Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Artikel : Sosmed care: a fiqh

Kajian Online Pekanan
(Pekan ke-3: Seri Fiqih Ibadah) 
Edisi XII/Tahun ke-II/Desember/2017
Program “Go Islamic” 
FIKES UMMagelang
 
Sosmed care: a fiqh
 
Sosial media (sosmed) dengan semua keunikannya, kini seolah-olah menjadi trending yang tiada akhir. Asalkan digunakan untuk hal yang positif dan tidak melalaikan hal yang wajib, maka seorang muslim sah-sah saja menggunakan sosmed entah itu Facebook, Instagram, LINE, WhatsApp, BBM, Telegram, Skype, WeChat, Twitter, Kakao Talk, Path, Youtube atau platform lainnya. Pada dasarnya, sosmed hanya sebatas media atau sarana saja. Jika digunakan untuk aktifitas atau tujuan yang halal, maka hukum menggunakannya adalah halal. Begitu juga sebaliknya.
 
Seorang muslim perlu memiliki critical thinking supaya terhindar dari sikap ugal-ugalan ketika berselancar di sosmed. Maksud "critical thinking" di sini adalah memastikan dengan ilmu bahwa apa yang kita lakukan di sosmed tidak bertentangan dengan Al Quran dan Sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Karena bersosmed tidak akan berkah dan malah akan menjadi kontraproduktif ketika kita melakukan aktifitas yang mendatangkan murka Allah subhanaahu wa taala. Sebagian orang mengatakan: 
"Bersosmed bukan masalah happy atau unhappy, namun akankah aktifitas tersebut dapat memudahkan kita masuk ke surga? Atau malah sebaliknya, memudahkan kita masuk ke neraka?".
 
Sebuah nasehat yang sangat menarik dari Dr. Ismail Menk, seorang Mufti dari negara Zimbabwe, berkaitan dengan sosmed. Beliau mengatakan:
 
"Aku tidak mengatakan bahwa engkau harus sepenuhnya menarik diri dari teknologi, tapi apa yang ingin kusampaikan adalah: pergunakanlah sebaik mungkin dan jangan gunakan untuk menghancurkan dirimu sendiri. Engkau diperbolehkan memberitahu kebaikan yang sedang engkau rasakan melalui sosial media, tapi tidak harus semuanya diberitahu. Tidak ada salahnya mengupload gambar yang baik. Hanya saja tidak harus mengupload sampai mendetail hal-hal yang terjadi dalam hidupmu. Berhati-hatilah kepada siapa engkau meng-share statusmu karena tidak setiap orang akan suka terhadap apa yang engkau upload".
 
Nasehat beliau mengindikasikan bahwa bersosmed membutuhkan seni. Karena prinsip seorang muslim dalam bersosmed adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya (At Taliqatul Hisan ala Shahih Ibnu Hibban no.229. Shahih). Jika dirasa tidak manfaat maka tidak perlu diupload. Pilihlah postingan yang memang bermutu serta pantas untuk dikonsumsi dan dibaca oleh netizen atau warganet. Hiasilah wall di Facebook atau Instagram atau status sosmed yang lain dengan hal-hal positif yang dapat menginspirasi orang lain untuk terus berbuat baik.
 
Jika kita akan menyebar berita atau informasi formal lainnya, maka pastikan benar-benar valid. Jangan sampai kita mem-viralkan sesuatu yang justru membuat publik menjadi bingung sehingga mereka tidak bisa membuat keputusan dari informasi tersebut. Tidak setiap berita atau informasi yang kita dapatkan, harus dishare ulang. Ada kalanya kita tidak membroadcast ulang, karena informasi tersebut tidak rasional, tidak valid, sudah out of date sehingga tidak layak konsumsi.
 
Jika kita akan mengshare suatu amalan tertentu dalam Islam, maka pastikan bahwa amal tersebut shahih, memiliki literatur yang jelas, dan tentunya ada contohnya dari Nabi shallallaahu alaihi wa sallam beserta para sahabatnya.
 
Di lain sisi...
 
Jika kita sedang merasa galau, feeling blue (sedih), merasa "abu-abu" (perasaan tidak jelas), maka ungkapkanlah perasaan tersebut dalam bentuk doa kepada Allah subhaanahu wa taala, cari waktu yang mustajab serta mohonlah solusi yang terbaik. Sangat tidak efektif, jika malah berkeluh kesah di sosmed. Bahkan hal tersebut akan kurang dipedulikan oleh pembaca, dapat mengacaukan pikiran orang lain dan justru akan menunjukkan kelemahan kita. Bagi seorang muslim, tempat berkeluh kesah yang terbaik hanyalah Allah subhaanahu wa taala sebagaimana penjelasan dalam QS. Yusuf ayat 86.
 
Instal-lah aplikasi sosmed yang sesuai kebutuhan dan kita tidak perlu memaksakan diri untuk menginstal banyak aplikasi sosmed hanya karena "ben koyo liyane" atau ikut-ikutan dengan yang lain. Alasan yang lain, terlalu banyak menginstal sosmed akan banyak menguras energi, baik energi di handphone, fisik, dan pikiran. Belum lagi masalah waktu dan berfikir mau update status apa.
 
Bahkan sebagian dosen kami ada yang sama sekali tidak punya aplikasi sosmed modern sebagaimana yang disebutkan di awal. Handphone-nya saja edisi klasik yang hanya bisa telp dan SMS-an. Kalau ingin berkomunikasi dengan beliau via email. Pernah suatu saat beliau memberikan nasehat yang kurang lebih seperti ini: "Berhati-hatilah kalian dari aplikasi sosmed. Pandai-pandailah menggunakannya. Karena sudah terlalu banyak masalah yang muncul berawal dari sana".
 
Kesimpulan dari tulisan ini tidak bermaksud menyarankan untuk meninggalkan gemerlap dunia sosmed. Karena masih banyak sisi positif dari sosmed yang dapat digunakan dalam rangka memudahkan urusan dunia dan akhirat. Dalam perspektif yang lain, setiap orang memiliki versi kehidupan dan kebutuhan yang berbeda-beda. Bagi si A, memiliki satu aplikasi sosmed barangkali cukup. Namun bagi si B, barangkali kurang, mungkin karena ia pedagang atau juru dakwah atau profesi yang lain sehingga membutuhkan banyak media untuk promosi dan berkomunikasi. Sekali lagi, selama sosmed tersebut digunakan untuk hal yang dibenarkan Islam dan tidak melalaikan hal yang wajib, maka tidak menjadi masalah. Demikianlah konsep dari sosmed care.
 
Semoga Allah subhaanahu wa taala senantiasa membimbing di setiap aspek kehidupan kita, Aamiin.