Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Artikel : Fiqih shalat tarawih dan witir

 

Kajian Online Pekanan
(Spesial Ramadhan) 
Edisi XXXVI/Juni/2017
Program “Go Islamic” 
FIKES UMMagelang
 
Fiqih shalat tarawih dan witir
 
Sebagai review saja, berikut ringkasan materi seputar fiqih shalat tarawih dan witir. 
 
Pertama
Tarawih berasal dari kata tarwihah yang berarti waktu sesaat untuk istirahat. Maka shalat tarawih dapat dimaknai sebagai shalat yang di dalam pelaksanaannya terdapat duduk istirahat sejenak setelah 4 rakaat sebelum melanjutkan ke bagian shalat berikutnya (Lisanul Arab karya Ibnu al Mandzur). 
 
Kenapa ada duduk istirahat? Karena umumnya shalat tarawih lebih panjang dari shalat lainnya, sehingga hal tersebut sebagai bentuk kompensasi untuk mengurangi rasa lelah saat melaksanakan ibadah tersebut.
 
Shalat tarawih termasuk bagian dari shalat malam/qiyamul lail. Namun lebih dispesifikkan namanya karena hanya dilaksanakan pada bulan ramadhan dan tidak harus tidur dulu. Berbeda dengan shalat tahajud yang disyariatkan tidur dulu (al Mausuah al fiqhiyyah 15/86).
 
Sementara shalat witir adalah shalat sunnah yang waktu pelaksanaannya dari setelah isya hingga masuk waktu subuh, sebagai penutup shalat malam dan dilakukan dengan jumlah rakaat ganjil (Shahih fiqih sunnah 1/381). Shalat ini dapat dilakukan di bulan apa saja, tidak dikhususkan pada ramadhan.
 
Kedua
Hukum pelaksanaan shalat tarawih adalah sunnah muakkadah (al Mausuah al fiqhiyyah 27/137). Begitu juga dengan shalat witir, hukumnya juga sama yaitu sunnah muakkadah (Majmu fatawa Ibnu Taimiyyah 23/88). Dua shalat ini biasanya satu paket pelaksanaan di bulan ramadhan.
 
Ketiga
Pelaksanaan shalat tarawih lebih utama berjamaah di masjid (Syarh al Mumti 4/78 karya Ibnu Utsaimin). Begitu juga dengan shalat witir. Apalagi jika dilakukan bersama imam di bulan ramadhan (Fatwa Muqbil bin Hadi al Wad"i). Bahkan shalat tarawih plus witir bersama imam hingga selesai memiliki keutamaan mendapatkan pahala seperti shalat sepanjang malam (Shahih dalam Irwaul Ghalil no.447).
 
Maka dari itu, tidak disarankan untuk keluar dari jamaah shalat tarawih sebelum imam selesai. Karena akan kehilangan pahala sebagaimana penjelasan dalam hadits. Namun jika imam shalatnya ngebut, maka dianjurkan untuk mencari masjid yang pelaksanaan shalatnya lebih santai / bisa shalat tarawih sendiri di rumah. Opsional, mana yang lebih mudah diakses (Fatwa Lajnah Daimah Saudi no.6914)
 
Keempat
Terkait jumlah rakaat shalat tarawih, yang dianjurkan adalah tidak lebih dari 11 rakaat (HR.Bukhari no.1147. Shahih) atau 13 rakaat (HR.Bukhari no.1138. Shahih). Namun jika mau menambah lebih dari 11 atau 13 rakaat juga tidak masalah karena shalat malam tidak ada batasan maksimal berapa rakaat (at Tamhid 21/70 karya Ibnu Abdil Barr; Majmu fatawa 22/272 karya Ibnu Taimiyyah).
 
Hanya saja yang terpenting adalah seberapa khusyuk atau santainya dalam pelaksanaannya, baik 11/13/23 rakaat. Jangan terburu-buru apalagi ngebut karena shalatnya bisa tidak sah. Sebagaimana Nabi pernah meminta seseorang mengulang shalatnya sebanyak 3x karena beliau melihat shalat orang tersebut sangat cepat, saat rukuk dan sujudnya (HR. Bukhari no.757. Shahih).
 
Karena setiap ibadah yang dilakukan dengan terburu-buru akan sulit mencapai tujuan utama dari ibadah tersebut. Di lain sisi sebenarnya sifat terburu-buru berasal dari bisikan setan. Namun sebaliknya, sifat yang tidak suka terburu-buru dalam ibadah adalah berasal dari Allah (HR. Abu Ya"la dalam al Musnadnya IV/206, Baihaqi dalam Sunan al Kubra X/104. Silsilah ash Shahihah no.1795). Bahkan sifat tidak suka terburu buru tersebut akan mendatangkan kecintaan Allah dalam beribadah (Shahih al Adabul Mufrod no. 586).
 
Kelima
Hukum dua kali shalat witir dalam satu malam? Sejatinya tidak disyariatkan dua kali witir dalam satu malam (HR. Tirmidzi no.470, Abu Daud no.1439, Nasai no.1679. Shahih). Namun jika kita selesai shalat tarawih bersama imam komplit dengan witir dan kita ingin nambah shalat malam lagi, misalnya shalat tahajud sebelum sahur, maka tidak apa-apa. Hanya saja tidak perlu shalat witir lagi (Majmu fatawa Ibnu Baz 11/211).
 
Semoga bermanfaat.