Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Artikel : Thanks a million

Kajian Online Pekanan
(Pekan ke-5: Suplemen materi) 
Edisi XLVIII/Agustus/2017
Program “Go Islamic” 
FIKES UMMagelang
 
Thanks a million
 
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
"Tidak dikatakan bersyukur kepada Allah, bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih kepada manusia" (Silsilah Ahadits Ash Shahihah no.1/702)
 
Hadits tersebut menjelaskan bahwa jika manusia memiliki sifat kurang peduli terhadap kebaikan orang lain sehingga membuatnya tidak tahu berterimakasih, maka perilaku tersebut  dapat berpotensi memicu sifat kurang peduli terhadap nikmat Allah, sehingga dapat membuatnya terasa sulit bersyukur. Di lain sisi, Allah juga memperingatkan tidak akan menerima amalan syukur seorang muslim jika ia tidak tahu berterimakasih kepada sesamanya (Syarh Sunan Abu Daud, 5/157-158 karya al Khaththabi; Syarh Al Adabul Al Mufrad hadits no.218 karya Dr. Muhammad Luqman; dan Syarh Shahih Al Adabil Mufrod hadits no.218 karya Husain al Uwaisyah).
 
Pelajaran lain dari hadits di atas adalah urgensi mengucapkan terimakasih karena ucapan tersebut merupakan salah satu tolak ukur seberapa mampu kita mensyukuri nikmat Allah. Jika dengan nikmat yang datang manusia saja kita mudah berterimakasih, tentunya terhadap nikmat Allah, kita akan lebih mudah bersyukur. Begitu juga sebaliknya, sebagaimana dalam hadits Nabi: "Barangsiapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak" (Silsilah Ahadits Ash Shahihah no.667). 
 
Ucapan terimakasih dapat disampaikan dalam beragam kalimat misalnya, terimakasih, terimakasih banyak (mau seberapa banyak?), tk, tkb, tkbgt (terimakasih banget), suwun, nuwun, maturnuwun, makasih, trims, thanks, syukron, thanks a million, thanks a bunch, thanks a ton, many thanks, thanks a lot, gracias (dalam bahasa Spanyol), grazie (bahasa Italia), merci (bahasa Perancis) dan lain sebagainya. 
 
Sementara itu dalam sunnah Nabi, ketika kita telah diperlakukan baik oleh orang lain maka dianjurkan untuk mengucapkan "jazzakallah khairan" (Shahih al Jami no. 6369). Beberapa contoh penerapan kalimat tersebut: Jazakallah khairan (disampaikan kepada laki-laki), Jazakillah khairan (untuk perempuan), Jazakumullah khairan (untuk orang banyak baik laki-laki atau perempuan). Jika dia seorang banci/lady boy/pansy/artificial lady, maka katakan saja "jazzakallah khairan" karena sejatinya ia adalah laki-laki. Jika dia perempuan yang tomboy, kita katakan "jazzakillah khairan". 
 
Selanjutnya, jika ada seseorang yang mengucapkan kalimat di atas kepada kita, maka dapat dibalas dengan ucapan "Aamiin" karena ucapan tersebut termasuk doa. Ada juga yang menjawab dengan "wa iyyakum" (dan juga kalian) namun sebagian ulama Saudi mengkritik kalimat "wa iyyakum", karena tidak ada riwayat yang shahih bahwa Nabi/sahabat ketika mendapatkan ucapan "jazzakallahu khairan" membalasnya dengan kalimat "wa iyyakum". Sebaliknya, ulama yang lain semisal Dr. Abdul Muhsin al Abbad (ahli hadits dari Madinah) mengatakan, memang tidak ada dalilnya namun tidak masalah mengucapkan "wa iyyak" dan beliau juga menyarankan untuk membalas dengan kalimat "wa anta jazzakallahu khairan", jika dia yang telah berbuat baik adalah laki-laki (Syarh Sunan Abu Daud karya Dr. Abdul Muhsin al Abbad). Solusinya, sesekali kita katakan "wa iyyakum" atau boleh cukup diamini saja. Namun sangat disarankan membalas dengan mengucapkan "wa antum jazzakallahu khairan" sebagaimana dalam Silsilah Ahadits Ash Shahihah 7/257 no. 3096 karya Al Albani.
 
Perlu diketahui bahwa, ucapan di atas (yaitu jazzakallahu khairan) hanya sebatas anjuran yang tidak mencapai level wajib sehingga dibolehkan hanya sebatas mengucapkan "terimakasih" sebagai bentuk apresiasi positif sekaligus merupakan bukti bahwa kita memiliki perhatian atas kebaikan orang lain. 
 
Bagi sebagian muslim yang kurang terbiasa mengucapkan "jazzakallah khairan" barangkali akan merasa canggung ketika akan memulai mengucapkan kalimat tersebut. Tidak apa-apa, namanya juga kurang terbiasa. Akan tetapi, menurut pandangan kami, ada tiga solusi untuk mengatasi hal ini yaitu:
 
Pertama
Mulai membiasakan diri mengucapkannya dalam rangka mengikuti sunnah Nabi meskipun dengan sedikit memaksa diri melawan rasa canggung.
 
Kedua
Cukup dengan mengucapkan terimakasih di hadapan orang yang telah berbuat baik tadi namun kita mendoakannya secara diam-diam di belakangnya karena doa yang diam-diam adalah mustajab (HR. Muslim no.4912. Shahih).
 
Ketiga
Melakukan keduanya yaitu solusi pertama dan kedua. Jika memungkinkan.
 
Sedangkan dari sisi kesehatan, terdapat beberapa artikel menarik seputar manfaat mengucapkan terimakasih sebagaimana terangkum dalam konsep "gratitude". Gratitude sendiri sebenarnya dapat diartikan juga sebagai rasa bersyukur dan salah satu bentuk konkretnya adalah ketika kita mengucapkan terimakasih kepada orang lain. Berikut beberapa poin penting dari artikel yang dimaksud:
 
Pertama
Examining the pathways between gratitude and self-rated physical health across adulthood (Hill, Allemand & Roberts, 2013).
 
Gratitude dapat mengurangi stress, mampu memperbaiki kebiasaan tidur yang buruk dan dapat sebagai prediktor sifat optimis. Manfaat lainnya yaitu dapat menyehatkan fisik karena orang yang berterimakasih akan senantiasa mengingat-ingat kebaikan/keberkahan/nikmat yang ia dapatkan sehingga menstimulasi untuk menjaganya dengan melakukan aktifitas harian yang sehat.
 
Artikel ini juga menyampaikan bahwa gratitude dapat diukur melalui sebuah instrument dengan nama Gratitude Questionairre-Six Item Form (GQ-6).
 
(Tambahan kami): 
Maka dari itu, seorang yang berusaha untuk menjalankan pola hidup sehat misalnya dengan menurunkan/menjaga berat badan agar menjadi/tetap ideal dan "in good shape" adalah salah satu bentuk konkret rasa terimakasih atas nikmat yang diberikan Allah subhaanahu wa taala.
 
Kedua
Neural correlates of gratitude (Fox, Kaplan, Damasio & Damasio, 2015).
 
Gratitude meningkatkan resistensi terhadap trauma kehidupan. Singkatnya, gratitude akan membuat seseorang "stay strong when everything goes wrong". Manfaat lainnya yaitu ketika kita berterimakasih kepada orang lain, sikap tersebut menunjukkan bahwa kita adalah seorang yang sportif karena telah merespon kebaikan orang lain. 
 
Gratitude juga memiliki korelasi terhadap proses aktifasi beberapa bagian di otak yang berkaitan erat dengan adanya proses reward dan moral cognitive dimana hal tersebut diketahui mampu menghilangkan stress. 
 
(Tambahan kami):
Jika kita merasa kurang bahagia, hidupnya merasa tertekan padahal sebenarnya semuanya baik-baik saja, barangkali kita-nya yang kurang berterimakasih atau bersyukur, baik kepada manusia atau Allah subhaanahu wa taala. Barangkali...
 
Ketiga
The role of gratitude in spiritual well-being in asymptomatic heart failure patients (Mills et al, 2015)
 
Artikel ini spesifik pada populasi target pasien dengan penyakit gagal jantung. Gratitude memiliki korelasi terhadap kesehatan spiritual dan kualitas tidur yang baik, menurunkan depresi, tidak mudah lelah, meningkatkan self-efficacy (kemampuan untuk memiliki keyakinan bahwa ia optimis dapat mengatasi problematika kehidupan dengan baik - definisi dari pak Bandura).
 
Artikel ini juga menyampaikan tentang, "behavioral cardiology" yaitu manajemen tata laksana pasien penyakit jantung yang memfokuskan pada kesehatan mental karena hal tersebut diketahui berpengaruh terhadap fungsi jantung dan lain sebagainya. Penjelasan lengkapnya ada di editorial karya Katz dan Wajngarten (2015).
 
Kesimpulannya, siapapun orangnya, baik anak-anak, dewasa hingga orang tua, ketika telah berbuat baik kepada kita maka mereka memiliki hak yang sama untuk mendapatkan ucapan terimakasih dan juga doa Jazzakallahu khairan. Di samping itu, ucapan terimakasih juga memiliki manfaat bagi kesehatan sebagaimana yang telah disebutkan.