Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Artikel : We do not want to be the killers

Kajian Online Pekanan
(Pekan ke-2: Seri Anak & Keluarga) 
Edisi XI/Tahun ke-II/Desember/2017
Program “Go Islamic” 
FIKES UMMagelang
 
We do not want to be the killers
 
Salah satu tanda semakin dekatnya Hari Kiamat adalah maraknya pembunuhan (HR. Muslim no.XVIII/35. Shahih; Shahih Al Jami Ash Shaghir II/193, no.2043). Termasuk dalam hadits di atas adalah pembunuhan dalam konteks rumah tangga. Berikut hasil telusur berita yang berkaitan dengan hal tersebut.
 
[Suami membunuh isteri]
Cemburu kepada isteri (Magelang, 1 Oktober 2014), Isteri menolak diajak berhubungan seksual (Magelang, 25 Oktober 2015), Suami menembak hingga mati isteri di sebuah klinik dengan alasan untuk reinkarnasi (Jakarta, 9 November 2017), hanya karena ditertawakan isterinya (USA, 29 Juli 2017), hanya ingin bergabung di ISIS (Melbourne Australia, 22 September 2017).
 
[Suami membunuh isteri dan anak]
Ribut karena masalah finansial keluarga (Tangerang, 13 Oktober 2017), Karena depresi dan masalah ekonomi, suami membunuh isteri, dua anaknya dan akhirnya ia pun juga bunuh diri (North-west London, 7 Mei 2001), karena gangguan mental, suami membunuh isteri dan 5 anaknya (Florida USA, 5 September 2017).
 
[Isteri membunuh suami]
Karena cemburu, isteri bunuh suami (Kolaka Sulawesi Tenggara, 19 Oktober 2017), isteri cemburu (Johor Malaysia, 15 Oktober 2017), isteri ketahuan selingkuh, kemudian ia dan pacarnya membunuh suaminya (India, 11 Desember 2017).
 
[Suami membunuh anak]
Suami bunuh balita 3 tahun, bahkan isterinya mendiamkannya ketika perbuatan tersebut terjadi (Kalimantan Timur, 8 Desember 2017), suami membunuh dua anaknya tanpa motif yang jelas (Texas USA, 10 Desember 2017).
 
[Isteri membunuh anak]
Isteri menembak hingga mati dua anaknya saat mereka tidur (Texas USA, 3 November 2017), efek pernikahan yang tidak bahagia, isteri menembak dua anaknya (Miami USA, 25 September 2017).
 
[Anak membunuh orang tua]
Anak umur 18 tahun membunuh ibu kandungnya sendiri tanpa alasan yang jelas (Ciputat, 16 Februari 2017), pemuda umur 37 tahun membunuh ayah kandungnya (Jakarta, 11 Oktober 2015), pemuda umur 30 tahun membunuh ibu kandungnya dengan alasan mempelajari ilmu sesat (Purwokerto, 27 Juli 2017), pemuda umur 19 tahun membunuh kedua orang tuanya (Brebes, 10 Desember 2014).
 
Sekumpulan berita di atas merupakan bukti kebenaran hadits Nabi yang telah disebutkan di awal, terlepas yang terbunuh seorang muslim atau bukan.
 
Dalam perspektif Islam, darah dan kehormatan seorang manusia sangat berharga apalagi jika ia seorang muslim dan anggota keluarga kita. Sebagian literatur menjelaskan bahwa hancurnya dunia beserta isinya lebih ringan bobot masalahnya daripada terbunuhnya satu orang muslim (HR. Nasai no.VII/82; Ghayatul Maram no.439. Shahih). Bahkan ada dua hadits yang juga menegaskan bahwa dosa membunuh seorang mukmin lebih besar daripada hancurnya dunia (HR. Nasai no.VII/83; Ghayatul Maram no. 439. Shahih) dan darah seorang muslim lebih mulia daripada Kabah di Mekah (Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah no.3420). Beberapa referensi di atas menunjukkan akan berharganya seorang muslim sehingga tidak boleh dilukai apalagi dibunuh. Termasuk dalam hal ini adalah larangan melukai anggota keluarga dengan mencubit, memukul, menampar, baik kepada anak, isteri atau suami.
 
Sebagaimana yang telah diketahui bahwa membunuh tergolong dosa besar, baik yang dibunuh seorang muslim atau bukan (HR. Bukhari no.6465. Shahih) dan akan lebih besar dosanya jika yang dibunuh anggota keluarga sendiri. Allah subhaanahu wa taala mengancam bahwa seorang pembunuh akan dimasukkan ke neraka Jahannam, kekal di dalamnya, akan dimurkai serta dilaknat oleh Allah dan akan mendapatkan siksaan yang sangat pedih (QS. An Nisa ayat 93). Sementara dalam sebuah hadits menjelaskan bahwa seandainya saja seluruh penduduk bumi berkumpul membunuh seorang muslim, maka Allah akan memasukkan mereka semua (yang membunuh) ke neraka (Shahih At Targhib no. 2443). Keterangan di atas menegaskan bahwa membunuh adalah perkara yang besar dalam perspektif Allah dan RasulNya sehingga pelakunya akan mendapatkan sanksi yang sangat berat di Akhirat.
 
Proses membunuh seringkali diawali dengan ketidakmampuan mengendalikan emosi atau amarah, yang kemudian diikuti oleh ketidakmampuan mengendalikan gerak anggota badan (tangan dan kaki). Mereka yang mengalami hal tersebut terkadang atau sering tiba-tiba tidak secara sadar mengambil benda di lingkungan sekitar (misalnya, pisau dapur, palu, atau yang lainnya) kemudian menggunakannya untuk melukai atau membunuh.
 
Seorang pakar neurologi dari negara Inggris yaitu Professor Adrian Raine pernah melakukan CT Scan kepada sejumlah pembunuh. Ia menemukan adanya penurunan aktifitas otak di bagian pre-frontal cortex yaitu area di otak yang mengendalikan impuls emosi dan adanya aktifitas yang berlebihan di area Amygdala yaitu area di otak yang memicu emosi. Beliau juga menjelaskan bahwa para pembunuh mudah marah dan pada saat yang sama kurang memiliki kendali diri. Beliau menyimpulkan bahwa semua itu terjadi kemungkinan karena adanya kekerasan di masa kecil si pembunuh tadi yang memicu kerusakan di otak khususnya di area pre-frontal yang sangat rawan rusak jika terpapar kekerasan. Demikian keterangan dari artikel berjudul "are murderers born or made?" dalam website BBC yang diakses 14 Desember 2017.
 
Dalam disiplin ilmu Psikologi, istilah "pembunuh" sangat lekat dengan istilah "psychopath" atau "sociopath". Michael Tompkins, seorang Psikolog, mengatakan bahwa psychopath tidak punya rasa bersalah saat berbuat kesalahan. Ia selalu menuruti apa kata hatinya tanpa mempertimbangkan ini benar atau salah, ini berbahaya atau tidak, ini merugikan atau tidak. Di lain sisi, sociopath yaitu seorang yang memiliki rasa bersalah saat berbuat kesalahan, bahkan ia juga merasa menyesal atas perbuatannya. Hanya saja rasa bersalah yang ia miliki lemah sehingga ia tidak mau berhenti untuk berbuat kesalahan sekalipun ia tahu hal tersebut salah. Antara psycopath dan sociopath sama-sama tidak memiliki jiwa empati, "to stand in someone else"s shoes"* dan mereka berpotensi menjadi pembunuh. Demikian keterangan dari artikel yang berjudul "Sociopath vs Psychopath: What is the difference?" dalam WebMD yang diakses 14 Desember 2017.
 
Jika dispesifikkan ke dalam konteks rumah tangga, sangat wajar dan normal jika terdapat masalah di dalamnya, baik level masalah tersebut ringan, sedang atau berat. Hanya saja Islam telah mengajarkan untuk bisa menyelesaikannya dengan baik yaitu mengedepankan sifat sabar. Islam juga telah mengingatkan untuk menghentikan semua penyebab yang berpotensi mengantarkan seseorang untuk menjadi pembunuh. Sebab yang dimaksud adalah mengendalikan emosi atau amarah, sebesar apapun masalahnya. Maka dari itu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda: "Jangan marah" (HR. Bukhari no.6116. Shahih).
 
Berdasarkan keterangan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa membunuh sama sekali tidak bisa dibenarkan sebagai solusi untuk mengatasi problematika rumah tangga, baik itu berkaitan dengan masalah ekonomi, kenakalan anak, hingga pelanggaran yang telah dilakukan isteri atau suami. Karena pada dasarnya, masalah tersebut masih dapat diselesaikan dengan baik-baik tanpa harus melukai apalagi sampai membunuh. Di lain sisi, sebenarnya Allah subhaanahu wa taala tidak menciptakan kita menjadi seorang pembunuh, melainkan untuk menjadi the survivor (orang yang selamat) di tengah-tengah konflik dan tentunya patuh kepada aturan Islam ketika menyelesaikan masalah tersebut.
 
Semoga bermanfaat.
 
*To stand in someone else"s shoes maksudnya, bagi kita -orang yang normal-, ketika akan berbuat sesuatu kepada orang lain maka -idealnya- kita akan berusaha merasakan terlebih dahulu jika perbuatan yang tersebut kita yang menerima, kita mengevaluasi apakah nyaman atau tidak. Jika ternyata kita merasa tidak nyaman, maka jangan lakukan hal tersebut kepada kepada orang lain. Namun jika nyaman, maka silahkan perlakukan orang lain dengan cara tersebut.
 
Sementara itu, psychopath dan sociopath kurang peka untuk merasakan hal tersebut sehingga mereka berbuat sesuka hatinya, baik itu nantinya berujung pembunuhan atau hanya sebatas melukai secara fisik dan psikologis.