Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Artikel : A good wife will forever be loved

Kajian Online Pekanan
(Pekan ke-2: Seri Anak & Keluarga) 
Edisi II/Tahun ke-II/Oktober/2017
Program “Go Islamic” 
FIKES UMMagelang
 
A good wife will forever be loved
 
Teringat akan sebuah hadits Nabi bahwa kelak di hari kiamat, sebagian besar penghuni neraka adalah para wanita. Kemudian sebagian sahabat Nabi bertanya, kenapa? Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab karena mereka banyak mengingkari kebaikan dan durhaka kepada suami (HR. Bukhari no.5197, 3241,1052, 304; Muslim no.907, 885. Shahih). Sebagian referensi menjelaskan bahwa hal tersebut akan terjadi karena mereka adalah isteri yang tidak mau memenuhi kewajiban terhadap suaminya (Syarah Shahih Muslim, 6:192 karya an Nawawi).
 
Dua keterangan di atas menegaskan sikap kurang terimakasihnya isteri kepada suami dapat merugikannya di hari kiamat. Tentunya jika isteri tadi tidak sempat bertaubat selama hidupnya dari perbuatan tersebut. Namun, jika telah bertaubat, kami berharap Allah subhaanahu wa taala akan menerima taubatnya, mengampuni kesalahannya dan juga tidak akan memasukannya ke neraka.
 
Pelajaran berikutnya yaitu di antara kriteria inklusi seorang isteri dikatakan baik ketika ia senantiasa berterimakasih, bersyukur terhadap kebaikan yang datang dari suaminya. Ia juga akan selalu berusaha memenuhi hak suaminya dengan sebaik-baiknya dan semampunya. Perilaku tersebut sekaligus sebagai realisasi cintanya kepada suami yang pada dasarnya memang perlu sesering mungkin untuk dibuktikan dengan perbuatan, bukan dengan ucapan atau pengakuan saja.
 
Namun terkadang ada suatu masa dimana seorang isteri berbuat sesuatu yang "tidak sesuai", maka idealnya, seorang suami memaafkan dan memberikan kesempatan kepada isteri untuk memperbaiki diri agar perbuatan tersebut tidak terulang kembali di masa yang akan datang. Rasanya kurang begitu pas ketika seorang isteri telah berbuat salah, suami malah meng-embargo secara berlebihan, memojokkan atau bahkan membiarkannya begitu saja. Hal tersebut justru akan membuat isteri semakin merasa tidak nyaman dan boleh jadi masalah tidak akan kunjung selesai.
 
Terlalu banyak faktor kenapa seorang isteri tidak atau kurang bisa berterimakasih kepada suaminya. Mungkin karena suaminya kurang mengajarkan bagaimana berterimakasih, mungkin karena lemahnya berkomitmen terhadap kebaikan, mungkin karena di keluarga tidak pernah ditunjukkan bagaimana cara berterimakasih, mungkin karena ia bergaul dengan teman-teman yang juga kurang bisa terimakasih kepada suaminya sehingga terpengaruh, mungkin karena efek negatif dari sosial media dan kemungkinan yang lainnya. Semua faktor yang "serba mungkin iya atau tidak" tadi berpotensi melemahkan iman. Sementara itu, sebagaimana yang telah diketahui bahwa kuat atau lemahnya iman memiliki peran yang sangat signifikan terhadap munculnya perilaku baik dan buruk seorang muslim termasuk juga isteri (Al Fawaaid hal. 191 karya Ibnul Qayyim Al Jauziyah).
 
Di lain sisi, kita -sebagai suami- juga tidak diperkenankan untuk menjustifikasi bahwa seorang isteri pasti akan masuk neraka ketika ia durhaka atau tidak berterimakasih kepada suami. Yang berhak menentukan seorang muslim akan masuk surga atau neraka adalah hanya Allah subhaanahu wa taala. Para suami tidak memiliki wewenang sama sekali karena mereka tidak memiliki surga dan neraka. Siapa tahu pada hari itu juga atau besok atau lusa atau minggu depan atau di akhir hidupnya si isteri tadi bertaubat yang kemudian Allah mengampuni dosanya sehingga iapun ditakdirkan menjadi ahli surga. Hal ini sangat mungkin bisa terjadi (Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah, VII/487-501; Al Wajiiz fii Aqidatis Salaf ash Shalih hal.135 karya Abdillah bin Abdurrahman Al Atsari).
 
Jadi, berusaha untuk menjadi isteri yang baik menurut kriteria hadits di atas termasuk sikap yang terpuji dalam Islam. Alangkah baiknya, jika sifat tersebut tidak hanya dimiliki pada hari ini saja, namun juga dipertahankan di waktu berikutnya hingga Allah subhaanahu wa taala mewafatkan para isteri di suatu saat nanti.
 
Bagi para suami, setelah dapat memahami hadits di atas setidaknya termotivasi untuk terus mengusahakan dengan berbagai cara yang adaptif agar isterinya tidak tergolong dalam calon penghuni neraka dan juga, sangat wajib untuk memiliki kesabaran terhadap segala kekurangan isteri karena proses perbaikan akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
 
Kami menyakini bahwa setiap keluarga memiliki kisah dan air matanya sendiri-sendiri, saling mendoakan kebaikan dan selalu menumbuhkan harapan yang baik kepada pasangan -khususnya isteri- adalah salah satu kunci keberkahan dalam rumah tangga. Oleh karena itu, Ibnu Taimiyyah pernah mengatakan: "Isteri yang shalihah akan menjadi sahabat suaminya yang shalih dalam mengarungi tahun-tahun yang panjang. Dialah perhiasan yang telah disebutkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam" (Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah 35/299). 
 
Kesimpulannya, isteri yang baik adalah isteri yang shalihah, and she will be being loved ceaselessly...