Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Artikel : The Iman system - Almost gone but not forgotten

Kajian Online Pekanan

(Pekan ke-1: Seri Aqidah) 
Edisi XLIV/Agustus/2017
Program “Go Islamic” 
FIKES UMMagelang
 
The Iman system - Almost gone but not forgotten
 
Iman didefinisikan sebagai keyakinan (pembenaran dan penerimaan hati) terhadap ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad shallallaahu alaihi wa sallam melalui hadits-hadits shahih, pengakuan lisan melalui bersyahadat dan mengimplementasikan dengan anggota badan terhadap ibadah yang telah diyakini (At Tauhid karya Dr. Shalih al Fauzan). Jadi, iman merupakan proses sinkronisasi (penyelarasan) antara hati, lisan dan anggota badan terkait ajaran yang disampaikan Allah dan RasulNya melalui al Quran dan hadits-hadits yang shahih.
 
Penting untuk diketahui bahwa terdapat aspek menarik dari iman sebagaimana yang telah disampaikan oleh Imam asy Syafi"i yaitu: "Iman meliputi perkataan dan perbuatan. Dia bisa bertambah dan bisa berkurang. Bertambah dengan sebab ketaatan dan berkurang dengan sebab kemaksiatan"  (Al Wajiz fii Aqidatis Salafish Shalih karya Abdullah bin Abdil Hamid). Ucapan beliau didukung dalil dari QS. Al Anfal ayat 2 dan juga hadits shahih riwayat Muslim no.144.
 
Sebagai seorang muslim, aspek tersebut menjadi tantangan tersendiri untuk berusaha menstabilkan dan meningkatkan kadar iman sehingga dapat memberikan pengaruh terhadap semangat ibadah. Karena, umumnya, orang yang imannya bertambah, ia akan ringan dan mudah dalam melakukan ibadah meskipun sifat asal ibadah tersebut berat. Misalnya, rutin bangun di sepertiga malam untuk shalat tahajud. 
 
Begitu juga sebaliknya, jika seorang muslim imannya melemah maka dapat mengakibatkan beberapa efek negatif. Pertama, Ibadah yang asalnya ringan (misalnya, membaca al Quran setiap hari) akan terasa berat untuk diamalkan. Kedua, dapat menimbulkan banyak kejadian yang membuat kita mengucapkan "subhanallah". Ketiga, ketika menghadapi problematika hidup yang tergolong simple (sederhana) akan menjadi terasa complicated (rumit) sehingga sulit untuk diselesaikan yang akhirnya menimbulkan perasaan galau.
 
Di antara hal penting lainnya seputar sistem iman adalah iman akan menjadi landasan atau pondasi dalam setiap perbuatan seorang muslim, sekecil apapun perbuatan tersebut hingga ketika berinteraksi dengan internet/sosial media pun tetap membutuhkan iman. Karena tanpa iman, kita akan bermudah-mudahan memposting atau menulis atau mengklik apa saja, tanpa memikirkan hal tersebut baik atau buruk, benar atau salah (hoax), positif atau negatif, dosa atau pahala.
 
Begitu juga saat berinteraksi dengan orang lain baik kepada sesama muslim atau bukan, selalu membutuhkan iman. Misalnya, tersenyum/ramah. Karena orang beriman sejatinya akan tampak dari ekspresi wajahnya yang berseri-seri karena ia meyakini bahwa ramah kepada orang lain termasuk bagian dari ajaran Islam. Nabi pernah bersabda: "Janganlah engkau meremehkan perbuatan sekecil apapun meskipun engkau bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang berseri-seri" (HR. Muslim no. 6637. Shahih).
 
Di lain sisi, mengingat tidak mudahnya menstabilkan iman, seorang yang mampu istiqomah dengan keimanan dan amalan shalihnya kelak akan diberikan balasan terbaik yaitu surga (QS. Fushilat ayat 30).
 
Kesimpulannya, sistem iman sangat esensial bagi seorang muslim berdasarkan penjelasan di atas. Maka dari itu, memperbanyak ketaatan dan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga diri dari kemaksiatan merupakan kunci utama menaikkan kadar iman.
 
Semoga Allah subhanallahu wa taala senantiasa menjaga dan menambah kadar keimanan kita di setiap waktu, aamiin.