Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Artikel : Fiqih mengusap khuf

Kajian Online Pekanan
(Pekan ke-3: Seri Fiqih Ibadah) 
Edisi XLVI/Agustus/2017
Program “Go Islamic” 
FIKES UMMagelang
 
Fiqih mengusap khuf
 
Khuf didefinisikan sebagai sesuatu yang dipakai di kaki yang terbuat dari kulit, kain, wol dan sejenisnya yang berfungsi memberi kehangatan (Syarh Mumti 1/113 karya Ibnu Utsaimin). Termasuk khuf adalah kaos kaki yang sering kita pakai sehari-hari dan sebagian ahli fiqih menamainya dengan Jaurab.
 
Alasan pensyariatan mengusap khuf adalah karena islam menginginkan kemudahan bagi umatnya terutama ketika dalam kondisi yang tidak memungkinkan membasuh kaki secara langsung dengan air saat berwudhu (HR. Bukhari no.39. Shahih; Al Mawsuah al Fiqhiyah, 37/262). Kedua, karena Nabi mengajarkannya melalui hadits dari Ali bin Abi Thalib (HR. Abu Daud no.162. Shahih) dan hadits dari Jarir bin Abdillah (HR. Ibnu Majah no.543. Shahih).
 
Syarat mengusap khuf adalah hanya sebatas untuk hadats kecil dan sebelum khuf dikenakan maka kita harus dalam keadaan suci baik setelah berwudhu atau mandi wajib (Al Mawsuah al Fiqhiyah, 37/262). Khuf tersebut suci dari najis dan mengusapnya pada batasan waktu yang telah ditentukan misalnya 1 hari 1 malam semalam bagi yang mukim dan 3 hari 3 malam bagi yang safar (Ilamul Musafirin karya Ibnu Utsaimin hal. 14).
 
Pembatal mengusap khuf yaitu berakhirnya waktu mengusap khuf, terkena junub dan khuf tersebut dilepas padahal jatah waktu belum habis, baik bagi yang mukim/safar (Shahih Fiqih Sunnah 1/55).
 
Cara mengusap khuf/jaurab yaitu dengan meletakkan kedua telapak tangan yang telah dibasahi air di atas jari kaki kanan dan kiri, kemudian kedua tangan diusapkan dari ujung jari, punggung hingga pergelangan kaki dan hal ini cukup dilakukan satu kali (Mulakhkhas al Fiqh hal 30 karya Dr. Shalih al Fauzan). Mengusapnya pun diberikan pilihan, mau bergantian kanan dulu kemudian kiri atau bersamaan. Semuanya diperbolehkan (Fathu Dzil Jalali wal Ikram Syarh Bulughul Maram, Juz 1, hal. 226 karya Ibnu Utsaimin). Sekali lagi, bahwa proses di atas dilakukan dalam keadaan sudah memakai khuf/jaurab. Jadi bukan dilakukan langsung ke kulit kaki. 
 
Contoh bagi yang mukim: (unreal)
Senin pagi hari sebelum berangkat kerja kita melaksanakan shalat dhuha di rumah (6.30), setelah selesai kita langsung memakai kaos kaki dan tentunya kita masih dalam keadaan suci. Jam 10.30, kita batal wudhunya karena BAK. Kemudian jam 11.30 kita wudhu lagi dengan mengusap khuf untuk persiapan shalat zhuhur. Hitungan satu hari adalah mulai saat pengusapan pertama tadi dan akan habis pada hari selasa jam 11.30. Artinya, selama 1 hari 1 malam itu kita diperbolehkan mengusap khuf/kaos kaki selama tidak memungkinkan untuk dilepas. 
 
Namun jika kita melepas khuf padahal jatah waktu 1 hari belum habis, maka bisa dikatakan syariat pengusapan khuf sudah batal karena dilepas tadi (Shahih Fiqih Sunnah 1/55). Padahal seharusnya tidak dilepas selama 1 hari 1 malam. Memang nampak repot kalau harus memakai kaos kaki sehari semalam padahal kita dalam keadaan mukim alias tidak kemana-mana. Intinya, syariat ini hanya pilihan dan dapat diamalkan jika memang kondisi lingkungan memungkinkan.
 
Begitu juga bagi yang tengah safar diperbolehkan mengusap khuf dengan batasan maksimal waktu 3 hari 3 malam. Hitungan awal dari 3 hari, jika khuf dilepas padahal jatah tersebut belum habis dan terkena junub saat safar maka hukumnya sama dengan contoh di atas yaitu syariat khuf sudah batal. Bisakah diulang? Jawabnya, sangat bisa. Caranya, kita bersuci kembali baik dengan wudhu/mandi junub kemudian khufnya dipakai lagi dan seterusnya sebagaimana contoh mukim di atas.
 
Hikmah lain dari syariat ini adalah diperbolehkan shalat dengan tetap memakai kaos kaki, baik ia laki-laki atau perempuan. Jadi, jika kita melihat salah seorang jamaah masjid (misalnya,laki-laki) memakai kaos kaki saat shalat, maka positive thinking saja, barangkali ia sedang mengamalkan syariat khuf. Jadi bukan karena adanya ajaran baru. 
 
Satu hal mendasar yang sangat penting adalah seorang muslim wajib berkeyakinan baik / berbaik sangka kepada sesama muslim yang lain. Meskipun terkadang ia telah melakukan hal-hal yang "berbeda" dan "aneh" dari biasanya. Jika kita penasaran, bertanyalah kenapa ia melakukan hal tersebut, karena termasuk hal yang kurang etis bahkan bisa jadi malah berdosa jika kita menyebarkan informasi yang berkaitan dengan sikap "berbeda" dari seorang muslim sementara kita tidak mengklarifikasinya secara langsung kepada si muslim tadi. Beberapa detail tentang hal ini Insya Allah akan disampaikan pada kajian online pekan depan dengan judul "Nobody is perfect".
 
Demikian pembahasan singkat mengenai fiqih mengusap khuf. Semoga bermanfaat.