Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Artikel : Fiqih zakat fithri

Kajian Online Pekanan
(Spesial Ramadhan) 
Edisi XXXVII/Juni/2017
Program “Go Islamic” 
FIKES UMMagelang
 
Fiqih zakat fithri
 
Zakat fithri didefinisikan sebagai zakat yang dikeluarkan dalam jumlah tertentu karena berkaitan dengan ifthor/tidak berpuasa lagi. Dikatakan "fithri" karena zakat tersebut diberikan saat selesai ramadhan (HR. Muslim no.986. Shahih; al Mausuah al Fiqhiyah, 2/8278). Ada juga yang menamai dengan zakat fithrah, istilah "fithrah" ini dimaknai jenis harta yang akan diberikan sebagai zakat, misalnya beras (al Majmu Syarh al Muhazzab 6/103). Jadi istilah zakat fithri & fithrah adalah saling melengkapi. Fithri adalah waktunya, sementara fithrah adalah jenis hartanya.
 
Berawal dari konsep "fithri" di atas, jika kita geser ke konteks Iedul fithri maka dapat didefinisikan sebagai hari raya yang dirayakan karena telah berbuka kembali untuk bisa makan dan minum di siang hari setelah selesai menjalankan ibadah puasa ramadhan. Jadi bukan diartikan sebagai kembali suci tanpa dosa (al Masaail juz 1 karya Abdul Hakim bin Amir Abdat).
 
Hikmah dari penunaian zakat fithri adalah sebagai penyuci jiwa orang yang berpuasa ramadhan dan untuk memberi makan kepada orang-orang miskin (HR. Abu Dawud no.1609; Ibnu Majah no.1827. Hasan).
 
Hukum menunaikan zakat fithri adalah wajib bagi seorang muslim yang memiliki kemampuan yaitu memiliki harta yang tergolong bisa dizakatkan (HR. Bukhari no.1503. Shahih; HR. Abu Dawud no.1629. Shahih; Shahih Fiqih Sunnah 2/80). Sedangkan kewajiban ini diberikan kepada mereka yang memiliki tanggungan. Misalnya, suami. Ia membayarkan zakat atas nama dirinya serta sejumlah keluarga yang dibawah tanggungannya (Irwaul Ghalil no.835. Hasan; Syarh Shahih Muslim 7/59). Bagi wanita yang punya anak namun tidak bersuami karena suaminya meninggal/karena hal lain, maka ia juga berkewajiban membayar zakat untuk dirinya dan jumlah keluarga yang ditanggungnya (Majaalis Syahri Ramadhan karya Ibnu Ustaimin). 
 
Orang tua yang memiliki anak perempuan dan sudah menikah, maka zakat anak perempuan tersebut ditanggung suaminya. Begitu juga jika orang tua memiliki anak laki laki namun ia sudah bekerja mapan, mandiri, berkemampuan dan berkeluarga maka anak laki laki tersebut juga tidak wajib dizakati. Karena ia sudah lepas dari tanggungan dinafkahi namun ia tetap wajib menunaikan zakat atas nama dirinya, istri serta anak-anaknya.
 
Sebenarnya juga ada zakat untuk janin hanya saja hukumnya tidak wajib. Namun jika ada orang tua ingin menunaikan zakat atas nama si janin, maka sangat baik dan tentunya berpahala (Fatwa Lajnah Daimah Saudi, 9/366).
 
Untuk penerima zakat fithri hanya sebatas pada golongan fakir dan miskin. Jadi bukan 6 golongan penerima zakat sebagaimana dalam al Quran surat at Taubah ayat 60. Karena mereka adalah penerima zakat mal/harta (Majmu Fatawa 25/71-78; Zadul Maad 2/44; Shahih Fiqih Sunnah 2/85). Beda antara fakir dan miskin, fakir adalah orang yang tidak punya harta dan usaha untuk kebutuhan harian. Sedangkan miskin adalah orang yang hanya mampu mencukupi separuh/lebih dari kebutuhan harian namun tidak bisa terpenuhi semua. Singkatnya, kondisi orang fakir lebih memprihatinkan daripada orang miskin (al Mausuah al Fiqhiyah 23/312-313). 
 
Di samping itu, panitia zakat fithri di masjid juga tidak diperbolehkan menerima zakat baik mereka Amil atau bukan (Zadul Maad karya Ibnu al Qayyim 2/44). Al Qurthubi menjelaskan terkait surat at Taubah ayat yang ke-60 yaitu Amil zakat adalah para petugas yang resmi diangkat pemerintah setempat untuk mengumpulkan zakat (al Jami li Ahkamil Quran, 8/11 Maktabah Syamilah).
 
Jenis barang yang diberikan untuk zakat fithri adalah makanan pokok yang ada di suatu negeri (HR. Bukhari no.1501. Shahih). Kalau di indonesia berupa beras. Bagaimana dengan zakat fithri dengan uang? Terdapat penjelasan yang panjang dan perbedaan pendapat di kalangan ahli fiqih. Namun, yang dapat disimpulkan bahwa zakat tersebut adalah tidak sah sehingga zakat tetap kembali dalam bentuk makanan pokok semisal beras dan lain sebagainya (Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah 25/83; Fatawa Nur Ala ad Darb 15/69; Syarh Shahih Muslim 3/417). Tidak sah dalam artian akan menjadi sedekah biasa. Bukan sebagai zakat fithri.
 
Jumlah atau ukuran makanan yang diberikan untuk zakat adalah 1 sho yang kurang lebih setara dengan 3 kg (HR. Bukhari no.1506. Shahih; Fatwa Lajnah Daimah Saudi no.12572). 1 sho setara dengan 4 mud. Sementara 1 mud adalah setara dengan cakupan penuh dua telapak tangan orang dewasa pada umumnya.
 
Waktu penyerahan zakat fithri ada dua opsi yaitu satu atau dua hari sebelum Iedul fithri (HR. Bukhari no.1511. Shahih), ketika mulai adzan maghrib di hari terakhir puasa ramadhan dikumandangkan hingga sebelum shalat Ied dilaksanakan (Syarh Shahih Muslim 7:58). Maka panitia zakat di masjid/orang yang akan menunaikan zakat secara langsung ke fakir dan miskin, bisa menyerahkan zakatnya pada salah satu waktu di atas. Karena menyerahkan zakat fithri setelah shalat Iedul fithri sudah tidak sah lagi dan akan terhitung sebagai sedekah biasa (HR. Abu Dawud no.1609. Hasan)
 
Kesimpulannya, jangan lupa berzakat bagi yang memiliki tanggungan dan bagi yang ditanggung, jangan lupa mengingatkan kepada yang menanggung.