau; Syarah Al Kabair oleh Dr. Shalih Al Fauzan). 
 
Baik dosa besar atau kecil, kedua nya sama-sama dilarang untuk dilakukan karena memiliki undesirable effect (efek yang tidak diharapkan) oleh siapapun yaitu adanya ancaman masuk neraka.
 
Terdapat buku khusus berbahasa Indonesia yang menjelaskan macam-macam dosa besar yaitu "Syarah Al Kabair Imam Adz Dzahabi" karya Muhammad bin Shalih Al Ustaimin yang diterbitkan oleh AQWAM atau Darus Sunnah. Barangkali dibutuhkan untuk dibaca.
 
Ketiga.
Seorang muslim pasti berbuat salah atau dosa (Shahih Al Jami Ash Shaghir no. 4515). Namun, tidak seharusnya dosa-dosa tersebut dipamerkan yang dapat menimbulkan kesan seolah-olah tidak memiliki rasa malu.
 
Saat telah berbuat dosa, disana hanya ada dua pilihan yaitu "for better or for worse". Pilihan pertama, "for better", segera berhenti, segera bertaubat dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi di masa yang akan datang. Sementara pilihan kedua, "for worse", adalah kebalikannya. Pilihan ini tidak direkomendasikan untuk dipilih.
 
Keempat.
Bau badan adalah sesuatu yang dapat mengganggu orang lain. Maka sudah seharusnya hal ini menjadi perhatian seorang muslim untuk senantiasa menjaga kualitas penampilan khususnya yang berkaitan dengan bau, baik itu bau badan, bau mulut, bau pakaian, bau kaos kaki dan bau-bau lainnya yang berkaitan dengan fisik.
 
Bagi laki-laki diperbolehkan memakai parfum, hanya saja tetap dengan batasan. Namun tidak diperbolehkan bagi perempuan (HR. Nasai no.5129. Hasan). Karena parfum dapat membangkitkan syahwat bagi pria yang menghirupnya (Shahih Fiqih Sunnah, 3:35 karya Abu Malik; Fathul Baari Syarah Shahih Bukhari, 2:349 karya Ibnu Hajar Al Asqalani).
 
Tentunya larangan ini sebatas ketika di luar rumah atau ketika bersama dengan orang non mahram. Kalau di rumah bersama suami atau anak-anak atau orang tua atau mertua atau mahram lainnya, maka tidak menjadi masalah memakai parfum bagi wanita.
 
Kelima.
Ucapan beliau menegaskan akan pentingnya menumbuhkan rasa malu ketika akan bermaksiat, sehingga dapat mencegahnya untuk bermaksiat karena pada dasarnya, rasa malu merupakan bagian dari iman (HR. Muslim no.35. Shahih). Berdasarkan hadits tersebut, maka seorang yang tengah bermaksiat sejatinya sedang menurun iman dan rasa malunya.
 
Keenam.
Barangkali ada sebagian orang menganggap diri kita adalah orang yang baik, shalih atau shalihah atau yang semisal dengan ungkapan tersebut. Salah satu sebabnya karena Allah subhaanahu wa taala telah menutupi dosa kita. Sulit dibayangkan dampaknya jika Allah subhaanahu wa taala membongkar dosa kita ditengah-tengah orang banyak atau mewujudkannya dalam wujud bau badan. Akankah orang lain masih beranggapan seperti tadi? Belum tentu.
 
Ketujuh.
Jika suatu hari nanti dosa diwujudkan dalam bentuk bau badan, maka berusahalah sekuat tenaga untuk menghilangkannya dengan parfum. Maksud "parfum" disini adalah bertaubat dan memohon ampun kepada Allah subhaanahu wa taala.
 
Kedelapan.
Pentingnya selalu bersyukur dengan alasan karena Allah subhaanahu wa taala telah menutupi dosa-dosa kita selama ini. Jika seorang muslim memiliki 1000 dosa, boleh jadi sebanyak itu juga Allah subhaanahu wa taala menutupi nya. Masihkah kita enggan untuk bersyukur?...
 
Sebenarnya dari sisi ini seorang muslim "berhutang", sehingga berkewajiban "membayarnya" dengan banyak ibadah, beramal shalih dengan serius (baik dan benar) kepada Allah subhaanahu wa taala di hari-hari kemudian.
 
Kesembilan.
Pentingnya sikap rendah hati atau tawadhu. Karena beliau rahimahullah tidak menganggap dirinya orang yang baik atau suci atau bersih dari dosa, sekalipun beliau adalah seorang tabi"in.
 
Sebagaimana dikatakan: 
"Orang yang baik adalah orang yang merasa dirinya belum baik". 
 
Dalam ungkapan yang lain:
"Seseorang jika telah merasa baik, maka ia akan sulit diperbaiki".
 
Bentuk konkret dari sikap rendah hati adalah menghargai orang lain (At Tawadhu fi Dhauil Quranil Karim was Sunnah Ash Shahihah karya Salim bin Ied Al Hilali). Mau mendengarkan dan menerima nasehat, takut terhadap dosa, tidak merasa superior, tidak merasa menjadi seperti super man atau wonder woman, dan tidak meremehkan orang lain juga bagian dari sikap rendah hati.
 
Oleh sebab itu, sebaik dan sesempurna apapun kondisi kita hari ini, maka "be humble to others" atau rendah hati-lah di hadapan orang lain. Entah kita memiliki kekayaan, gelar, dan jabatan yang lebih melimpah daripada orang lain. Tidak ada manfaatnya merasa tinggi karena pasti akan sangat sakit jika suatu hari nanti kita jatuh atau dijatuhkan dari ketinggian tersebut.
 
Semoga bermanfaat.
 
Note:
*Beliau adalah Abu Bakar Muhammad bin Wasi bin Jabir Al Akhnas, seorang yang terkenal karena ketekunan dan ibadahnya. Beliau adalah seorang tabi"in (generasi terbaik setelah sahabat Nabi) yang meninggal tahun 123 H.
**Rahimahullah bermakna semoga Allah merahmatinya. Kalimat ini berupa harapan yang umum diberikan kepada seorang muslim yang telah meninggal dunia (Fatwa Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu Fatawa Wa Maqalat Mutanawiyah).