Islami Inovatif Kompetitif
 

Banner Situs



Artikel : Fiqih qadha puasa ramadhan

Kajian Online Pekanan
(Pekan ke-3: Fiqih Ibadah) 
Edisi XXXIII/Mei/2017
Program “Go Islamic” 
FIKES UMMagelang
 
Fiqih qadha puasa ramadhan
 
Qadha adalah melaksanakan ibadah di luar ketentuan asalnya dalam rangka mengganti ibadah tersebut (Raudhatun Nazhir karya Ibnu Qudamah 1/58). Jika dalam konteks puasa ramadhan, berarti mengganti puasa ramadhan sesuai jumlah hari yang ditinggalkan sebelum datang ramadhan berikutnya. Dalam bahasa jawa dikenal dengan nyaur atau nyarutang. 
 
Hukum qadha puasa adalah wajib menurut kebanyakan ahli fiqih (Fatwa Lajnah Daimah Saudi Arabia) dan sangat ditekankan bagi yang sedang sakit, hamil, menyusui, bepergian sehingga mereka sulit untuk puasa (QS. Al Baqarah ayat 185). Bagi wanita yang mengalami haidh dan nifas dalam bulan ramadhan juga diwajibkan meng-qadha puasa (HR. Muslim no.355. Shahih).
 
Cukup puasanya saja yang diqadha. Sedangkan sholat wajibnya, tidak perlu. Karena puasa ramadhan adalah ibadah yang sifatnya tahunan sehingga meng-qadhanya adalah hal yang ringan. Sedangkan shalat wajib adalah ibadah yang sifatnya harian sehingga meng-qadhanya selama 7 hari -misalnya bagi wanita haidh- adalah hal yang memberatkan. Sementara di antara sifat ajaran Islam adalah meringankan bukan malah memberatkan (HR. Bukhari no.321. Shahih; Fatwa Dr. Shalih al Fauzan dalam At Tanbihat).
 
Berikut terdapat beberapa permasalahan menarik seputar qadha puasa ramadhan. Di antaranya:
 
Pertama
Qadha tidak harus berurutan harinya / tidak apa-apa selang seling (HR. Ibnu Abi Syaibah. Shahih dalam Taghliqut Ta"liq 3/186). Misalnya, si C hutang puasa 8 hari. Maka tidak apa-apa jika ia meng-qadha di ahad pertama pada hari senin, rabo, sabtu. Kemudian di ahad ke tiga dan seterusnya hingga lunas.
 
Kedua
Jika ada orang tua yang meninggal dunia dan masih memiliki hutang puasa ramadhan, maka wali atau anaknya tidak meng-qadhakan puasanya. Namun cukup memberikan makan kepada fakir miskin sejumlah hari yang ditinggalkan/fidyah (HR. ath Thahawi no.3/142. Shahih). 
 
Misalnya, si A meninggal dunia dan masih hutang puasa ramadhan 10 hari. Maka walinya memberikan makanan  kepada 10 fakir miskin. Makanan tersebut sesuai jenis makanan pokok di negeri tersebut. Kalau di tempat kita ya beras dengan ukuran 3 kg/1 sho. Akan lebih baik jika ditambah lauk pauk (Syarh Mumti karya Ibnu Utsaimin 2/22). Ibnu Utsaimin menambahkan, solusi membayar fidyah bisa dengan mengundang 10 orang fakir miskin tersebut kemudian memberi mereka makan (Syarh Mumti). Atau ditraktir ke restoran/warung makan, juga tidak apa-apa. Cukup sekali traktiran sudah bisa menggugurkan hutang puasa-nya. 
 
Jadi, teknis nyarutangnya dikembalikan kepada kemampuan walinya. Mau diberi beras dan lauk pauk mentah/diundang ke rumah kemudian diberi makan/ditraktir makan ke restoran, silahkan, mana yang lebih simpel dan mudah.
 
Ketiga
Jika dalam contoh nomor dua di atas ternyata si A juga memiliki hutang puasa nadzar, maka disyariatkan wali-nya meng-qadhakan puasa tersebut (HR. Ibnu Hazm dalam al Muhalla 7/7. Shahih). Jadi, cukup qadha saja dan  tidak memberi makan kepada fakir miskin.
 
Keempat
Seorang muslim yang sengaja tidak puasa ramadhan sama sekali tanpa alasan yang dibenarkan secara syariat, misalnya karena malas. Maka tidak ada qadha karena ia telah berbuat dosa. Disarankan untuk bertaubat dengan taubat yang nashuha dan memperbanyak amal shalih semisal puasa sunnah (Kutub wa Rosa-il lil Utsaimin no.172/68; Fatawa Masyhur bin Hasan Ali Salman no.53, Maktabah Syamilah)
 
Kelima
Orang yang punya hutang puasa namun ia tidak meng-qadha nya hingga datang ramadhan berikutnya padahal ia sebenarnya mampu meng-qadha. Maka solusinya, ia wajib bertaubat, tetap diqadha sejumlah hari yang ditinggalkan plus membayar fidyah sesuai jumlah hari yang ditinggalkan (Fatwa Lajnah Daimah, Saudi Arabia). Teknis pembayaran fidyah sama dengan penjelasan pada poin ke dua.
 
Keenam
Tidak apa-apa menggabungkan niat puasa qadha ramadhan dengan puasa sunnah lainnya kecuali puasa syawwal (Fatwa Lajnah Daimah, Saudi Arabia; Fatwa Ibnu Utsaimin; Fatwa ash Shiyam no.438). 
 
Misalnya, si B memiliki hutang puasa ramadhan 4 hari dan dia ingin melunasinya mulai dari hari senin sampai kamis. Sementara di lain sisi si B juga punya kebiasaan puasa senin dan kamis. Maka dalam kasus ini, ketika si B meng-qadha puasa ramadhan pada hari senin maka ia bisa sekaligus meniatkan untuk puasa sunnah hari senin. Jadi ia akan mendapatkan dua jenis pahala yaitu pahala dari qadha puasa ramadhan dan puasa sunnah senin-nya. Begitu juga saat ia puasa di hari kamis.
 
Ketujuh
Terkait waktu qadha, jika memungkinkan disegerakan tentu lebih baik (QS. Al Imron ayat 133 dan Al Mukminun ayat 61). Misalnya, segera diqadha di bulan syawwal. Setelah itu lanjut puasa syawwal.
 
Kedelapan
Qadha puasa ramadhan dulu atau puasa syawwal dulu? 
 
Ibnu Utsaimin -ahli fiqih dari Saudi Arabia- merekomendasikan qadha dulu kemudian diikuti puasa syawwal agar bisa mendapatkan keutamaan puasa selama satu tahun sebagaimana dalam hadits shahih Muslim no.1164 (Liqa"at Bab al-Maftuh). Namun, tidak apa-apa mengakhirkan qadha hingga bulan Sya"ban (HR. Bukhari 4/166. Shahih). 
 
Maka, qadha puasa ada dua opsi. Pertama, jika ingin mendapatkan keutamaan puasa 1 tahun penuh, qadha dulu kemudian baru puasa syawwal. Kedua, jika memang benar-benar sibuk/tidak memungkinkan qadha di bulan syawwal, maka tidak apa-apa menundanya dan diqadha di selain bulan syawal. Sayangnya, opsi kedua ini tidak akan mendapatkan keutamaan seperti opsi pertama.
 
Kesembilan
Lansia yang sudah tidak mampu puasa ramadhan disyariatkan untuk membayar fidyah sesuai jumlah hari yang ditinggalkan dan tidak meng-qadha puasa (HR. Daruquthni no.2/207. Shahih). Teknis membayar fidyah sama dengan poin kedua.
 
Bulan ramadhan sebentar lagi akan segera datang, Insya Allah. Maka, pastikan bahwa kita sudah tidak memiliki hutang puasa.
 
Semoga Allah subhaanahu wa taala senantiasa memudahkan ibadah puasa ramadhan kita di tahun ini dan yang akan datang.