Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Artikel : Nobody is perfect

Kajian Online Pekanan
(Pekan ke-4: Seri Adab & Tazkiyatun Nufus) 
Edisi XLVII/Agustus/2017
Program “Go Islamic” 
FIKES UMMagelang
 
Nobody is perfect
 
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
"Setiap anak adam berbuat kesalahan, dan sebaik baiknya orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat" (Shahih al Jami ash Shaghir no. 4391).
 
al Albani (pakar hadits abad ini dari Yordania) mendeskripsikan bahwa: "Semua manusia bersalah, ia tidak bisa berlepas diri dari kesalahan, karena Allah telah menggariskan bahwasanya mereka bersalah. Karena ia seorang manusia, bukanlah Malaikat" (Maussuah al Albani fi al Aqidah 2/156). 
 
Bagi mereka yang berbuat kesalahan, taubat nashuha merupakan kewajiban yang sudah tidak bisa ditawar tawar lagi (Buku terjemahan berjudul "Luasnya Ampunan Allah" karya Salim bin Ied al Hilali asal Yordania). Di antara syarat taubat adalah ikhlas, mengakui dan menyesali dosa, berhenti total dari dosa, berusaha memperbaiki diri setelah bertaubat, istiqomah, bertekad tidak akan mengulangi dosa, bertaubat sebelum nafas sampai sebatas kerongkongan dan matahari belum terbit dari barat (at Taubah an Nashuh karya Salim bin Ied al Hilali)
 
Di lain sisi, bagi yang melihat kesalahan orang lain, memiliki hak untuk menegurnya namun diharapkan juga memiliki ilmu bahwa hal yang akan ia tegur adalah benar benar kesalahan dan yang jelas, menegur dengan etika yang terbaik (Minhajus Sunnah Vol. 3, hal. 64 karya Ibnu Taimiyyah; Kun Salafiyyahn alal Jaddah hal. 108 sampai 111 karya Dr. Abdussalam as Suhaimi). 
 
Sebagian ulama sunnah juga menawarkan empat hal yang perlu dipertimbangkan sebelum menegur orang lain sebagaimana keterangan dalam Ilamul Muwaqqiin 3/4 sampai 5 karya Ibnul Qayyim serta Dhawabith al Amr bil Maruf karya Ibnu Taimiyyah, hal.31 sampai 32. Beliau beliau menjelaskan bahwa:
 
Pertama 
Jika kita melihat kemungkaran dan yakin jika kita tegur pelakunya, kemungkaran tersebut akan berganti secara total dengan hal yang baik, maka hal ini disyariatkan bahkan di wajibkan.
 
Contoh, saat akan mulai ujian ada 1 orang yang dicurigai membawa contekan ke dalam kelas. Karena kuatir menular ke peserta lain, akhirnya kita tegur dan 1 orang tadi tidak jadi mencontek hingga waktu ujian berakhir. Murni dikerjakan dengan jujur, apa adanya. Meskipun katanya belum belajar.
 
Kedua 
Jika kemungkaran tersebut diperkirakan akan berkurang, namun tidak sampai sepenuhnya hilang, maka juga disyariatkan. 
 
Contoh, saat jaga ujian. Ada 10 orang saling menyontek. Setelah pertimbangan macam-macam, kita memutuskan menegur dan akhirnya berkurang menjadi 5 orang yang masih saja "saling berbagi". Setidaknya lumayan sudah bisa hilang 50 persen.
 
Ketiga
Jika saat ditegur malah kemungkaran tidak berkurang alias sama saja atau malah berganti dengan kemungkaran lain yang semisal, maka didiamkan saja lebih baik. 
 
Keempat
Jika saat ditegur malah kemungkaran menjadi semakin besar, maka diharamkan untuk menegur.
 
Contoh untuk poin ketiga dan keempat, kisah nyata Ibnu Taimiyyah ketika melewati sekelompok prajurit Tartar dari Mongolia (yang dikenal sangar dan kejam) sedang pada mabuk. Beliau sengaja mendiamkan perilaku mereka karena memandang bahwa mereka lebih baik seperti itu. Jika tidak, mereka akan membunuh dan mengganggu kaum muslimin sebagaimana sudah menjadi kebiasaannya (Ilamul Muwaqqiin 3/4 sampai 5 karya Ibnul Qayyim).
 
Empat kaidah di atas menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan "aspek akibat" sebelum tegur menegur karena nahi mungkar tidak boleh dilakukan secara ceroboh sehingga malah menimbulkan kemungkaran yang lebih besar. Jadi membutuhkan perhitungan dan kalau perlu, dilakukan analisa SWOT terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk menegur kesalahan orang lain sehingga nantinya kita tidak termasuk ke dalam golongan "pahlawan kurang perhitungan".
 
Hal penting lainnya adalah ketika kita melihat aib orang lain, klarifikasilah terlebih dahulu dan jika ia mengakui, maka tegurlah secara langsung tanpa perantara (baik isterinya, suaminya, temannya dan lain sebagainya) dengan cara yang terbaik. Namun, jika tidak mampu menegur karena pekewuh/merasa ndak enak atau kuatir akan timbul kemungkaran lain yang sejenis atau lebih besar, maka doakan saja semoga pelakunya mendapatkan hidayah dari Allah, tutup aibnya dan tidak perlu dijadikan bahan gosip atau disebarkan atau dibroadcast di sosial media sehingga menjadi viral di tengah sebuah komunitas misalnya di tempat kerja, kampung dan lain sebagainya.
 
Hal berikutnya yang juga tidak kalah penting adalah jangan sampai adanya kekurangan dari orang lain membuat kita "hobby" mencari-cari kesalahannya sehingga seolah olah apa yang dilakukannya selalu saja salah dalam pandangan kita. Begitu juga sebaliknya, adanya kekurangan dari dalam diri kita, jangan sampai membuat kita malah "hobby" memanfaatkan kelebihan yang ada pada orang lain. Seorang muslim yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir akan menjaga diri dari dua hal di atas.
 
Terlebih lagi dalam masalah rumah tangga. Kami secara pribadi memiliki prinsip untuk berusaha tidak mencampuri urusan rumah tangga orang lain sekalipun dalam rangka niat amar maruf nahi mungkar karena rumah tangga adalah salah satu "arena" yang sangat, sangat dan sangat sensitif. Kalau kita salah langkah, berpotensi meretakkan hubungan harmonis dan justru kita yang akan mendapatkan dosa. Vice versa (sebaliknya), jika ada orang lain yang berusaha mencampuri atau bahkan memporak porandakan urusan rumah tangga kami maka kami juga tidak perlu merepotkan diri untuk balas dendam, cukup legowo saja dan biarlah pengadilan akhirat yang membalas jika yang ia lakukan tersebut termasuk bagian dari kezhaliman.
 
Kita pun juga tidak perlu berusaha atau memiliki cita cita menjadi pahlawan bagi masalah rumah tangga orang lain karena terkadang apa yang kita pandang baik untuk disampaikan, belum tentu berefek baik kepada yang mereka yang akan menerima informasi. Boleh jadi setelah disampaikan ke rumah tangga orang tersebut malah mereka menjadi saling curiga, hilang kepercayaan satu sama lain, sensitif yang berujung keributan atau prahara akut. Kita yang akan repot sendiri. Yaah, namanya saja rumah tangga orang lain. Selalu ada hal hal yang membuat kita harus menahan diri untuk tidak ikut "nyemplung" di dalamnya.
 
Singkatnya, "nobody is perfect"/ ndak ada orang yang sempurna. Siapapun dia. Terkadang hari ini kita berbuat benar namun besok mungkin sebaliknya. Terkadang hari ini kita menegur namun boleh jadi besok kita yang gantian ditegur. Semuanya sangat mungkin terjadi, tinggal menunggu saatnya saja.
 
Kesimpulannya, meskipun kita bukanlah manusia yang sempurna, berusaha untuk menjadi seorang muslim yang mendekati sempurna, terhormat, peka untuk selalu bertaubat, dan minim dosa dalam pandangan Allah adalah hal yang sangat mulia untuk dilakukan. Tentunya, semua ditempuh dengan cara-cara yang Allah halalkan.
 
There is no such thing as the perfect human being.
 
Semoga bermanfaat.