Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Artikel : Aqidah tentang rezeki

Kajian Online Pekanan
(Pekan ke-1: Seri Aqidah) 
Edisi XLVIX/September/2017
Program “Go Islamic” 
FIKES UMMagelang
 
Aqidah tentang rezeki
 
Di antara prinsip aqidah (keyakinan) seorang muslim tentang rezeki adalah: 
 
"Rezeki telah Allah takdirkan 50.000 tahun sebelum penciptaan alam semesta, tidak akan pernah tertukar, wajib dicari dengan metode yang Allah halalkan, dan seorang muslim tidak akan meninggal dunia sebelum jatah rezekinya habis".
 
Pernyataan di atas berdasarkan QS. Al Isra ayat 30, QS. Al Huud ayat 6, HR. Muslim no. 2653. Shahih, dan Silsilah Ahadits Ash Shahihah no. 2866.
 
Beberapa ilustrasi di bawah ini dapat menjadi gambaran dari pernyataan di atas. Di antaranya:
 
Barangkali ada dua orang bekerja di tempat yang sama, posisi jabatan yang sama, namun boleh jadi uang/gaji yang diterima akan berbeda.
 
Barangkali ada dua orang pakar di bidang yang sama, sama-sama mencari referensi dari database yang sama, dengan topik yang sama, namun boleh jadi mereka akan mendapatkan referensi dan pemahaman yang berbeda.
 
Barangkali ada dua orang sama-sama sholat dalam satu shof namun boleh jadi akan mendapatkan rezeki pahala yang berbeda.
 
Barangkali ada dua orang pedagang yang sama-sama belanja dari distributor yang sama, menjual barang yang sama, namun boleh jadi jumlah pembeli atau pesanan yang diterima akan berbeda.
 
Barangkali ada dua orang yang tengah studi lanjut di jenjang yang sama, jurusan yang sama, namun boleh jadi waktu selesai dan ilmu yang didapatkan akan berbeda.
 
Barangkali ada dua orang duduk bersebelahan di kelas atau seminar yang sama, namun boleh jadi pemahaman dan pelajaran yang terima akan berbeda.
 
Dan contoh yang lainnya...
 
Jika demikian keadaannya, rasanya kok tidak ada yang perlu dikuatirkan dari rezeki yang Allah berikan, baik kepada kita atau orang lain. Setiap orang sudah memiliki jatahnya sendiri dan kita juga tidak perlu iri atas perbedaan kuantitas rezeki antara kita dengan orang lain (Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin; Yazid bin Abdul Qadir Jawas dalam Majalah As Sunnah Edisi 04-05/Tahun XIV/1431/2010).
 
Ibnul Qayyim Al Jauziyyah pernah mengatakan:
"Rezeki dan kematian adalah dua hal yang sudah dijamin, selama kita masih hidup, rezeki pasti akan datang. Seandainya Allah berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti akan membuka jalan rezeki lain yang lebih bermanfaat bagimu. Dan begitulah Allah subhaanahu wa taala, Dia tidak akan menghalangi hamba-Nya untuk mendapatkan sesuatu, kecuali Dia akan berikan ganti yang lebih afdhal dan bermanfaat baginya" (Al Fawaid karya Ibnul Qayyim Al Jauziyyah dengan tahqiq oleh Salim bin Ied Al Hilali).
 
Maka dari itu, selama kita masih hidup, optimislah bahwa rezeki pasti akan selalu ada, Insya Allah. Kita hanya butuh menjemputnya, kadang di tempat yang dekat namun juga sebaliknya. Sebagaimana dikatakan bahwa, cara kita menjemput rezeki itu pilihan, namun kuantitas rezeki telah lama Allah tentukan.
 
Catatan:
Tahqiq adalah proses pemeriksaan secara detail terhadap sebuah manuskrip (teks asli) kitab-kitab para Ulama terdahulu sebelum dicetak. Orang yang melakukan tahqiq disebut muhaqqiq. Di samping memeriksa, ia juga membetulkan dan menjelaskan tulisan jika ada yang perlu dijelaskan (Fatawa Haditsiyyah karya Saad bin Abdullah Al Humaid). Istilah lain dari muhaqqiq adalah editor yang sekaligus reviewer.